Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hikayat Tradisi Ngiring Kucing di Probolinggo, Ritual Warisan Nenek Moyang untuk Meminta Hujan

Inneke Agustin • Sabtu, 3 Mei 2025 | 20:15 WIB
WARISAN: Warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo saat menggelar tradisi Ngiring Kucing. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan.
WARISAN: Warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo saat menggelar tradisi Ngiring Kucing. Kegiatan ini merupakan agenda tahunan.

TRADISI unik menjadi agenda rutin yang digelar Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Tradisi tersebut merupakan warisan nenek moyang yang bertahan hingga sekarang.

Konon, kegiatan tersebut juga menjadi ritual untuk meminta hujan saat musim kemarau.

Warga mengenalnya dengan sebutan Tradisi Ngiring Kucing atau Ngarak Kucing.

Tradisi tersebut, ternyata juga dilakukan di desa yang lain. Yakni Desa Sumberanom dan Desa Gemito, Kecamatan Sumber.

“Ini tradisi turun temurun dari nenek moyang. Tapi memang tidak semua desa yang melaksanakan tradisi ini. Biasanya dilakukan setahun sekali, setelah hari Raya Karo, ketika musim kemarau dan sebulan lagi masuk musim hujan,” ujar salah satu masyarakat Desa Wonokerso, Yayuk Indriyani.

Yayuk mengatakan, bahwa ritual ini biasanya dilakukan untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa.

OJUNG: Kesenian ojung yang mewarnai jalannya ritual Ngiring Kucing. Kegiatan ini, menjadi pembuka sebelum kucing dimandikan.
OJUNG: Kesenian ojung yang mewarnai jalannya ritual Ngiring Kucing. Kegiatan ini, menjadi pembuka sebelum kucing dimandikan.
JARANAN: Selain ojung, sajian yang mengiringi jalannya tradisi Ngiring Kucing lainnya, adalah kesenian jaranan. Hal ini cukup memberi daya tarik masyarakat untuk menyaksikan.
JARANAN: Selain ojung, sajian yang mengiringi jalannya tradisi Ngiring Kucing lainnya, adalah kesenian jaranan. Hal ini cukup memberi daya tarik masyarakat untuk menyaksikan.

Ritual ini dilakukan agar hujan yang turun nantinya, membawa berkah. Bukannya malapetaka.

Setelah dilakukan ritual Ngiring Kucing, tak lama kemudian biasanya hujan akan turun.

Kucing yang digunakan tidak sembarangan. Biasanya, dipilih seekor kucing jantan berwarna hitam polos.

Kucing tersebut lantas didandani dan dimasukkan karung. Agar tak mudah lari, karung pun diikat di atas kuda kencak yang telah dihias.

“Kucing kemudian diarak dengan iringan musik ketipung dari rumah kepala desa menuju Sanggar Kembang,” kata Yayuk.

Tak hanya itu, para warga juga membawa dawet yang terbuat dari tepung padi yang biasanya disebut dengan tepung Ganyong.

Ini merupakan simbol agar hujan yang turun nanti, bisa membawa kesegaran pada alam.

Sesampainya di Sanggar Kembang, kucing yang telah diarak tersebut dimandikan dengan air suci. Yakni air kembang yang telah dimantrai.

“Ritual ini dipimpin oleh Dukun Pandita. Air kembang yang disiapkan sebelumnya, telah dimantrai terlebih dahulu. Baru kemudian digunakan untuk memandikan kucing,” terangnya.

Sebelum dimandikan, masyarakat juga mempersembahkan kesenian Ojung. Yaitu seni adu pukul menggunakan rotan.

Setelah rangkaian acara usai, tradisi Ngiring Kucing ditutup dengan makan dawet bersama oleh seluruh masyarakat.

 

Waktu Pelaksanaan Tergantung Dukun Pandita

Memang, kucing yang dipilih, tidak selalu harus jantan. Namun yang pasti, harus sudah dewasa dan berwarna hitam pekat di seluruh tubuhnya.

“Sampai kaki-kakinya juga hitam,” kata Nestuni Puji, warga Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.

Tapi ketika menemukan calon kucing yang akan digunakan dalam ritual ini, pantangan untuk disebut dahulu.

Sebab, biasanya kucing tersebut akan melarikan diri. “Dulu pernah demikian. Jadi H-1, kucingnya malah lari. Akhirnya kami harus mencari penggantinya,” ujar Nestuni.

Ia menambahkan bahwa waktu atau hari baik untuk melakukan tradisi ini, biasanya ditentukan oleh Dukun Pandita.

“Kadang tak harus ketika musim kemarau. Karena terkadang, hujan sudah turun sekali atau dua kali, baru kemudian dilakukan dilakukan tradisi ini. Sebab, kami fokusnya meminta hujan tersebut membawa berkah dan membuat tanah subur. Bukan yang membawa bencana,” tuturnya.

Nestuni mengatakan bahwa sebagai generasi muda, sudah selayaknya untuk melestarikan budaya yang ada ini.

“Selain itu, kami khawatir bila tidak dilakukan nantinya ada hal yang tak diinginkan terjadi,” akunya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Ojung #tradisi #jaranan #ritual #minta hujan #warisan nenek moyang