Masjid Babussalam dikenal masyarakat dengan sebutan masjid Tiban.
Kisah keberadaan masjid ini, memiliki berbagai versi yang berkembang di masyarakat. Konon, masjid tersebut tiba-tiba saja ada tanpa diketahui pembangunannya.
---------------------
Lokasinya berada di Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
Masjid tersebut, disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kota Probolinggo. Bahkan, tak diketahui pasti tahun berapa masjid itu dibangun.
Ada beberapa versi sejarah tentang masjid Tiban ini. Berasal dari namanya “Tiban” dapat diartikan sebagai “Ketiban” atau “Titipan”.
Ketiban sendiri, artinya adalah kejatuhan sesuatu atau sesuatu yang datang sendiri tanpa disangka-sangka.
Kenapa disebut demikian, sebab tak diketahui pasti siapa yang membangun masjid tersebut.
Masjid itu pertamakali ditemukan oleh warga secara tiba-tiba di sebuah lahan yang ditumbuhi dengan banyak pepohonan dan tumbuhan.
Salah satu penjaga masjid setempat, Agus Purwoko, 58, mengatakan bahwa bisa saja karena lokasinya yang berada diantara rimbunnya tumbuhan, sehingga masjid tersebut baru disadari masyarakat keberadaanya.
Terlebih letak masjid itu, memang tidak rata dengan jalanan atau rumah lain, karena posisinya lebih rendah.
“Dahulu, kawasan di sini rimbun sekali. Sehingga, mungkin saja baru diketahui oleh masyarakat,” jelasnya.
Selama ini, yang menjaga masjid Tiban ini memang keluarganya. Secara turun temurun, mereka diamanahi untuk menjaga dan merawat masjid setempat.
Kata Agus, dahulu kala kakeknya adalah kepala desa setempat. Sehingga kakeknya itu yang dulunya menjaga masjid. Lalu berlanjut hingga turun temurun.
Meski begitu, ia tak mengetahui persis bagaimana sejarahnya. Namun, menurut salah satu versi lain, mengatakan bahwa masjid itu adalah “titipan” dari Syeh Maulana Ishaq.
Syeh Maulana Ishaq merupakan tokoh agama islam yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa.
Ketika itu, dikisahkan ia sedang melakukan perjalanan menuju Banyuwangi. Ia hendak mengikuti salah satu sayembara yang diadakan oleh Raja Blambangan.
Di tengah perjalanannya dari Gresik menuju Banyuwangi itu, ia sampai di Probolinggo.
Dan menitipkan masjid tersebut, sebagai petilasannya pada masyarakat Probolinggo.
-------------
Terbawa Banjir Bandang
Ada versi lain, yang dinilai lebih masuk akal. Agus Purwoko, 58, penjaga masjid Tiban mengatakan, sekitar tahun 1300-an Masehi, terjadi bencana besar yakni tsunami atau banjir bandang.
Saat itu memang ada sebuah masjid yang akan dibangun. Namun bagian masjidnya seperti kayu-kayu dan perabotan lainnya terbawa banjir. Hingga akhirnya masjid itu sampai di Probolinggo.
“Dahulu daerah situ katanya laut atau pantai. Jadi bisa saja, puing-puing masjidnya itu terbawa hingga ke laut Probolinggo,” katanya.
Saat terbawa ke sini, masyarakat sekitar mulai membangun masjid. Namun karena peradaban islam di Pulau Jawa khususnya Probolinggo bekum massif.
Ditambah saat itu, lokasinya dipenuhi laut dan sawah-sawah. Maka tak ada masyarakat yang mengetahuinya.
Dahulu, bentuknya hanyalah berupa surau kecil dengan empat pilar. Sebelum akhirnya, dibangun masjid seperti sekarang.
Namun sisi surau itu, masih persis seperti pertama kali ditemukan. Termasuk ornamen di dalamnya.
Kayu jati di pilar tersebut, diperkirakan berasal dari Bojonegoro. Sementara pelur putih pada bagian surau itu, terbuat dari batu padas yang diperkirakan berasal dari Madura.
Meski begitu, belum ada penelitian resmi yang dapat membuktikan hal itu. “Belum ada penelitian. Itu hanya perkiraan saja,” jelasnya. (mg/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni