BANYAK legenda mengakar kuat di tengah masyarakat, yang dipercaya hingga lintas generasi.
Salah satunya persinggahan Kiai Joyo Lelono saat mengembara melewati Desa Paras, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo yang lokasinya hingga kini dikeramatkan warga.
Paras merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tegalsiwalan. Lokasinya tergolong cukup pelosok, namun masih dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.
Desa yang dikenal karena keberadaan sebuah mata air jernih yang oleh warga setempat dinamakan Tirta Dewi Paras nan Ayu ini.
Rupanya memiliki legenda yang hingga kini tumbuh subur dan dipercaya oleh masyarakat. Yakni kisah Kiai Joyo Lelono yang pernah mengembara melewati desa.
“Warga percaya bahwa Desa Paras menjadi salah satu wilayah tempat singgah Kiai Joyo Lelono,” kata Wirso, 54, perangkat Desa Paras mengawali cerita.
Dikisahkan, dahulu kala saat Desa Paras masih berupa hutan belantara, datanglah Kiai Joyo Lelono, seorang pengembara yang gagah perkasa.
Pengembara ini datang dari arah utara menuju ke selatan untuk mencari jati diri dan ketenangan batin.
Setelah melakukan perjalanan panjang, kemudian merasa letih. Akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Namun karena lingkungan cukup nyaman, akhirnya Kiai Joyo Lelono memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah hutan yang saat ini dikenal dengan sebutan Kramat di Dusun Krajan.
Selama singgah, pengembara ini berinteraksi dengan warga. Tak lama kemudian setelah tubuhnya merasa bugar dan rasa letih mulai hilang, Kiai Joyo Lelono kemudian melanjutkan perjalanan mengembaranya ke arah selatan.
Setapak demi setapak, ruas jalan dilaluinya. Ruas jalan yang ditempuh tidak selalu baik.
Awalnya, ruas jalan cukup landai, karena berupa dataran. Lalu medannya menjadi lebih menantang.
Kiai Joyo Lelono harus menuruni curah dan melewati sungai kecil. Selanjutnya kembali naik ke atas.
Setelah naik ke daratan Kiai Joyo Lelono kemudian naik ke atas bukit kecil dan beristirahat. Lokasi tersebut saat ini bernama Gumuk di Dusun Darungan Wetan.
“Setelah singgah sejenak, perjalanan mengembara dilanjutkan. Kiai berjalan kaki sekitar 1 kilometer. Lalu beristirahat sebentar di Gumuk untuk menyeka keringatnya. Kemudian kembali melangkahkan kaki,” ucapnya.
Kiai Joyo Lelono menyusuri jalan setapak di tengah hutan belantara, dengan medan naik turun dengan luka di tubuhnya.
Lalu sekitar 1 kilometer dari gumuk, tubuhnya mengalami luka dan berdarah.
Karena dipaksa terus melangkah, luka tersebut semakin parah hingga akhirnya darah dari tubuh yang luka tersebut, menetes ke tanah seperti buah bidara.
Lokasi tempat menetesnya darah tersebut, kini oleh warga dinamakan Kramat Bukol di Dusun Bligeen.
Namun saat darah tersebut jatuh, Kiai Joyo Lelono tidak menyadari. Sehingga terus melakukan perjalanan mengembaranya kearah selatan.
“Perjalanan pengembara ini dari utara ke selatan. Titik persinggahan pertama di Kramat, kemudian melanjutkan ke gumuk dan Kramat Bukol ini, tempat jatuhnya darah karena luka. Tidak tahu lukanya karena apa,” bebernya.
Wirso yang lahir dan besar di Desa Paras tersebut menambahkan, bahwa belum ada referensi kuat yang mengisahkan perjalanan Kiai Joyo Lelono saat melintasi Desa Paras. Termasuk siapa sebenarnya sosok kiai yang dihormati warga tersebut.
Namun sejak buyutnya dahulu, legenda perjalanan mengembara kiai termasyhur tersebut tumbuh subur dan masih tetap dipercaya masyarakat hingga saat ini. Bahkan, tiga lokasi tersebut dikeramatkan oleh masyarakat.
“Terlepas dari referensi yang kuat, masyarakat tetap percaya dengan apa yang sudah diwariskan leluhur. Sampai saat ini, tetap dihormati dan dijaga,” tuturnya.
Gelar Selamatan Setiap Tahun untuk Hormati Leluhur
Masyarakat begitu mempercayai bahwa Kiai Joyo Lelono pernah melintas dan singgah di Desa Paras.
Kepercayaan itulah yang kemudian membuat warga memberikan tanda pada tiga lokasi penting perjalanan Kiai Joyo Lelono saat mengembara.
Tanda tersebut berupa sebuah nisan di Kramat, Gumuk, dan Kramat Bukol. Tidak hanya itu lokasi tersebut didirikan sebuah bangunan agar tidak rusak.
Perangkat Desa Paras, Wirso mengatakan penandaan berupa nisan tersebut, merupakan salah satu wujud rasa hormat pada Kiai Joyo Lelono yang telah dianggap sebagai leluhur desa.
Dari tiga titik yang dikeramatkan tersebut, tempat pertama singgah di Desa Paras yaitu Kramat.
Begitu dihormatinya oleh warga, karena menjadi titik awal atau asal muasal Kiai Joyo Lelono menginjakkan kakinya di Desa Paras.
Saking hormatnya, warga membangunnya dengan bangunan permanen layaknya sebuah rumah. Sayangnya saat ini, sudah tidak dilengkapi atap.
“Paling dihormati dan dikeramatkan tempat singgah awal di Dusun Krajan. Bangunannya lebih bagus karena menjadi titik awal masuk desa,” ucapnya.
Sementara di Gumuk, warga memasang nisan sebagai penanda. Kemudian ditutup dengan bangunan semi permanen, dengan rangka bambu dan atap dari daun tebu.
Bangunan ini dibuat bukan tanpa alasan. Beberapa kali warga membangun lokasi tersebut dengan bangunan lebih bagus.
Tetapi entah kenapa, saat bangunan sudah jadi selalu rusak kena angin kencang.
Sebaliknya saat dibangun dengan rangka bambu dan atap dari daun tebu, tempat tersebut aman tidak pernah terkena bencana.
Kemudian di lokasi Kramat Bukol, warga juga memasang nisan yang dilengkapi dengan bangunan permanen, berukuran kecil untuk melindungi nisan tersebut. Juga agar tidak rusak dan sengaja dipindah oleh orang tak bertanggung jawab.
“Di semua lokasi ada beberapa pohon tua yang tumbuh tinggi besar. Warga mempercayai, bahwa pohon tersebut sudah ada sejak lokasi itu dilintasi Kiai Joyo Lelono,” tuturnya.
Wirso menuturkan, untuk menghormati leluhur serta menjaga keselamatan dan kesejahteraan desa, warga menggelar kegiatan selamatan setiap tahunnya.
Di Kramat di Dusun Krajan, dalam setahun warga melakukan selamatan dan doa bersama diiringi hiburan tayub.
Sementara di Gumuk yang berada di Dusun Darungan Wetan, warga menggelar doa bersama setiap satu Suro selepas Zuhur sebelum Asar.
Doa bersama ini, diikuti oleh warga yang menempati tiga dusun. Yakni Dusun Krajan, Darungan Wetan dan Darungan Kulon.
“Semua yang dilakukan oleh warga, merupakan wujud tradisi dan rasa hormat pada leluhur. Tetapi saat ini, kegiatan yang masih rutin dilakukan ada di Gumuk. Sementara di Kramat hanya hari-hari tertentu saja,” paparnya. (ar/one)
Editor : Jawanto Arifin