DESA Kregenan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, menyimpan jejak sejarah panjang, sejak masa kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kawasan yang dulunya merupakan hutan belantara yang suci ini, disebut-sebut pernah menjadi tempat berkunjungnya salah satu waliyullah.
Sekretaris Desa Kregenan, Abdul Munir mengungkapkan, waktu itu belum tersematkan nama desa di wilayah ini.
Hanya segelintir orang yang mendiami kawasan hutan tersebut, dan akses ke dalamnya pun hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki.
Namun, ada satu kisah yang menjadikan desa ini istimewa. Yakni berkunjungnya seorang Wali.
“Yang istimewa, Wali penyebar Islam pertama datang ke daerah ini. Khususnya Dusun Sentana. Dia adalah Syeikh Maulana Ishaq, ayahanda dari Sunan Giri,” kisahnya.
Kedatangan Wali dari angkatan pertama Wali Songo ini, menjadi tonggak penting dalam perkembangan keagamaan dan budaya di kawasan yang kelak dikenal sebagai Desa Kregenan.
Meskipun Kerajaan Majapahit akhirnya runtuh, jejak spiritual yang ditinggalkan Wali tersebut, masih menjadi cerita turun-temurun warga desa.
Dalam ingatan masyarakat, Kregenan bukan sekadar nama. Melainkan titik awal dari sebuah peradaban kecil yang tumbuh dari sunyinya hutan, menjadi desa yang kini menempati lahan seluas 167,234 hektare.
Namun, bagaimana nama “Kregenan” itu muncul? Di sinilah kisah rakyat menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah resmi.
“Kalau bicara asal nama, kita masuk ke masa setelah Majapahit. Saat Belanda datang, dan di sinilah cerita rakyat menyatu dengan sejarah perjuangan,” ucap Munir sembari tersenyum.
Sejarah dan legenda berpadu dalam cerita Desa Kregenan. Dari jejak Wali Songo hingga perkelahian Tumenggung, Kregenan menjadi saksi diam dinamika tanah Jawa dari zaman kerajaan hingga kolonialisme.
Sebuah warisan yang terus hidup dalam napas warga desa hingga hari ini.
Tercipta dari Cinta dan Perkelahian
Cinta memang sering membawa pada kisah tak terduga. Begitu pula dengan kisah asal mula Desa Kregenan, sebuah desa yang namanya justru lahir dari sebuah pertengkaran hebat karena asmara.
Cerita rakyat ini, hidup dan diwariskan turun-temurun oleh para sesepuh, dan dikuatkan kembali oleh Sekretaris Desa Kregenan, Abdul Munir.
“Nama Kregenan berasal dari kata Kregingan, yang dalam bahasa Madura berarti pertengkaran atau perkelahian,” jelas Munir, membuka kisah klasik yang telah berusia hampir dua abad.
Kisah bermula dari seorang Tumenggung yang memimpin sekelompok kecil masyarakat di hutan belantara.
Ia masih jejaka dan tengah mencari permaisuri. Tak lama, ia mendengar tentang seorang janda cantik bernama Nyi Rondo yang tinggal di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Rondokuning.
“Tumenggung ini jatuh hati dan membawa lari Nyi Rondo ke dalam hutan. Tapi di tengah jalan, tepat di tempat yang sekarang menjadi Desa Kregenan, terjadi perkelahian antara Tumenggung dan pria lain yang juga menginginkan Nyi Rondo,” ujar Munir.
Peristiwa itu diyakini terjadi sekitar tahun 1833, di masa akhir perjuangan Pangeran Diponegoro.
Sementara Jawa sedang bergolak melawan penjajah Belanda, di hutan belantara ini, cinta dan perseteruan menciptakan sejarah lokal yang tak kalah dramatis.
“Karena perkelahian itu, tempat tersebut disebut orang-orang dahulu, sebagai Kregingan. Lama-kelamaan, berubah jadi Kregenan. Itulah awal mula nama desa ini,” tambahnya.
Kisah ini memang tak tercatat dalam buku sejarah resmi. Namun di hati warga Kregenan, cerita ini jauh lebih hidup.
Hal ini menjadi jati diri desa – pengingat bahwa bahkan dari konflik sekalipun, bisa lahir sesuatu yang abadi.
Kini, Desa Kregenan berdiri di atas tanah seluas 167,234 hektare, tak lagi menjadi hutan tanpa nama.
Melainkan desa yang kaya cerita dan sarat makna. Dari cinta, pertengkaran, hingga perjuangan semua bersemayam dalam nama “Kregenan”. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin