Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hikayat Sosok Mbah Syarief Husein, Cucu Bupati Pasuruan Raden Rakmad yang Dikenal Sakti

Fuad Alyzen • Sabtu, 7 Juni 2025 | 17:10 WIB
PANJANG: Makam Mbah Syarief Husein yang terbilang panjang. Sosok Mbah Syarief disebut-sebut sebagai Wali Allah.
PANJANG: Makam Mbah Syarief Husein yang terbilang panjang. Sosok Mbah Syarief disebut-sebut sebagai Wali Allah.

MBAH Syarief Husein adalah seorang Habaib yang ikut berperan dalam menyebarkan Islam di Pasuruan timur serta Kabupaten Probolinggo barat.

Sosoknya dikenal kharismatik. Bahkan hingga saat ini, makamnya yang berada di Dusun Kramat, Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, banyak dikunjungi masyarakat.

Mbah Syarief Husein merupakan anak pertama dari Habib Zain. Ia hidup di era Belanda, sekitar tahun 1.800-an silam.

Habib Zain sendiri berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah yang merantau ke Pasuruan.

Ia kemudian diambil Mantu Bupati Pasuruan Raden Rakmad, Bupati Pasuruan setelah Untung Suropati.

Ayah Mbah Syarief tinggal di istana pada tahun 1700-an, yang saat ini dikenal Pendopo Ngawiji Ngesti Wenganing Gusthi di Keluhan Bangilan, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Mbah Syarief lahir di istana tersebut. Di mana, tempat itu dikenal sebagai istana termegah di zamannya. Ia tinggal di istana itu.

Hingga remaja, memilih untuk pergi ke arah timur, untuk menyiarkan agama Islam.

“Kata orang dahulu, beliau pergi merantau. Untuk syiar agama,” ujar Juru Kunci Pesarean Mbah Syarief Husen, Sulaiman, 63, warga RT 3/RW 2, Dusun Kramat, Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.

Kehadiran Mbah Syarief membuat masyarakat yang tinggal di perbatasan Pasuruan-Probolinggo, bertanya-tanya.

Apa dasar seorang habaib yang merupakan keturunan seorang bupati, rela hidup di tengah masyarakat miskin.

Dengan pendekatan sosial yang dilakukannya, Mbah Syarief berhasil mengambil hati masyarakat.

Sehingga, misinya untuk syiar Islam, perlahan-lahan berhasil. Karomahnya, membuat masyarakat setempat yakin, dengan agama yang dianutnya.

Sulaiman menyatakan, karomah Mbah Syarief, bisa melintas di jalur yang tak bisa dilaluai orang.

Seperti melintasi pagar, tembok atau tempat lain yang tak bisa dilewati manusia.

Bahkan, setiap orang yang menginjak jejak kakinya, maka orang itu akan celaka.

“Makanya, tempat lahirnya saat ini, disimpan dan tidak boleh ada orang melihatnya. Beliau merupakan wali yang memiliki karomah. Jejak kakinya saja tidak boleh diinjak orang,” jelasnya.

Konon, Mbah Syarief juga memiliki banyak murid dari kalangan bangsa jin. “Saya dipercaya menjadi juru kunci. Dan diwasiatkan cerita ini,” tambahnya.

Mbah Syarief menikah dengan seorang perempuan asal Desa Wringinanom, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai seorang anak, yakni Mbah Agil.

Mbah Syarief hanya memiliki satu anak. Namun, Mbah Agil memiliki banyak keturunan.

Semuanya dimakamkan satu kawasan bersama Mbah Syarief. Meski begitu, keturunan Mbah Syarief tersebar. Tidak hanya di Pasuruan. Tetapi juga ada yang di luar Jawa.

Konon, setiap orang yang menunaikan salat, di sekitarnya terdengar gemuruh.

Berdasarkan, jemaah yang bermakmum ke Mbah Syarief, adalah makhluk dari bangsa jin.

Karomah lainnya Mbah Syarief juga bisa menyembuhkan orang sakit. Sakit apa saja.

Dari sanalah, Mbah Syarief dikenal sebagai Waliullah. Orang yang dekat dengan Allah.

Mbah Syarief wafat pada tahun 1910. “Beliau dimakamkan di pesarean. Bersama keturunannya yang juga keramat,” sampainya.

Setelah meninggal dunia itu, makamnya dikeramatkan. Banyak orang yang datang, disebut-sebut hajatnya terkabulkan.

Sampai sekarang, tak sedikit orang yang datang mengalap berkah. Bahkan setiap harinya ada.

Apalagi setiap malam Jumat Legi. Banyak orang datang dari luar daerah. Begitu juga saat acara haul. Pesareannya dipenuhi banyak orang.

“Haulnya setiap tahun sekali. Setiap awal bulan Rajab. Kemarin haulnya 12 Januari 2025,” bebernya.

 

Pesareannya Berdampak Positif bagi Masyarakat

Setelah meninggal, makam Mbah Syarief dikeramatkan. Banyak yang datang ke pesarean, untuk ngalap berkah. Dan hal itu juga membawa berkah bagi warga sekitar.

Juru Kunci Pesarean Mbah Syarief, Sulaiman, 62, mengatakan, walaupun Mbah Syarief sudah wafat sejak lama sebelum dirinya dilahirkan ke dunia, namun keberadaannya terasa masih hidup.

Banyak orang yang datang ke makamnya. Sehingga, membantu mencukupi ekonomi masyarakat setempat.

Misalnya saat Jumat Legi dan haul. Masyarakat bisa berdagang dan berpenghasilan dari parkir.

“Masih membantu masyarakat untuk mencukupi kebutuhan ekonominya. Saat haul maupun orang yang berkunjung. Sehingga, meski jasad beliau sudah wafat, namun keberadaannya terasa masih hibup,” katanya.

KERAMAT: Selain makam Mbah Syarief, ada pula makam Mbah Wareng yang juga dikeramatkan. Konon, ia merupakan orang yang dikenal sakti dan memiliki karomah.
KERAMAT: Selain makam Mbah Syarief, ada pula makam Mbah Wareng yang juga dikeramatkan. Konon, ia merupakan orang yang dikenal sakti dan memiliki karomah.

Ada Makam Keramat Lain

Selain makam Mbah Syarief dan keturunannya, ada juga makam keramat lain yang juga banyak dikunjungi.

Yakni Mbah Wareng yang letak makamnya, sekitar 30 meter di arah barat makam Mbah Syarief.

Mbah Wareng sendiri merupakan warga Dusun Wareng, Desa Watestani, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan.

Dia putra dari KH Nur Hasan, dan hidup semasa dengan Mbah Agil putra Mbah Syarief.

Selama hidupnya, Mbah Wareng dikenal sebagai orang sakti. Dia mampu bertirakat selama 12 tahun di gua sekitar Sungai Laweyan.

“Anaknya Mbah Wareng, tirakat selama 6 tahun. Dan sekarang masih hidup cucu Mbah Wareng, yang tirakat selama 3 tahun,” ujar Juru Kunci Pesarean Mbah Syarief Husein, Sulaiman 62.

Sulaiman bercerita, dahulu Mbah Wareng dikenal orang sakti. Dia juga merupakan seorang wali Allah, yang memiliki banyak karomah.

Salah satu karomahnya, dia mampu menghilang tak terlihat, saat ada pencuri yang nekat masuk ke wilayahnya. Si pencuri ini pun bisa dibuat tak bisa bergerak seperti patung.

Setelah tak bisa bergerak lalu Mbah Wareng menampakan diri. Si pencuri itu lalu dibina, diberi makan dan pulangnya diberi harta. Ceritanya banyak maling yang sadar karena Mbah Wareng.

“Dibina sampai sadar. Pulangnya dikasih uang, sesuai harga yang mau dicuri maling itu,” kisahnya.

Mbah Wareng juga merupakan tokoh pejuang melawan penjajahan Belanda.

Namun, tidak ada tentara Belanda satu pun yang berani mendekati wilayah Mbah Wareng dan Mbah Agil. Karena nanti, akan tak bisa gerak seperti patung.

Setiap ada peperangan, Mbah Wareng selalu membekali pejuang pribumi kacang hijau dan batang sapu lidi.

Katanya, sapu lidi bisa digunakan untuk perang. Sementara kacang hijau, digunakan untuk peluru.

Dan bisa membuat orang yang pegang kacang hijau dari Mbah Wareng, memiliki banyak bayangan.

Maka Mbah Wareng sangat dikenal seorang wali. Itu dibuktikan sampai sekarang, makamnya ramai pengunjung untuk ngalap berkah. “Banyak juga Mas, yang datang ke makam Mbah Wareng,” ujarnya.

Di beberapa makam tokoh penting di pesarean ini, terdapat hal unik yang pernah terjadi.

Pernah suatu ketika, terdapat pengunjung yang datang ke Mbah Syarief.

Tidak tahu kenapa, makamnya tersebut di mata pengunjung itu tampak kecil.

Padahal dimimpinya, panjang sesuai dengan faktanya, makam Mbah Syarief yang memang panjang.

Tidak lama kemudian, orang yang melihat makam Mbah Syarief yang terlihat kecil itu, meninggal dunia. Juga yang mengantarkan meninggal dunia.

Nah, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Namun saya meyakini, ada kaitannya dengan makam Mbah Syarief. Kemungkinan, orang itu memiliki prasangka buruk dan tidak pernah tunaikan ibadah,” jelasnya. (zen/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Pesarean #wali #makam #karomah #keramat #sakti