DI balik sejuknya udara pegunungan dan hijaunya perbukitan Argopuro, Desa Gondosuli, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, menyimpan kisah panjang dan kelam.
Kekerasan menghantui, hingga akhirnya mereka bangkit untuk bersama-sama membangun kehidupan lebih baik.
Sekretaris Desa Gondosuli, Kecamatan Pakuniran, Syamsuri, menuturkan dahulu wilayah ini, hanyalah hamparan bukit sunyi yang ditumbuhi pepohonan liar. Kondisi itu, jauh dari hiruk pikuk kehidupan.
“Konon, pada masa dahulu, Gondosuli masih berupa hutan lebat. Penduduk bisa dihitung dengan jari. Pakaian mereka pun hanya selembar goni yang menutupi tubuh,” katanya.
Menurut Syamsuri, kehidupan masyarakat kala itu, amat memprihatinkan. Penyakit seperti cacar dan kudis merajalela.
Sementara perkelahian antarwarga, kerap berujung pada pertumpahan darah.
“Warga hidup tanpa arah. Kepala desa waktu itu, belum memahami arti pemerintahan. Sebab masih terbawa watak kerajaan masa lalu,” jelasnya.
Namun, secercah harapan mulai muncul, ketika para sesepuh dan kiai bangkit menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual.
Gerakan ini menjadi benteng batin masyarakat, saat menghadapi gejolak nasional. Termasuk ancaman G30S/PKI.
“Dari situ, mental masyarakat mulai tumbuh. Mereka belajar tentang arti gotong royong serta tentang pentingnya kebersamaan,” kata Syamsuri.
Setelah keadaan aman, masyarakat mulai membangun dari bawah. Jalan dusun diperbaiki, sungai dan irigasi dibersihkan, dan lingkungan mulai ditata.
Meski sekolah dan puskesmas belum ada, kesadaran akan pentingnya pendidikan mulai tumbuh.
“Waktu itu, hanya ada madrasah kecil dengan guru seadanya. Tapi dari sanalah cahaya ilmu mulai menyala,” tutur Syamsuri penuh haru.
Kini, setiap jengkal tanah Gondosuli menyimpan jejak perjuangan panjang dari masa gelap menuju terang.
“Kami ingin generasi muda tahu, bahwa kemajuan yang mereka nikmati hari ini, lahir dari peluh dan doa para leluhur,” papar Syamsuri.
Kebangkitan Desa Gondosuli
Setelah melewati masa-masa suram yang dipenuhi pergolakan dan ketertinggalan, kini Desa Gondosuli mulai menapaki babak baru pembangunan yang menggembirakan.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Muhammad, semangat kebersamaan masyarakat tumbuh subur, menggantikan rasa curiga dan perpecahan yang dahulu sempat mengakar.
Sekretaris Desa Gondosuli, Syamsuri, menuturkan bahwa pergantian kepemimpinan membawa angin segar bagi desanya.
“Hingga Muhammad yang menjabat kepala desa saat ini, suasana desa menjadi lebih tentram dan damai. Warga mulai percaya pada pemerintah dan mau ikut serta dalam setiap program pembangunan,” ujarnya.
Syamsuri menambahkan, berbagai proyek mulai dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat.
Dari pembangunan gedung sekolah, puskesmas, hingga perbaikan jalan dusun, semua kini bisa dinikmati warga Gondosuli.
“Termasuk perbaikan plengsegan hingga penanganan jalan makadam di Dusun Kletek, akhirnya bisa terealisasi” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan itu tak hanya diukur dari bangunan fisik. Tetapi juga dari perubahan mental masyarakat.
Warga yang dahulu cenderung apatis, kini mulai peduli terhadap lingkungan dan pendidikan anak-anak mereka.
“Memang masih ada segelintir masyarakat yang belum paham, tapi lambat laun kesadaran itu tumbuh. Kami yakin, desa ini akan semakin mandiri,” kata Syamsuri penuh optimisme.
Ia menegaskan, kerja sama antara pemerintah desa dan warga kini terjalin erat.
Forum musyawarah dijalankan secara terbuka, melibatkan tokoh masyarakat dari berbagai dusun.
“Kami belajar dari masa lalu. Dahulu keputusan hanya formalitas, sekarang semua suara warga kami dengar,” ucapnya tegas.
Syamsuri berharap, semangat gotong royong ini tetap terjaga. “Gondosuli yang dahulu dikenal angker kini menjadi desa yang ramah, penuh kehidupan, dan harapan. Inilah wajah baru kami, Desa Gondosuli yang tumbuh dari luka menjadi cahaya,” tutupnya dengan senyum bangga. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin