SEBUAH punden terbangun di Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.
Punden tersebut dianggap keramat, lantaran dipercaya menjadi tempat bertapa dan moksanya pembabat alas desa setempat.
Mereka bernama Kakek Buto dan Kakek Sento. Punden tersebut bernama Punden Kedumas yang terletak di Dusun Lorokan.
Kepala Desa Boto, Matraji menjelaskan bahwa keduanya diduga berasal dari Kerajaan Majapahit.
Mereka mengasingkan diri ke daerah yang kini, dikenal sebagai Desa Boto tersebut.
“Mereka berkelana mulai dari Dusun Kayu Jaran, Dusun Krajan, Dusun Lorokan, Dusun Taburan, dan Dusun Sekar Putih. Lima dusun inilah yang kemudian dijadikan satu menjadi Desa Boto,” ungkapnya.
Matraji mengatakan, setiap nama dusun di Desa Boto diambil dari karakteristik daerahnya masing-masing. Seperti Dusun Kayu Jaran yang memang banyak ditumbuhi pohon kayu jaran.
Kemudian Sekar Putih, karena di daerah tersebut ada Sumber Kembang yang kebetulan saat itu keluarnya berwarna putih. Sehingga disebut Sekar Putih alias Bunga Putih.
Ia menambahkan, semula Punden Kedumas ini hanya berupa tanah lapang yang dipercaya ada petilasan atau makam dari kedua pembabat alas tersebut.
Namun karena usianya yang sudah lama, kemungkinan petilasan tersebut terkubur. Pada 2024, Pemerintah Desa Boto membangun petilasan di lokasi punden itu.
“Setiap tahun, saat peringatan Kadesa yang jatuh pada tanggal 22 September, kami melakukan selamatan di punden tersebut. Kalau dulu katanya sesepuh, ada ojungnya. Tapi kalau sekarang, hanya selamatan membawa sesajen berupa nasi, buah, atau semacamnya. Lalu berdoa bersama,” terang Matraji.
Tak hanya itu, paginya juga ada kegaitan karnaval yang diikuti oleh seluruh dusun. Para peserta menampilkan seni kebudayaan dari masing-masing dusunnya.
“Jadi mulai pagi sampai malam itu ramai saat Kadesa,” imbuhnya.
Selain pada acara Kadesa, lokasi punden ini biasanya ramai peziarah pada hari-hari tertentu. Seperti Malam Jumat.
“Biasanya orang-orang kesini untuk berdoa. Bahkan tak jarang, beberapa dari peziarah mendapatkan barang seperti batu permata. Namanya Kool Buntet yang berbentuk melingkar seperti cangkang kerang,” beber Kepala Dusun Krajan, Desa Boto, Nurul.
Sementara itu, nama Boto diduga berasal dari istilah Beboto. Nama tersebut diajukan oleh seorang prajurit Majapahit, yang kebetulan singgah di desa tersebut bernama Kuncoro.
“Jadi prajurit ini, mengajukan nama Beboto kepada Kakek Sento dan Kakek Buto yang kemudian menjadi Desa Boto,” ujar Nurul.
Makam Keramat Bujuk Kobung
Bukan hanya dua pembabat alas tersebut. Ada juga makam kramat yang berada di Dusun/Desa Boto.
Makam tersebut akrab dikenal sebagai Bujuk Kobung oleh masyarakat setempat.
Batu nisannya menampakkan bahwa ini merupakan makam kuno. Namun tak ada yang tahu pasti, siapa yang terbaring di dalamnya.
“Kami hanya mendengar cerita dari salah satu Gus di Pasuruan. Bahwa di Madura itu ada 5 bujuk. Namun salah satunya hilang. Kami berpikir apa mungkin ini ya?,” ujar Kepala Desa Boto, Matraji.
Matraji mengatakan, pada 2018, makam yang semula tanpa atap tersebut, hendak dibangunkan rumah-rumahan.
Menariknya, sebelum dibangun ruangan tersebut, salah satu nisan yang disebut nisan perempuan, mengeluarkan aroma wangi.
“Ternyata keluar cairan seperti minyak dan itu baunya wangi sekali,” jelasnya.
Hingga kini, kegiatan rutin dilakukan tiap Malam Jumat di kedua makam tersebut. Biasanya setelah salat Isya.
Warga sekitar mengaji Surat Yasin di makam tersebut. Kadang bisa sampai 10 orang.
Matraji juga mengingat pesan dari sang ayah, agar tak melangkah di atas kedua makam kramat tersebut.
“Sebab dulu, ada katanya yang berperilaku tidak sopan dengan melintas di atas makam atau melangkahi makam tersebut. Tiba-tiba alat kelaminnya membesar. Makanya dilarang melangkahi makam ini,” kisahnya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin