DI balik rimbunnya pepohonan dan desiran angin yang melewati hamparan sawah, Desa Widoro berdiri sebagai bukti keteguhan hati para leluhur.
Desa yang kini terletak di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo ini, menyimpan kisah panjang sejak abad ke-14, kala perpecahan mengguncang Kerajaan Majapahit.
Ketika istana Majapahit terbelah, karena perselisihan antara pendukung Putri Tungga Dewi dan Pangeran Bre Wirabumi pada tahun 1389, sebagian rakyat memilih meninggalkan tanah kerajaan.
Di antara rombongan itu, terdapat sepasang suami istri yang kelak menjadi cikal bakal lahirnya Widoro, yakni Kakek Kadim dan Nenek Kadim.
Dengan hanya berbekal keteguhan hati, mereka berjalan kaki berhari-hari menuju timur.
Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah tanah datar yang dipenuhi pohon perdu besar, pohon yang disebut Wit Doro oleh penduduk kala itu.
“Tempat itu begitu subur dan dilalui sungai yang jernih. Karena itulah, Kakek Kadim memilih menetap. Membangun kehidupan dari tanah yang masih perawan,” tutur Thoyyib, sekretaris Desa Widoro, sambil mengenang kisah turun-temurun.
Di tanah itu, perlahan, kehidupan bersemi. Dari sekumpulan rumah sederhana, tumbuhlah sebuah pedukuhan yang indah. Nama Wit Doro (pohon dori) pun menjadi penanda.
Dari situlah, lambat laun, lahir sebuah desa bernama Widoro, sebuah nama yang bukan hanya identitas, melainkan doa. Agar desa ini selalu kokoh seperti pohon yang menaunginya.
Kini, Widoro berkembang menjadi desa dengan enam dusun. Yakni Dusun Ghumok, Krajan, Sukun, Asem, Asem II, dan Krajan II.
Batas-batas wilayahnya berpadu dengan desa tetangga, Desa Sidomukti di utara, Desa Gebangan di timur, Desa Kedungcaluk di selatan, serta Desa Bulu di barat.
“Asal-usul Widoro, menjadi pengingat bagi kami. Bahwa desa ini, lahir dari ketabahan dan semangat kebersamaan. Karena itulah, nilai gotong royong masih kuat sampai sekarang,” sampainya.
Kisah Kakek Kadim dan Nenek Kadim terus hidup dalam cerita yang diwariskan.
Dari keterasingan dan pengembaraan panjang, lahirlah sebuah kampung halaman yang damai. Hingga hari ini, semangat itu masih berdenyut di setiap langkah warga Widoro.
Desa ini, bukan sekadar tempat tinggal. Melainkan juga warisan batin, tanah yang lahir dari doa dan keberanian untuk memulai kehidupan baru.
Estafet Kepemimpinan Desa Widoro
Sejarah Desa Widoro bukan hanya terbentang dari pohon dan tanah subur. Tetapi juga, dari tangan-tangan pemimpin yang menjaga kehidupan warganya.
Dari masa ke masa, estafet kepemimpinan desa ini menjadi kisah tersendiri. Penuh dedikasi dan cinta pada tanah kelahiran.
Setelah Kakek Kadim meletakkan fondasi awal kehidupan, muncul Mbah Seno sebagai kepala desa pertama pada tahun 1915.
Selama 25 tahun ia memimpin, menata kehidupan warga, hingga menyerahkan tongkat estafet kepada Sariwan, kepala desa kedua yang menjabat dari tahun 1940 hingga 1960.
Waktu terus berjalan. Tahun 1960, kepemimpinan diteruskan oleh Sarinoto, sosok yang mengabdikan diri hingga tiga dekade lamanya, sampai tahun 1991.
Setelahnya, Muklas hadir memimpin dari 1992 sampai 2008, membawa warna tersendiri bagi kemajuan desa.
Kepemimpinan lalu berlanjut pada Muhammad, yang menjabat dari 2008 hingga 2021, masa di mana pembangunan desa mulai berpacu dengan zaman.
Dan kini, sejak 2022, estafet itu berada di tangan Abdul Jalal, kepala desa keenam yang dipercaya warganya hingga tahun 2027 mendatang.
Menurut Thoyyib, setiap pemimpin memiliki kisahnya sendiri. “Dari Mbah Seno sampai Pak Jalal hari ini, mereka semua hadir dengan dedikasi yang sama, membangun Widoro dengan hati. Nama-nama itu bukan sekadar catatan, tetapi jejak pengabdian," ujarnya
Nama-nama tersebut menjadi penanda perjalanan panjang desa. Dari jalan desa yang dirintis, dari persawahan yang tetap hijau, hingga kehidupan sosial yang terus rukun. Semua adalah warisan dari kepemimpinan yang tulus.
Kini Widoro tumbuh sebagai desa dengan enam dusun yang berdampingan dalam harmoni.
Dari Ghumok hingga Krajan II, kehidupan masyarakatnya tidak hanya ditopang oleh alam. Tetapi juga oleh rasa kebersamaan yang terjaga.
“Estafet kepemimpinan itu seperti akar pohon. Terus meneguhkan batang dan ranting. Jika para pemimpin kuat, maka desa juga akan kokoh. Itulah yang kami rasakan di Widoro hingga hari ini,” ucap Thoyyib dengan penuh keyakinan.
Kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Melainkan panggilan jiwa. Dan di Widoro, panggilan itu terus berlanjut, menghidupi desa agar tetap lestari, tetap mendayu di hati warganya. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin