Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hikayat Hajatan Arebbuan, Tradisi Berebut Berkah saat Momen Maulid Nabi

Muhamad Busthomi • Sabtu, 27 September 2025 | 21:20 WIB
BEREBUT: Warga Dusun Krajan, Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan saat mengikuti hajatan Arrebuan di lingkungan setempat.
BEREBUT: Warga Dusun Krajan, Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan saat mengikuti hajatan Arrebuan di lingkungan setempat.

SETIAP kali bulan Rabiul Awal tiba, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW menggema di berbagai penjuru Nusantara.

Di kota besar, masyarakat merayakannya dengan pengajian akbar dan lantunan salawat.

Di pedesaan Jawa, ada tumpeng yang dibagikan kepada tetangga. Di Madura, tradisi manaqib dan jamuan besar menjadi penanda.

Namun, di Pasuruan, daerah yang dikenal sebagian wilayahnya pendalungan –pertemuan budaya Jawa dan Madura– ada cara unik untuk memeriahkan Maulid Nabi.

Namanya tradisi Arebbuan. Kata ini berasal dari bahasa Madura, artinya berebut.

Dan benar, yang terjadi adalah pesta rakyat berupa rebutan barang-barang yang digantung di tiang bambu setinggi enam meter.

Di Dusun Krajan, Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, misalnya. Ratusan warga berbondong-bondong menuju musala, Kamis malam (4/9) lalu.

Sejak sore, anak-anak sudah berlarian sambil menunjuk tiang bambu yang disebut warga sebagai ancak.

GUYUB: Tak sekadar pesta rakyat biasa, ada nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Arebbuan. Yakni mengharapkan keberkahan. Serta bisa kumpul bersama warga lainnya.
GUYUB: Tak sekadar pesta rakyat biasa, ada nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Arebbuan. Yakni mengharapkan keberkahan. Serta bisa kumpul bersama warga lainnya.

Di pucuknya, berjejer aneka barang: sarung, celana, baju, hingga uang receh yang dibungkus rapi dalam plastik.

Begitu pembacaan salawat selesai, suasana berubah. Tanpa aba-aba, warga berhamburan mendekati ancak.

Ada yang melompat, ada yang memanjat pundak temannya, ada yang nekat menerobos kerumunan.

Tawa, sorak, dan teriakan memenuhi udara. Halaman musala mendadak seperti arena hiburan.

M. Yunus, warga setempat, menjelaskan bahwa semua barang itu adalah hasil sumbangan sukarela masyarakat.

“Yang ikut hanya warga lingkungan sini. Maulid Nabi digelar di banyak musala, tapi tidak semuanya ada acara rebutannya,” katanya.

Bagi mereka, Arebbuan adalah puncak kegembiraan. Mereka bukan sekadar mencari barang.

Tetapi juga merayakan keberkahan kelahiran Nabi dengan cara yang penuh tawa dan sorak.

 

Memiliki Makna yang Dalam

Sekilas, Arebbuan terlihat seperti pesta rakyat biasa. Warga berebut barang, siapa cepat dia dapat.

Tapi bagi masyarakat Krajan, tradisi ini punya makna lebih dalam. Barang-barang yang digantungkan di ancak tidak dipilih sembarangan.

Sarung melambangkan kesalehan, karena identik dengan ibadah di masjid. Pakaian, menandai kerapian dan kehormatan seseorang.

Uang receh, meskipun kecil nilainya, adalah simbol rezeki yang harus diperjuangkan.

Bahkan sebuah kaos lusuh tetap berarti, karena yang terpenting bukan nilainya, melainkan keberkahan yang menyertai.

“Bukan soal dapat apa. Yang penting ikut rame, bisa ketawa bareng, bisa kumpul,” kata Sutrisno, salah satu warga Dusun Krajan, Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, yang turut serta hampir dalam setiap momen Arrebuan di kampungnya.

Baginya, Arebbuan adalah momen membaurkan semua perbedaan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua bercampur jadi satu, merasakan kegembiraan yang sama.

Tradisi ini selalu diawali dengan doa bersama. Warga duduk rapi di musala, melantunkan salawat. Setelah itu, barulah ancak ditegakkan dan rebutan dimulai.

Abdul Majid, tokoh pemuda desa setempat mengatakan, tradisi Arebbuan terus dijalankan, diceritakan, dan diwariskan.

Bahkan momentum itu menghidupkan kembali memori kolektif. Bagi yang tua, ia mengingatkan masa muda.

Bagi yang muda, ia menjadi pengalaman yang kelak akan diceritakan kepada anak cucu.

“Inilah yang membuat Arebbuan berbeda dengan pesta rakyat biasa. Ada nilai spiritualnya, ada rasa syukur yang melandasi,” jelas Abdul Majid.

Tradisi ini, mempertemukan dua generasi dalam satu arena kegembiraan. Maka tak heran jika banyak warga menganggap Arebbuan sebagai perekat sosial yang memperkuat kebersamaan.

 

Bertahan di Tengah Arus Zaman

Tak ada catatan pasti kapan Arebbuan pertama kali digelar. Cerita turun-temurun dari para sesepuh hanya menyebut bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa kakek buyut mereka.

Dari generasi ke generasi, Arebbuan terus bertahan, hingga akhirnya melekat sebagai identitas Maulid Nabi di wilayah pendalungan Pasuruan.

Pasuruan memang unik. Di satu sisi, masyarakat Jawa menekankan ketenangan dalam peringatan Maulid, biasanya dengan pengajian dan slametan.

Di sisi lain, pengaruh Madura menghadirkan warna berbeda: ekspresif, riuh, dan penuh perebutan rezeki.

Dari pertemuan dua budaya inilah lahir Arebbuan, sebuah bentuk perayaan yang memadukan doa dengan tawa, kesakralan dengan keriuhan.

Tradisi ini menunjukkan bahwa warisan budaya bisa hidup berdampingan dengan zaman modern.

“Lebih-lebih di era sekarang, banyak tradisi mulai ditinggalkan. Tapi Arebbuan justru bertahan,” kata Abdul Majid, tokoh pemuda Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.

Ia menyebut, setiap tahun warga tetap menunggu-nunggu acara ini. Kebersamaan adalah kunci.

Seperti diungkapkan Umi Kulsum, warga yang malam itu pulang dengan beberapa baju dan uang receh.

Alhamdulillah, dapat Rp 36 ribu. Tapi yang lebih penting bisa kumpul bareng, ikut meriahkan acara,” ujarnya sambil tersenyum.

Arebbuan bukan sekadar hiburan, melainkan cermin identitas masyarakat pendalungan.

Ia menyatukan warga dalam semangat syukur, melestarikan memori kolektif, dan memperlihatkan bahwa tradisi lokal bisa tetap hidup meski dunia berubah.

Dari halaman musala yang sederhana, tradisi ini menyampaikan pesan, bahwa kebersamaan adalah anugerah terbesar dalam merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pasuruan #maulid nabi #tradisi