TIDAK banyak putra bangsa yang mempunyai karir politik cemerlang. Dari hal yang langka itu, ada nama R.A.A. Soejono.
Ia merupakan eks Bupati Pasuruan yang dipercaya dan diangkat menjadi menteri di Belanda.
Sosoknya cukup disegani. Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan R.A.A. Soejono merupakan satu-satunya, orang Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri di kabinet pemerintahan Belanda. Ia lahir pada 31 Maret 1886.
Soejono merupakan anak dari Bupati Tulungagug. Ia mengawali karir sebagai pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1908.
Sosoknya merupakan seorang nasionalis Islam moderat dengan karir yang luar biasa.
Tercatat, ia pernah menduduki sejumlah posisi penting. Yakni Bupati Pasuruan pada 1915 hingga 1927.
Lalu anggota Volksraad dua periode pada 1920 hingga 1921 dan 1927 hingga 1935.
Pernah menjadi penasihat delegasi Belanda dalam Konferensi Parlemen Internasional di London pada 1935.
Ia juga menjabat di kementerian urusan tanah jajahan, pada 1939 hingga 1940 silam.
Mendampingi H.J Van Mook di Batavia. Serta anggota Volksraad pada februari 1940-1941.
“Karirnya sangat serbaguna. Begitu disegani dan dihormati oleh Belanda dan mendapatkan gelar kehormatan sebagai pangeran,” katanya.
Budiman menjelaskan, Soejono adalah salah satu bupati yang lulus ujian kedinasan.
Pada 1930, Pemerintah Hindia Belanda memberinya cuti belajar selama satu tahun di Eropa untuk belajar pertanian, hingga perikanan.
Puncak karir Soejono terjadi pada Juni 1942. Ia diangkat menjadi menteri tanpa portofolio.
Beberapa bulan kemudian, ia diangkat oleh Ratu Belanda sebagai pangeran. Sebuah gelar bersejarah yang dipegang oleh pangeran berdarah jawa.
“Ia lantas dikenal menjadi pangeran Raden Adipati Ario Soejono. Gelar pangeran merupakan pengakuan atas jasa besarnya pada kerajaan Belanda,” jelas Budiman.
Karir Melesat selama PD II
Tepat sebelum jatuhnya Hindia Belanda ke tangan pasukan Jepang pada 9 Maret 1942, R.A.A. Soejono bersama Loekman Djajadiningrat melarikan diri ke Brisbane, Australia.
Ia mendampingi Wakil Gubernur Hindia Belanda, H.J. Van Mook.
Selanjutnya Van Mook diangkat sebagai menteri urusan tanah jajahan di kabinet perang Belanda, pimpinan Perdana Menteri Pieter Sjoerds Gerbrandy yang dibentuk di pengasingan London. Soejono menjadi penasihat utama.
Tak lama, Soejono ditarik ke London untuk menjabat wakil ketua dewan bantuan untuk Hindia Belanda.
Sementara Van Mook tetap menjalankan pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Brisbane.
Soejono kemudian ditunjuk sebagai menteri tanpa portofolio.
Penunjukan ini bertujuan untuk meyakinkan Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Belanda bukanlah negara kolonial dengan melibatkan warga Hindia Belanda dalam pemerintahan.
“Ia bertugas memberikan saran kepada ratu Belanda saat itu, Wilhelmina mengenai hubungan politik antara Belanda dan Hindia Belanda,” jelas Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Ia sempat membuat dua catatan bahwa warga Hindia Belanda tidak setuju dengan rencana Belanda itu.
Ia menyarankan, agar Belanda memberikan opsi penentuan nasib sendiri kepada warga Hindia Belanda.
“Cuma saat itu, tiga kali banding yang dilakukan oleh Soejono ditolak. Tidak ada tawaran opsi penentuan nasib sendiri,” tuturnya.
Wafat karena Serangan Jantung
R.A.A. Soejono wafat sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaan. Ia wafat di usia 53 tahun pada 1943, karena sakit jantung.
Ia dimakamkan dengan prosesi sesuai agamanya, Islam di London, Inggris.
Saat kematiannya, kantor berita pemerintah mengumumkannya. Disebutkan saat wafat, bendera di kantor pemerintah di Curacao mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan.
“Pada malam saat wafatnya, Gubernur Petrus A Kasteel mencurahkan kata-kata untuk mengenang Soejono dalam radio lokal,” beber Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Dijelaksan dalam koran terbitan Belanda, ia dimakamkan di sebuah pemakaman dekat London di sebuah hamparan padang rumput yang luas. Dikeliling oleh pohon pinus dan rhododendron.
Dia diusung menggunakan peti oleh delapan pelaut Indonesia. Di belakangnya, berjalan orang Indonesia dengan nampan yang diatasnya terdapat daun mawar dan payung emas.
“Sangat dicintai oleh pemerintah Belanda. Saat wafat, pemakamannya dihadiri oleh angkatan laut kerajaan hingga kiriman bunga dari ratu Belanda,” sampainya. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin