SEBELUM menjadi seperti sekarang, Dusun Pagar Bata, Desa Sidorejo, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, dikenal sebagai tempat yang penuh misteri.
Konon ada susunan bata merah yang kerap muncul di atas lahan seluas 20 hektar. Bata-bata itu tersusun rapi, seolah menjadi fondasi sebuah permukiman kuno.
Terkadang, bata itu terlihat. Namun, lebih banyak yang tak nampak. Seperti benda mistis. Ketika beruntung, bata tersebut akan terlihat dengan jelas.
“Beberapa bekas batu batanya, masih ada. Ukurannya, berbeda dengan batu bata biasa. Lebih besar dan bercorak,” ungkap Kepala Desa Sidorejo, Kecamatan Kotaanyar, Jamhur.
Sekilas, sisa batu bata tersebut mirip dengan bekas pagar rumah. Atau fondasi rumah yang telah ditinggalkan. Menurut kisah yang beredar, tempat ini dulunya adalah sebuah permukiman megah.
Namun, akibat kekalahan dalam perang besar, penduduknya meninggalkan daerah tersebut.
Bata-bata itu menjadi bagian jejak sejarah yang tersisa dari zaman itu. Salah satu bukti yang ditemukan, adalah ukiran pada bata bertuliskan tahun 1024.
Di tengah area tersebut, ada sebuah makam tua yang dikenal dengan nama Bujuk Kramat. Makam ini tampak unik. Karena arah panjangnya, membujur dari timur ke barat.
Berbeda dengan makam-makam lain di sekitar desa. Bagi masyarakat, makam ini adalah tanda, bahwa tempat tersebut menyimpan benda-benda pusaka yang disembunyikan oleh leluhur.
“Pernah ditemukan guci, tombak, dan pusaka lainnya. Orang-orang tua dulu percaya, ini peninggalan dari kerajaan Majapahit. Tempat ini disebut keramat, sehingga warga tidak berani sembarangan mengusik,” sampainya.
Sejarawan yang pernah mengunjungi lokasi ini meyakini, bahwa Bujuk Kramat adalah penanda persembunyian barang-barang berharga dari masa lalu.
Konon, barang-barang tersebut merupakan peninggalan tokoh penting Majapahit.
“Namun, banyak orang luar yang datang, menemukan pusaka atau benda-benda tersebut untuk dijual ke Bali,” ceritanya.
Diyakini Ada Makam Patih Gajah Mada
Kisah tentang Bujuk Kramat semakin menarik ketika seorang spiritualis bernama Abdul Basit, mengungkapkan bahwa makam ini adalah tempat peristirahatan terakhir Patih Gajah Mada.
Dalam penglihatannya, Gajah Mada menghilang dari sejarah, setelah memilih untuk memeluk Islam dan menggunakan nama baru, Kiai Raden Fujah Fani Albadri.
“Nama Kiai Raden Fujah Fani Albadri itu, merupakan nama Islam bagi Gajah Mada,” kata Abdul Basit, seorang warga Krejengan yang mengaku sering berkomunikasi dengan penghuni makam.
Basit mengaku, ia bisa bertemu dengan penghuni makam ini, empat kali seminggu selama satu bulan. Mereka mengakui, ini makam Patih Gajah Mada.
Patih Gajah Mada, yang dikenal karena Sumpah Palapanya, memang tidak diketahui makamnya. Menurut cerita, ia menghilang begitu saja dari sejarah tanpa jejak.
“Sampai sekarang tidak ada makam Gajah Mada yang pasti. Tapi saya yakin, di sinilah ia dimakamkan,” tambah Basit.
Kini, lokasi Dusun Pagar Bata sebagian besar telah berubah menjadi sawah. Namun, warga setempat masih menyimpan rasa hormat dan keyakinan terhadap tempat ini.
Mereka percaya, bahwa Bujuk Kramat dan sisa bata kuno tersebut, adalah saksi bisu kejayaan masa lalu.
“Tempat ini menyimpan banyak cerita. Bagi kami, ini bukan hanya legenda, tapi juga pengingat, bahwa ada masa lalu yang tak boleh dilupakan,” kisah Kepala Desa Sidorejo, Kecamatan Kotaanyar, Jamhur.
Bagi mereka yang percaya, Dusun Pagar Bata bukan sekadar tempat. Melainkan pintu ke dunia masa lampau, yang penuh misteri dan kebesaran.
Hingga kini, cerita tentang Gajah Mada dan permukiman kuno di tempat ini, tetap hidup di hati masyarakat Desa Sidorejo. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin