Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hikayat Misteri Mancilan, dari Ular Raksasa, Silat, hingga Makam Untung Suropati

Muhamad Busthomi • Sabtu, 15 Februari 2025 | 18:55 WIB
KESENIAN: Pertunjukan pencak silat Mancilan saat pagelaran pawai budaya seni Kota Pasuruan beberapa waktu lalu.
KESENIAN: Pertunjukan pencak silat Mancilan saat pagelaran pawai budaya seni Kota Pasuruan beberapa waktu lalu.

MANCILAN merupakan suatu wilayah yang terletak di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

Kampung ini menyimpan segudang misteri. Selain dikenal dengan aura mistis dan seni bela diri pencak silat, asal-usul nama kawasan ini pun menarik untuk ditelusuri.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kata "Mancilan" berasal dari kata Jawa Kuno "mencil". Mencil sendiri, berartikan di tengah-tengah bukit yang lebat terdapat jalan sempit.

Namun, seorang akademisi, Tristan Rokhmawan, menawarkan interpretasi berbeda. Ia menghubungkan kata "Mancilan" dengan Bahasa Arab, yakni manja'a jilana yang artinya orang yang datang dan lemas.

PENINGGALAN: Petilasan yang disebut-sebut milik Untung Suropati yang ada di barat daya.
PENINGGALAN: Petilasan yang disebut-sebut milik Untung Suropati yang ada di barat daya.

Tristan menjelaskan, siapa pun yang datang ke Mancilan, sekuat apapun, akan merasa lemah dan tidak berdaya.

Pendapat ini didasarkan pada penelusuran tradisi lisan masyarakat santri yang dilakukan pada tahun 2016.

Konon, pada masa lalu, siapa pun yang memasuki wilayah Mancilan akan sulit untuk keluar hidup-hidup.

Hal ini terkait dengan kisah pendirian kawasan yang melibatkan tokoh seperti K.H. Hasyim Mubarok (Mbah Bengah) dan Kyai Haji Bun Yamin (Mbah Bun).

Menurut cerita, pada masa pemerintahan Kanjeng Pangeran Diningrat I, siapa pun yang ingin masuk ke wilayah Mancilan akan dianggap menyerah dan tidak akan mendapatkan bagian tanah di sana.

Namun, Kyai Hasyim Mubarok berhasil mendapatkan pengecualian dan berhasil menaklukkan tantangan tersebut.

Mengapa banyak orang yang meninggal di Mancilan pada masa lalu? Salah satu penjelasannya adalah keberadaan hewan buas di wilayah tersebut.

Konon, ada ular raksasa yang memangsa banyak manusia. Namun, dengan kedatangan Kyai Hasyim Mubarok, hewan-hewan buas ini berhasil dikalahkan dan dibuang ke Sungai Gembong.

 

Munculnya Bela Diri Silat Kuntu Mancilan

Di Mancilan pula, lahir perguruan silat bernama Kuntu. Bela diri itu juga menjadi simbol perlawanan dan kebangkitan bangsa.

Masa penjajahan Belanda adalah masa yang kelam bagi rakyat Indonesia.

Rasa penindasan dan ketidakadilan mendorong munculnya perlawanan. Di tengah semangat juang itu, lahirlah Kuntu.

Nama "Kuntu" sendiri mengandung makna yang dalam, yakni "bangkit".

“Yang dimaksud kuntu saat itu, adalah semboyan untuk bangkit. Ayo melawan, jangan diam saja,” beber Ketua Perguruan Kuntu Mancilan, Kharis Fadillah.

Sosok sentral di balik berdirinya Kuntu adalah Mbah Hasan Sanusi atau Mbah Slagah.

Ia tidak hanya seorang ulama, tetapi juga seorang pejuang yang tangguh. Mbah Slagah menginspirasi banyak orang untuk melawan penjajah.

Ia mengajarkan, bahwa ilmu bela diri bukan hanya untuk menyerang. Tetapi juga untuk membela diri dan mempertahankan kebenaran.

Santri-santri itu bukan hanya berasal dari Pasuruan. Ada juga yang datang dari ujung timur hingga barat Pulau Jawa. Mereka sudah bermukim di pesantren jauh sebelum kedatangan penjajah.

Masing-masing dari mereka, punya kemampuan bela diri demi bekal keselamatan dari ancaman bahaya.

Disela aktivitas belajar ilmu agama, mereka juga sesekali unjuk kemampuan jurus bela diri yang dimiliki.

Kesewenang-wenangan pemerintah kolonial terhadap pribumi, membuat para santri itu berang.

Perlawanan-perlawanan kecil tak dapat dibendung. Tapi bukan pekerjaan sulit bagi penjajah untuk menghentikan mereka.

Barisan santri itu kocar-kacir. Di momentum itulah, Mbah Sanusi menyuarakan kebangkitan.

Tidak hanya mengasah murid-muridnya dengan ilmu bela diri. Melainkan juga dibekali dengan ilmu kanuragan.

Bacaan-bacaan wirid masih diamalkan di lingkungan perguruan hingga sekarang.

Biasanya, dilafalkan selepas salat wajib. Dahulu, setiap wirid yang diajarkan harus langsung disimpan di kepala.

“Katanya, kalau dituliskan amalannya nggak mandi. Sebenarnya itu bagian dari siasat para guru terdahulu. Karena ketika wirid dibukukan, ada kekhawatiran akan dirampas penjajah, sehingga mereka tahu kelemahan kita,” ungkap Kharis.

Perjuangan Mbah Sanusi merintis perguruan silat Kuntu Mancilan kemudian diteruskan oleh Mbah Hasan Wiro’i yang hidup pada sekitar 1817.

Sepeninggal Mbah Hasan, kepemimpinan perguruan diwariskan kepada anak keturunannya dari garis laki-laki. Mulai dari Mbah Abdurrahman, Mbah M. Faqih, Mbah M. Khotib hingga sekarang dipimpin Kharis Fadillah.

Meski begitu, ada ajaran yang cukup umum dan harus menjadi pegangan setiap murid Kuntu Mancilan.

Yaitu molimo atau tidak melakukan lima perkara yang dilarang. Seperti emoh main, emoh ngumbe, emoh madat, emoh maling, emoh madon.

“Itu prinsip yang harus dipegang sampai kapan pun. Karena jurus yang diajarkan dalam Kuntu Mancilan berangkat dari lingkungan pesantren,” ungkap Kharis.

 

MAKAM: Keberadaan makam yang juga disebut-sebut, makam Untung Suropati di wilayah timur.
MAKAM: Keberadaan makam yang juga disebut-sebut, makam Untung Suropati di wilayah timur.

Dipercaya Menjadi Tempat Pemakaman Untung Suropati

Bukti lain bahwa Mancilan merupakan kampung tua, lantaran dipercaya menjadi tempat peristirahatan terakhir Untung Suropati, budak belian yang jadi Adipati Pasuruan.

Bekas Residen Pasuruan HJ. Domis menulis, makam itu terletak di belakang Kebon Agung, sebelah barat daya Mancilan.

Di Mancilan bahkan ada dua tempat yang diyakini makam atau petilasan Untung Suropati.

Hanya saja, Suropati sendiri memang meminta agar makamnya dirahasiakan. Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir setelah terluka akibat pertempuran di Bangil, ia berpesan kepada Sentana dan ketiga putranya agar jasadnya dikubur rata dengan tanah, tanpa nisan atau kijing.

Permintaan itu bertujuan agar makamnya tak diketahul orang-orang Belanda. Dalam Babad Tanah Jawi, Suropati bersumpah agar anak turunnya tak pernah berhubungan dengan orang Belanda.

“lika ada yang kenal dengan orang Belanda semoga kena supataku, tidak selamat hidupnya,” sebut tulisan tersebut.

Setelah meninggal, jasad Suropati kemudian dimakamkan sesuai permintaannya. Di pusaranya diberi tanam-tanaman agar tak kentara sebagai makam.

Babad Tanah Jawi juga menceritakan bagaimana ambisi seorang komisaris kompeni mencari makam Suropati.

Dia mengeluarkan sayembara, siapapun yang menemukan makam Suropati diganjar seribu real.

Makam itu akhirnya ditemukan dan dibongkar, dua tahun setelah kematian Suropati.

Jasadnya masih utuh dan aromanya wangi. Tak habis akal, sang komisaris membakar jasad itu hingga menjadi abu.

Namun dalam catatan pegon yang ditulis mendiang H. Achmad Bachro'an, ulama kampung Mancilan menyebut, Suropati ialah orang yang sakti. Tidak mudah ditemukan. Apalagi diringkus.

“Berdasarkan cerita rakyat, makam yang ada di kampung Mancilan sebenarnya ialah tempat Suropati moksa,” tulis Bachro’an. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#silat #untung suropati #seni #Mancilan #misteri #petilasan