DESA Jeladri, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan memiliki kisah yang panjang.
Jauh sebelum menjadi sebuah desa, wilayah setempat merupakan kawasan hutan lebat. Meski begitu, letaknya tidak jauh dari perkampungan penduduk.
Cikal bakal menjadi tempat tinggal, bermula dari sejumlah warga yang melakukan pelarian.
Mereka kabur ke hutan, lantaran untuk menghindari kekejaman penindasan penjajahan kolonial.
Hutan tersebut menjadi tempat persembunyian bagi masyarakat pribumi, sekitar tahun 1800-an silam.
Mereka tinggal di hutan, dengan berpencar. Untuk menghindari, tempat mereka diketahui penjajah.
Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak yang menempati hutan tersebut.
Mereka kemudian membentuk sebuah komunitas masyarakat desa baru. Dari situlah, nama Jeladri akhirnya lahir.
Beberapa orang ada yang mengatakan, kata Jeladri merupakan istihal Jawa. Dengan sebutan Nyelandri. Artinya, seperti pohon yang berbuah tidak teratur atau bersamaan.
Adapula yang menyebut asalnya dari kata Lari. Sehingga, masyarakat di sana kemudian menyimpulkan dua istilah kata tersebut menjadi Jeladri.
“Sejak itulah, terbentuk desa baru yang masyarakatnya memiliki tempat terpisah-pisah dan terpencar. Mereka berasal dari berbagai unsur budaya dan agama serta suku,” jelas Sekretaris Desa Jeladri, Mukhammad Ikhsan.
Kala itu, Desa Jeladri masih terpisah menjadi dua daerah. Yaitu Jeladri Selatan dan Jeladri Barat.
Jeladri Selatan disebut-sebut dihuni banyak masyarakat yang menganut faham kepercayaan animisme dan dinamisme.
Sedangkan daerah Jeladri Barat, dihuni masyarakat yang sudah banyak memeluk agama Islam. Luas Desa Jeladri sendiri 196,3 hektare.
“Semakin berkembangnya zaman, kini penduduk sudah ramai,” ujarnya.
Riwayat Penamaan Enam Dusun
Seiring berjalannya waktu, masyarakat Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, semakin berkembang.
Hal itu turut melahirkan wilayah-wilayah baru yang dinamakan dusun di kawasan Desa Jeladri.
Setidaknya, ada enam dusun di Desa Jeladri saat ini. Padahal sebelumnya, hanya ada dusun. Yakni Dusun Sentono Barat dan Dusun Sentono Timur.
Nama Sentono diambil dari sebuah makam yang dikeramatkan penduduk Jeladri Barat dan diyakini sebagai makam yang bernama Mbah Bodhong.
Ia merupakan leluhur masyarakat desa, yang konon dahulu semasa hidupnya, memiliki kuda bodhong yang sangat sakti.
Sedangkan empat dusun lainnya, berupa Dusun Tegal Poh, Dusun Watu Gede, Dusun Beringin dan Dusun Karang Ploso.
Penamaan Dusun Tegal Poh, karena konon daerah ini banyak ditumbuhi pohon mangga yang sangat lebat.
“Sehingga nama tersebut melekat hingga diambil untuk menamai sebuah dusun,” ujar Sekretaris Desa Jeladri, Mukhammad Ikhsan.
Sementara penamaan Dusun Watu Gede, lantaran di daerah ini banyak bebatuan.
Dahulu, kata Ikhsan-sapaannya- di daerah ini sangat banyak batu besar. Sehingga masyarakat mengenal daerah tersebut watu gedhe.
Karena keterbiasaan itulah, akhirnya daerah tersebut dijuluki Watu Gedhe dan digunakan menjadi nama dusun.
Sedangkan untuk Dusun Beringin, tak lepas dari tumbuhnya sebuah pohon beringin berukuran besar.
Pohon tersebut tumbuh di tengah perbatasan antara Desa Jeladri dan Cukur Guling, Kecamatan Lumbang.
Dan penamaan Dusun Karang Ploso, berasal dari Bahasa Madura, plasaan yang arinya daerah plosok atau terpencil yang dihuni oleh orang dari berbagai daerah.
Nama tersebut kemudian melakat menjadi Karang Ploso dan dijadikan nama dusun.
“Hingga saat ini, Desa Jeladri terbagi menjadi enam wilayah atau dusun, dari yang semula hanya dua dusun,” beber dia. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin