PILANG adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Terbentuknya Kelurahan Pilang tidak serta merta terjadi begitu saja. Dahulu, kelurahan ini masih jadi alas atau hutan rimba tak berpenghuni.
Sampai suatu ketika, datanglah pemuda dari Pulau Madura yang saat ini dikenal dengan sebutan Kiai Basir.
Dia lah orang membabat alas di Kelurahan Pilang sampai akhirnya bisa ditempati dan kini sudah makin padat penduduk.
Nama Kiai Basir diambil dari kata “Pasir”. Sebab perannya menjaga Kelurahan Pilang yang saat itu, didatangi banjir besar dari Sungai Brantas.
Konon, untuk menghalau banjir agar tak sampai ke rumah-rumah penduduk, Kiai Basir menanggulnya dengan pasir.
Karenanya, nama itupun dilekatkan pada sosok yang berjasa atas munculnya kelurahan ini.
Setelah meninggal Kiai Basir pun akhirnya dimakamkan di pemakaman keluarga yang masih satu arena dengan pemakaman Bupati Kraksaaan pertama, yakni di sebuah pemakaman muslim di Jalan Brantas, Kelurahan Pilang.
Menurut Juru Kunci, Anang, Kiai Basir dianggap sebagai sosok yang berjasa. Hal ini, membuat makamnya tak pernah sepi. Selalu ada saja orang yang datang untuk berziarah.
Umumnya, saat Kamis malam atau malam Jumat. Kedatangan peziarah ini juga bukan tanpa maksud. Kebanyakan yang datang, memiliki niat khusus dalam hati.
“Banyak yang datang punya tujuan. Ada saja yang didoakan mau baik ada yang juga yang buruk seperti untuk togel. Tapi itu zaman dulu,” ujarnya.
Kata Anang, tak sedikit dari mereka yang harapannya terkabul, jika betul-betul khusuk berdoa.
Ada juga yang tak kuat menahan godaan dan berakhir berlari terbirit-birit.
Tak Lagi Angker
Tempat Kiai Basir dimakamkan, begitu rimbun. Banyak pohon termasuk bambu yang tumbuh di kawasan setempat. Bahkan, dahului makam itu dianggap angker.
Sebab konon di pohon-pohon itulah sosok misterius tinggal. Mereka adalah mahluk-mahluk tak kasat mata, yang kemudian mengganggu mereka yang berdoa dengan niat-niat khusus tersebut.
Anang, juru kunci makam mengungkapkan, sejak kisaran tahun 2020 lalu, warga gotong-royong membersihkan pepohonan di sekitar pemakaman.
Tujuannya, untuk membersihkan makam, agar terlihat lebih rapi. Sejak itulah, cerita menakutkan tentang mahluk-mahluk yang tinggal di pohon dan rumpun bambu mulai hilang.
Masyarakat juga sudah tidak ada yang bertapa atau berdoa di pesarean Kiai Basir.
Mungkin karena semakin lama, zaman juga semakin berubah. Termasuk kepercayaan terhadap hal mistis.
“Sekarang ya keluarga atau masyarakat berdoa biasa. Malam Jumat ziarah, gitu saja,” ungkapnya.
Kiai Basir sendiri memiliki anak yang juga berperan penting terhadap syiar agama Islam di Kelurahan Pilang, bernama Kiai Lembung. Dia dimakamkan dekat dengan makam sang ayah.
Konon, mereka memiliki pesantren. Namun pesantren itu, kemudian hilang dan sampai saat ini tidak ada jejak.
“Jejaknya itu yang sampai sekarang tidak ada. Sudah dikonfirmasi ke keluarga juga tidak ada,” terangnya. (ran/one)
Editor : Jawanto Arifin