Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hikayat Kisah Pohon Maja, Dipercaya Menjadi Cikal Bakal Penamaan Kerajaan Majapahit

Achmad Arianto • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 20:15 WIB
LESTARI: Pohon maja di areal bangunan induk Candi Jabung. Pohon tersebut terpelihara dengan baik hingga sekarang.
LESTARI: Pohon maja di areal bangunan induk Candi Jabung. Pohon tersebut terpelihara dengan baik hingga sekarang.

POHON maja atau mojo mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat.

Pohon yang sering ditemukan di sekitar bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit ini, merupakan salah satu pohon bersejarah yang juga tetap lestari di Candi Jabung Kabupaten Probolinggo.

Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya peninggalan bangunan candi dan situs yang kondisinya masih cukup terawat.

Salah satunya adalah Candi Jabung yang terletak di Dusun Candi, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.

Bangunan tersebut didirikan sekitar tahun 1276 Saka atau 1354 Masehi. Pembangunannya direalisasikan zaman Raja Hayam Wuruk.

KLENIK: Tak hanya dipercaya memiliki khasiat obat. Pohon maja juga dipercaya menjadi tempat penyimpanan pusaka.
KLENIK: Tak hanya dipercaya memiliki khasiat obat. Pohon maja juga dipercaya menjadi tempat penyimpanan pusaka.
KOKOH: Keberadaan Candi Jabung yang merupakan warisan sejarah. Di sekitarnya, banyak pohon maja, yang dipercaya merupakan warisan Kerajaan Majapahit.
KOKOH: Keberadaan Candi Jabung yang merupakan warisan sejarah. Di sekitarnya, banyak pohon maja, yang dipercaya merupakan warisan Kerajaan Majapahit.

Dengan konstruksi berupa bata merah kuno, candi induk memiliki tinggi 16,20 meter, panjang 13,13 meter dan lebar 9,58 meter.

Saat dibangun Candi Jabung memiliki tiga fungsi. Selain tempat pemujaan, juga tempat persinggahan para raja dan keluarga kerajaan, dan tempat abu jenazah.

Konon abu jenazah Bhre Gundal yang masih keluarga Hayam Wuruk, berada di bilik bagian tengah candi induk.

“Candi Jabung dibangun pada Kerajaan Majapahit. Dipercaya sebagai bangunan suci,” kata Koordinator Pelestarian Cagar Budaya Candi Jabung, Abdurrahman, 51.

Uniknya, di sekitar bangunan candi ini, masih banyak pohon maja yang tumbuh subur.

Pohon ini memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Sebab, menjadi cikal bakal penamaan Kerajaan Majapahit.

Menurut kitab Pararaton, ketika raja pertama Majapahit Raden Wijaya hendak mendirikan kerajaan di Trowulan, pengikutnya memakan buah maja yang banyak tumbuh di situ.

Rupanya buah tersebut terasa pahit. Peristiwa ini, kemudian dipercaya menjadi cikal bakal nama Kerajaan Majapahit.

Karenanya, pohon maja menjadi simbol penting dalam sejarah Majapahit.

Keberadaannya di sekitar ibu kota kerajaan, menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki nilai ekologis dan budaya pada masa itu.

“Pohon maja ini, nilai sejarahnya cukup tinggi. Karena menjadi salah satu asal muasal penamaan Kerajaan Majapahit,” kisahnya.

Rahman-sapaan akrab Abdurrahman menambahkan, buah maja dan Candi Jabung memiliki hubungan erat.

Pasalnya, Candi Jabung merupakan bagian dari sisa kejayaan kerajaan majapahit.

Adanya pohon yang buahnya menyerupai jeruk berukuran besar ini, menjadi salah satu penanda.

Bahwa, bangunan candi merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yang saat ini masih terawat, lestari dan kondisinya masih kokoh.

Pada masa kerajaan Majapahit, Candi Jabung menjadi bangunan suci yang sering dikunjungi oleh raja dan keluarga kerajaan.

Pohon maja sendiri, tidak hanya berada di sekitar bangunan induk Candi Jabung.

Tak jauh dari candi induk, sekitar 150 meter arah barat daya terdapat sebuah bangunan. Masyarakat banyak menyebutnya dengan sebutan Candi Sudut.

Candi tersebut memiliki tinggi 6 meter dan panjang maupun lebar yang sama yakni 2,5 meter.

Bangunan ini merupakan bagian dari areal Candi Jabung yang bentuknya masih tampak baik dan terawat.

Di sana, pohon maja juga tumbuh subur bahkan menjadi satu-satunya pohon maja paling tua di Candi Jabung.

Pada bangunan Candi Sudut yang sejatinya merupakan pagar pembatas candi ini, terdapat relief Kala pada empat sudutnya. Relief ini berada tepat di atas tatanan batu bata, menyerupai pintu.

Relief ini melambangkan pelindung bangunan dari hal-hal jahat. Juga ada relief bunga padma atau teratai yang melambangkan kemakmuran.

Namun relief bunga ini hanya ada pada sisi luar yakni sisi sebelah barat dan selatan.

“Pohon maja ini merupakan penanda bangunan dan situs peninggalan Kerajaan Majapahit. Tidak hanya di Candi Jabung dan Candi Sudut, bahkan hampir semua peninggalan Kerajaan Majapahit ditemukan pohon maja,” tuturnya.

 

Dipercaya Menjadi Tempat Penyimpanan Pusaka

Keberadaan pohon maja yang syarat dengan sejarah Kerajaan Majapahit semakin lama semakin berkurang.

Hal ini terjadi, lantaran banyak yang ditebangi, imbas tidak mengerti fungsi dan filosofi yang terkandung didalamnya.

Bukan hanya itu, pohon yang usianya sudah tua, memiliki batang lapuk. Sehingga mudah tumbang terkena hujan disertai angin kencang.

Koordinator Pelestarian Cagar Budaya Candi Jabung, Abdurrahman, 51, mengatakan sejatinya pohon maja tumbuh subur dan alami di sekitar candi.

Bahkan saking suburnya pohon ini, sampai-sampai tidak tertata rapi.

Lalu penataan dilakukan agar areal candi lebih tertata dan enak dipandang tidak terkesan angker.

Sehingga, pohon yang terlihat tidak rapi dan mengganggu bangunan candi ditebang.

Kemudian diikuti dengan penanaman pohon baru pada lokasi yang telah ditentukan.

“Dahulu di sini (areal Candi Jabung, red) ada puluhan pohon. Memang dari juru pelihara terdahulu disuruh merawat. Tetapi karena tidak beraturan, maka dilakukan penataan ulang,” katanya.

Penataan ulang tersebut dilakukan secara bertahap, mulai tahun 1983. Tepi Candi Jabung dan Candi Sudut ditanami pohon maja.

Dengan titik penanaman, jauh dari bangunan candi. Ini dilakukan, agar kelak ketika pohon telah tumbuh besar, tidak mengganggu bangunan.

Sebab, berpotensi merusak bangunan induk Candi Jabung dan Candi Sudut.

Rahman-sapaannya- menjelaskan pohon maja yang ada di area Candi Jabung saat ini, sudah tidak alami.

Artinya, bukan buah maja sisa pohon maja bawaan seumuran candi.

Tetapi merupakan bibit pohon yang sengaja dibawa dari Trowulan untuk dilestarikan di Candi Jabung sebagai identitas bangunan peninggalan kerajaan Majapahit.

Hingga kini, penanaman pohon baru terus konsisten dilakukan. Penanaman ini dilakukan, untuk menjaga kelestarian pohon yang memiliki nilai histori ini.

“Dapat dikatakan, pohon maja di sini (Candi Jabung, red) hasil tanam ulang. Di Candi Jabung total ada 15 pohon maja. Pohon paling tua, usianya sekitar 40 tahunan ada di Candi Sudut. Yang seumuran pohon itu, sudah tidak ada karena banyak yang tumbang,” jelasnya.

Pria yang hobi bersepeda ini menuturkan, pohon maja dipercaya masyarakat sekitar memiliki berbagai macam khasiat bidang medis. Mulai dari pengobatan darah tinggi dan asam urat.

Tak heran, jika banyak warga yang datang meminta izin juru pelihara mengambil daun dan buah maja untuk pengobatan.

Masyarakat sudah percaya dan meyakini, dapat menyembuhkan penyakit. Walaupun demikian, masih perlu dilakukan penelitian lebih mendalam.

Beberapa masyarakat juga mempercayai, bahwa pohon maja yang sudah berusia puluhan tahun, menjadi tempat penyimpanan pusaka kasat mata.

Terlepas dari semua klenik yang dipercaya oleh masyarakat, pohon maja benar-benar dijaga oleh juru pelihara Candi Jabung.

“Kalau masalah klenik memang masih ada. Pohon maja tua, dipercaya masyarakat ada pusakanya. Karena itulah, selain menjaga kelestarian pohon kami juga menjaga agar tidak disalahgunakan,” sampainya. (ar/one)

Editor : Jawanto Arifin
#pohon maja #kerajaan #candi jabung #majapahit