AIR terjun Dewi Rengganis di Desa Guyangan, Kecamatan Krucil menjadi salah satu destinasi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Probolinggo.
Di balik keindahannya, air terjun ini memiliki sejarah yang mengakar kuat di lingkungan masyarakat.
AIR terjun Dewi Rengganis berlokasi di Dusun Jaran Goyang, Desa Guyangan, Kecamatan Krucil. Untuk sampai ke sana, pengunjung harus menempuh perjalanan sepanjang 3 kilometer ke arah barat rest area Desa Guyangan.
Ruas jalan ini sudah dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat.
Selanjutnya melintasi jalan sepanjang 2 kilometer, pengunjung akan tiba di tempat parkir khusus.
Namun perjalanan belum selesai. Pengunjung harus menempuh jalan setapak, sepanjang 350 meter dengan waktu tempuh 15 menit untuk sampai di lokasi air terjun.
“Air terjun cukup mudah dijangkau. Hanya saja kalau mau ke lokasi cuma bisa dijangkau dengan berjalan kaki,” kata Kepala Desa Guyangan, Hasyim.
Pemberian nama air terjun tersebut tidak terlepas dari legenda yang tumbuh subur di masyarakat.
Air terjun memiliki ketinggian sekitar 70 meter, dengan dikelilingi tebing berbatu yang dipercaya sebagai tempat pelarian Dewi Rengganis putri Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.
Menurut cerita, saat itu di kerajaan Majapahit sedang terjadi konflik. Hingga akhirnya Dewi Rengganis yang cantik rupawan, melarikan diri sampai ke sebuah wilayah yang saat ini bernama Desa Guyangan.
Ketika pelarian tersebut, wilayah masih berupa hutan belantara. Dengan tanaman didominasi oleh pepohonan liar yang tinggi menjulang.
Nahasnya saat pelarian itu, Dewi Rengganis menderita sakit. Dalam keadaan sakit, dia masih terus berjalan hingga ujung wilayah.
Kemudian menemukan sebuah air terjun. Sesampainya di pancuran air terjun, dia pun mandi dan bersemedi di pancuran air terjun tersebut. Hingga akhirnya, Dewi Rengganis sembuh dari sakitnya.
“Konon, Dewi Rengganis sembuh setelah semedi dan mandi di pancuran air terjun. Karena itulah, namanya abadi sampai sekarang,” ucapnya.
Hasyim menuturkan, jika air terjun tersebut diketahui oleh warga sekitar tahun 1760-an.
Saat ditemukan warga, kondisinya masih berupa hutan belantara. Aliran air terjun juga dimanfaatkan warga, untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Legenda Dewi Rengganis melekat kuat, di kalangan masyarakat sekitar Gunung Argopuro.
Bahkan tidak hanya Dewi Rengganis yang dikenal di kalangan para pendaki. Beberapa dayang-dayangnya pun juga dikenal.
Di antaranya dayang Dewi Selendang Biru yang sering dimintai pertolongan.
Sementara, ada juga beberapa dayang yang suka menggoda para pendaki pria dengan mengajak berkencan.
Sehingga, pendaki tersebut akan senang dan tidak mau meninggalkan Gunung Argopuro.
“Cerita tersebut turun-temurun dan tumbuh subur di masyarakat. Oleh sebab itu, kami tetap mempercayainya hingga saat ini,” tandasnya.
Dikenal Dengan Air Terjun Jaran Goyang
Mayoritas warga atau pengunjung menyebut, air terjun Dewi Rengganis adalah air terjun Jaran Goyang.
Padahal, dua nama air terjun tersebut berbeda letak dan sejarahnya, walaupun berada satu wilayah.
Air terjun Jaran Goyang berada sekitar 100 meter sebelum masuk ke areal air terjun Dewi Rengganis.
Memiliki tinggi sekitar 15 meter dan debit air yang sedikit. Tidak seperti air terjun Dewi Rengganis yang tinggi dan debit air cukup deras.
Perangkat Desa Guyangan, As’ad mengatakan pemberian nama air terjun tersebut terjadi, sejak zaman kolonial Belanda.
Saat itu, Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda mendengar bahwa di wilayah Kecamatan Krucil, terdapat sebuah air terjun yang cukup menawan. Lingkungan sekitar pun masih asri dan alami.
Mendengar hal itu, sang ratu kemudian tertarik untuk melihatnya langsung.
Bersama dengan rombongannya, ratu pergi ke hutan belantara yang saat ini bernama Desa Guyangan.
“Ratu Wilhelmina berkunjung ke air terjun bersama rombongan, menggunakan kuda. Menyusuri jalan setapak menuju lokasi air terjun,” katanya.
Namun sebelum sampai ke lokasi, rombongan dan kuda yang ditunggangi, beristirahat sejenak.
Saat istirahat itulah, untuk mengurangi rasa letih dan kembali segar, kuda yang ditunggangi ratu kemudian dimandikan.
Rupanya saat dimandikan, kuda justru tidak tenang, memberontak, dan susah dikendalikan.
Melihat kuda tersebut, rombongan yang mengawal ratu lantas menyebutnya air terjun yang semula tak bernama tersebut, dengan sebutan air terjun Jeren Gujeng (kuda yang memberontak).
Sejak saat itulah, warga menyebut air terjun Jeren Gujeng. Namun seiring berjalannya waktu, nama Jeren Gujeng kurang familiar di telinga. Sehingga lambat laun berubah menjadi air terjun Jaran Goyang.
“Air terjun Dewi Rengganis dan Jaran Goyang ini berbeda. Tetapi justru, masyarakat dan pengunjung lebih populer dengan air terjun Jaran Goyang,” tuturnya.
Sering Digunakan untuk Selamatan Desa
Air terjun Dewi Rengganis memiliki sejarah yang sangat kental dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat.
Tak heran, jika masyarakat setempat masih menganggap keramat air terjun tersebut. Bahkan, pada hari-hari tertentu digunakan sebagai lokasi selamatan.
Perangkat Desa Guyangan As’ad mengatakan, keramatnya air terjun tersebut karena legenda yang telah tumbuh subur.
Karenanya, pengunjung yang datang harus menjaga perilaku saat berwisata.
Salah satunya, tidak melakukan perbuatan asusila di sekitar air terjun. Tindakan ini, akan membuat penunggu wilayah menjadi marah.
“Pengunjung air terjun tentunya harus menjaga perilaku selama berkunjung. Tidak melakukan aktivitas mesum atau hal-hal negatif lainnya,” katanya.
Menjaga perilaku saat berkunjung tersebut, bukan hanya sekadar wujud rasa hormat.
Tetapi juga, bentuk kepatuhan pada norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Perbuatan negatif yang dilakukan, juga akan membuat air terjun yang saat ini menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Probolinggo tersebut, menjadi tercoreng. Hal ini akan berdampak pada jumlah pengunjung wisata.
As’ad menuturkan, di hari-hari tertentu selamatan dilakukan oleh warga. Bentuk selamatannya, berupa tetabuhan okol atau kentongan kayu.
Tetabuhan tersebut terus dimainkan sembari menempuh jalan setapak, sepanjang 350 meter dengan waktu tempuh 15 menit untuk sampai di lokasi air terjun Dewi Rengganis.
Tak jarang, warga membawa tumpengan sebagai wujud rasa syukur atas hasil bumi yang telah diberikan oleh Tuhan.
Serta berharap kedepannya, hasil bumi bisa lebih baik dan melimpah. Sehingga, memberikan kesejahteraan dan ketenteraman bagi masyarakat sekitar.
Di sisi lain okol yang dimainkan sebagai wujud kesenian masyarakat desa, menjadi salah satu kekayaan bidang seni budaya yang perlu dilestarikan.
Kesenian ini juga menjadi daya tarik bagi pengunjung wisata air terjun Dewi Rengganis.
“Adat, budaya, dan kesenian tetap dilestarikan. Ini merupakan potensi. Sekaligus menjadi magnet kunjungan wisatawan,” tandasnya. (ar/one)
Editor : Jawanto Arifin