DI Dusun Asem Jajar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, terdapat sebuah makam keramat yang hingga kini masih menjadi pusat spiritual dan tradisi bagi masyarakat setempat.
Makam itu dikenal sebagai Bujuk Tapah, tempat yang tidak hanya memiliki nilai sejarah.
Tetapi juga menjadi tujuan bagi mereka yang ingin berdoa, bertawasul atau sekadar mencari ketenangan batin.
Menurut Kepala Desa Sidomulyo, H. Zainuddin Jamil, Bujuk Tapah memiliki akar sejarah yang panjang.
Sosok Tapah diyakini berasal dari Madura dan telah lama menjadi bagian dari cerita rakyat setempat.
Namun, makamnya baru ditemukan sekitar tahun 1990-an, setelah melalui serangkaian peristiwa yang dianggap sebagai petunjuk gaib.
Awalnya, tidak ada yang mengetahui di mana jasad Bujuk Tapah bersemayam. Meski kisahnya sudah lama beredar di masyarakat, lokasi makamnya tetap menjadi misteri.
Hingga suatu ketika, seseorang mengaku mendapat petunjuk dalam mimpi tentang keberadaan makam tersebut.
“Suatu ketika ada seseorang yang bermimpi dan mengetahui lokasi makamnya. Setelah dilihat lokasinya, ternyata ada bunga yang tidak familiar,” ungkap Zainuddin.
Penemuan bunga yang tidak biasa ini, kemudian diyakini sebagai penanda keberadaan makam Bujuk Tapah.
Warga setempat pun mulai membangun dan merehabilitasi tempat tersebut, hingga akhirnya menjadi makam yang dikenal saat ini.
Setelah keberadaan makamnya diketahui, semakin banyak warga yang berdatangan.
Mereka percaya, bahwa tempat ini memiliki keberkahan. Terutama bagi mereka yang tengah mencari kesembuhan dari berbagai penyakit.
Hingga kini, Bujuk Tapah masih menjadi tempat bagi masyarakat untuk bertawasul. Banyak yang datang dengan membawa air. Kemudian didoakan dan diyakini memiliki khasiat penyembuhan.
“Banyak yang terbukti sembuh. Seperti penyakit stroke dan lainnya. Warga datang menyiapkan air, lalu bertawasul di makam Bujuk Tapah,” imbuhnya.
Tidak hanya untuk tawasul, beberapa orang juga datang ke tempat ini untuk bertapa dan meminta sesuatu.
Keyakinan terhadap keberkahan makam ini, sudah mengakar sejak lama. Bahkan ada mitos, bahwa dahulu tanah di sekitar makam tidak boleh diinjak sembarangan.
“Kalau dahulu, meludah di sekitar makam pun tidak bisa. Apalagi menginjak tanahnya. Itu jadi petuah orang-orang tua terdahulu,” tambahnya.
Selain sebagai tempat mencari berkah, Bujuk Tapah juga memiliki fungsi lain dalam kepercayaan masyarakat setempat.
Warga sering datang untuk berdoa, agar cuaca tetap cerah, ketika ada hajatan atau acara penting.
“Di sini masih sering digunakan untuk tawasul. Agar tidak turun hujan saat ada acara besar,” bebernya.
Tradisi dan Ritual di Bujuk Tapah
Keberadaan Bujuk Tapah tidak hanya menjadi tempat spiritual. Tetapi juga menjadi pusat tradisi masyarakat Sidomulyo.
Setiap Jumat Manis, yakni Jumat di pekan yang bertepatan dengan pasaran Manis dalam kalender Jawa, masyarakat menggelar tahlil dan pembacaan Yasin di makam ini.
Selain itu, di bulan Maulid, diadakan pengajian akbar sebagai bentuk penghormatan kepada Bujuk Tapah.
Serta bagian dari peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan tetap dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Selain Bujuk Tapah, Desa Sidomulyo juga memiliki beberapa makam keramat lain yang menjadi tujuan spiritual warga.
Di Dusun Poreng, terdapat Bujuk Ardi, yang juga dikenal sebagai tempat bersejarah dan memiliki daya tarik spiritual bagi masyarakat.
Sementara itu, di Dusun Jungkong, terdapat Bujuk Onyong, yang memiliki cerita tersendiri dalam kepercayaan warga sekitar.
Keberadaan makam-makam keramat ini, menunjukkan bahwa Sidomulyo memiliki warisan budaya dan spiritual yang masih dijaga hingga kini.
Meski zaman terus berkembang, masyarakat tetap mempertahankan tradisi dan keyakinan mereka terhadap tempat-tempat ini.
Di tengah gempuran modernisasi, keberadaan Bujuk Tapah dan makam-makam lainnya tetap memiliki tempat di hati masyarakat Sidomulyo.
Tidak hanya sebagai tempat berziarah, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Masyarakat juga lebih guyub. Ini upaya untuk menjaga kerukunan,” kata Kepala Desa Sidomulyo, H. Zainuddin Jamil.
Masyarakat Sidomulyo memahami bahwa tradisi ini, bukan sekadar ritual. Tetapi juga bagian dari identitas mereka.
Dengan menjaga tempat-tempat seperti Bujuk Tapah, mereka juga menjaga sejarah dan kepercayaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di desa setempat.
“Ini bukan sekadar makam. Tapi bagian dari warisan kami. Selama masih ada yang berdoa dan bertawasul di sini, maka tradisi ini akan terus hidup,” sampainya. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin