Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Punden Mbah Ndilem di Purwosari Pasuruan, Jejak Keturunan Mataram Pembuka Desa

Muhamad Busthomi • Sabtu, 28 Juni 2025 | 23:25 WIB
ASRI: Keberadaan Punden Mbah Ndilem yang diselimuti banyak pepohan rindang. Membuat kawasan setempat asri.
ASRI: Keberadaan Punden Mbah Ndilem yang diselimuti banyak pepohan rindang. Membuat kawasan setempat asri.

DI tengah hijaunya hamparan sawah Dusun Pucang Pendowo, Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, berdiri kokoh sebuah punden yang diselimuti kisah masa lalu.

Itulah Punden Mbah Ndilem, yang dinaungi dua atau tiga batang pohon beringin raksasa, seolah menjadi penjaga abadi jejak para pembabad desa.

Masyarakat setempat mengenal Mbah Ndilem sebagai sosok keramat, yang ditengarai masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Mataram. Punden ini bukan sembarang makam.

Di dalamnya, bersemayam jasad Mbah Sari Joyo Mulyo, atau yang lebih akrab disapa Mbah Ndilem, bersama para sesepuh desa lainnya seperti Mbah Sumirah dan Mbah Suminten, serta Mbah Mangunsari.

Mereka diyakini bukan tokoh sembarangan. Karena merupakan leluhur yang kemudian memilih untuk babad desa atau membuka dan mendirikan desa setempat.

TERAWAT: Bangunan punden Mbah Ndilem yang tampak terawat hingga sekarang.
TERAWAT: Bangunan punden Mbah Ndilem yang tampak terawat hingga sekarang.

Pada 2019, area punden ini dipercantik dengan pagar baru dan gapura bercorak Jawa, sebagai wujud perhatian terhadap kelestarian situs bersejarah ini.

Sekitar 50 meter dari gerbang utama, peziarah akan menemukan makam Eyang Mangunsari, yang tertua, berada di dalam bangunan yang bersih dan terawat.

Di belakangnya, tersedia pondokan sederhana sebagai tempat peristirahatan bagi mereka yang ingin berlama-lama merenung.

Selain makam para sesepuh, ada pula Musala Kasunyatan, sebuah tempat ibadah yang namanya berarti “kenyataan tertinggi”, menambah nuansa spiritual Punden Mbah Ndilem.

Juru kunci punden, Jirun, dengan setia menjaga dan menguak tabir sejarah tempat ini.

Ia menunjuk sebuah pohon bambu rimbun di sudut punden. “Banyak orang menyebutnya Bambu Ampel,” kata Jirun.

Konon, usianya sudah puluhan tahun dan keunikannya membuatnya berbeda dari bambu pada umumnya.

Seolah menjadi penanda khusus, keberadaan situs tersebut. Area punden ini sangat asri dan terawat berkat kepedulian masyarakat.

Selain itu pengunjung selalu diimbau untuk turut menjaga kelestariannya.

 

Jadi Jujukan Peziarah

Ada yang istimewa di balik keheningan Punden Mbah Ndilem di Dusun Pucang Pendowo, Desa Sumbersuko, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan.

Bukan hanya sebagai makam para leluhur pembabad desa. Namun juga sebagai pusat spiritual yang tak pernah sepi dari peziarah, terutama saat bulan Suro tiba.

Kisah misteri dan tradisi kuno, seolah hidup di bawah teduhnya beringin raksasa yang melindunginya.

Di salah satu sudut punden, sebuah pemandangan menarik tersaji: sebatang pohon bambu rimbun yang disebut Bambu Ampel.

Menurut juru kunci, Jirun, bambu ini telah berusia puluhan tahun dan memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari bambu biasa.

MUSALA: Sebuah musala yang berada di kawasan Punden Mbah Ndilem. Musala tersebut disiapkan untuk peziarah yang hendak menjalankan ibadah.
MUSALA: Sebuah musala yang berada di kawasan Punden Mbah Ndilem. Musala tersebut disiapkan untuk peziarah yang hendak menjalankan ibadah.

“Konon banyak pusaka-pusaka peninggalan di antara pepohonan bambu itu,” katanya.

Namun tak semua peziarah diperkenankan mengambilnya. Itu dilakuakn sebagai betuk penghormatan.

Dahulu, menjelang bulan Suro, Punden Mbah Ndilem menjadi pusat perayaan selamatan desa yang meriah.

Berbagai pertunjukan, mulai dari ujung hingga wayang kulit, menjadi tontonan yang dinanti.

Namun, tradisi agung itu kini tak lagi digelar dalam skala besar. Sudah bertahun-tahun lamanya.

Masyarakat desa kini menggantinya dengan syukuran yang lebih sederhana. Namun tetap dilaksanakan di Punden Mbah Ndilem.

Meski tradisi besar tak lagi ada, magnet Punden Mbah Ndilem tak pernah padam.

Abu, juru kunci lainnya, menyaksikan sendiri bagaimana tempat ini tetap ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

“Terutama saat bulan Suro,” ungkap Abu, menggambarkan betapa kuatnya daya tarik spiritual punden ini bagi masyarakat.

Keheningan dan keasrian punden, ditambah dengan kisah-kisah leluhur Mataram yang “babad desa” di tempat ini, menjadikan Punden Mbah Ndilem sebagai warisan budaya dan spiritual yang terus hidup dan dihormati.

“Bahkan ada juga yang menetap disini selama berbulan-bulan,” tuturnya.

Namun ia menyangkal bahwa semua itu dimaksudkan untuk menduakan Tuhan. Menurutnya, tempat keramat tak berarti musyrik.

“Semua yang kita dapatkan dalam hidup ini, bermuara kepada Sang Kuasa, tapi semua itu melalui perantara,” sambungnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#purwosari #Pembabat Alas #kabupaten pasuruan #Punden #keramat