Di Dusun Clumprit, Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan terdapat sumber air yang memiliki banyak manfaat.
Tak sekedar untuk mandi dan mencuci. Sumber air tersebut, juga dipercaya untuk obat yang mujarab.
Tak heran, jika keberadaan sumber air setempat, dijadikan jujukan untuk melakukan ritual.
--------------
Warga menyebut sumber itu dengan nama Sumber Lanang. Lokasinya, tak begitu jauh dengan pemukiman warga.
Sudah sejak lama, keistimewaan Sumber Lanang diketahui warga. Airnya tak pernah surut, meski saat kemarau tiba.
Ketika berkunjung, suasana asri menyelimuti. Maklum, rimbunan pohon mengelilingi Sumber Lanang. Mulai dari pohon loh, bambu dan beragam jenis pohon lainnya.
“Sumber Lanang merupakan salah satu sumber alami yang ada di desa kami. Kelestariannya terjaga hingga saat ini,” kata Kepala Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Saiful Bahri.
Menurut Saiful, keberadaan Sumber Lanang menjadi sebuah anugarah dari Sang Maha Pencipta.
Maklum, sumber ini banyak memberi manfaat bagi warga. Seperti untuk mandi hingga mencuci.
Kepala Dusun Clumprit, Desa Sebani, Yasin menguraikan, air Sumber Lanang berasal dari blumbangan kecil yang menyerupai sumur.
Titiknya berada di sebelah barat kolam Sumber Lanang. “Dari situlah, air mengalir ke Sumber Lanang ini,” beber Yasin.
Selain untuk mandi dan mencuci, keberadaan Sumber Lanang ternyata juga menjadi jujukan para peritual.
Tidak hanya dari wilayah Pasuruan. Tetapi juga dari luar daerah, seperti Malang, Surabaya, Sidoarjo dan daerah lainnya.
Hal ini bukan tanpa alasan. Konon, air dari Sumber Lanang dipercaya berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit. Seperti stroke, pegal linu, nyeri sendi, sawan dan yang lain.
Mereka datang ke sumber saat malam hari, di malam-malam tertentu. Sesampainya di sumber, mereka biasanya mandi terlebih dahulu ke kolam.
Selesai mandi, mereka mengambil air dari blumbangan kecil, yang berbentuk menyerupai sumur tersebut.
Air yang berada di blumbangan kecil itulah, yang dipercaya berkhasiat untuk obat. “Karenanya, warga kemudian memasangi atap seng, biar tetap bersih,” ungkapnya.
Tak hanya untuk menyembuhkan penyakit. Air Sumber Lanang juga diyakini memiliki keistimewaan yang lain. Yakni tempat untuk mendalami ilmu kanuragan. (zal/one)
Dikenal Angker dan Wingit
Selain tampak eksotik, keberadaan Sumber Lanang ternyata dikenal angker dan wingit.
Seringkali yang datang ke Sumber Lanang, mendapati penampakan sosok mahluk halus.
Karena itu, jarang warga yang berkunjung ke Sumber Lanang seorang diri. Minimal, dua orang.
“Tergantung tujuannya juga. Jika tujuannya jelek, kebanyakan mendapati penampakan makhluk halus. Tapi, jika tujuannya baik, cenderung aman-aman saja,” ujar Kepala Dusun Clumprit, Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Yasin.
Layaknya pasangan, di wilayah setempat juga ada sumber lain, yakni Sumber Wedok. Jaraknya sekitar 20 meter dari Sumber Lanang. Lokasinya, berada di sisi utara Sumber Lanang.
“Sumber airnya berbeda, meskipun jarak dengan Sumber Lanang berdekatan. Khusus untuk Sumber Wedok, airnya dialirkan ke rumah warga di Dusun Jedong, Desa Sebani,” kata Kepala Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Saiful Bahri. (zal/one)
Aksesnya Terjangkau dan Mudah
Tak susah untuk menuju ke Sumber Lanang. Jalan yang beraspal dan berpaving, memudahkan pengunjung yang hendak ke Sumber Lanang.
Jaraknya pun tak begitu jauh. Hanya sekitar 700 meter dari Kantor Pemdes Sebani.
Ketika sampai di Dusun Clumprit, pengunjung akan disuguhi jalanan yang berpaving.
Bagi pejalan kaki atau pemotor, bisa langsung menuju lokasi. Namun, bagi pengendara roda empat, bisa memarkir kendaraannya di jalan kampung atau pekarangan rumah warga.
“Aksesnya terjangkau dan juga mudah. Bagi yang bingung, karena baru pertama kali datang, bisa tanya ke warga sekitar,” jelas Kepala Dusun Clumprit, Desa Sebani, Kecamatan Pandaan, Yasin.
Pengunjung bisa menikmati air dan panorama di sekitar Sumber Lanang. Jangan khawatir untuk berlama-lama.
Karena di sekitar Sumber Lanang, terdapat bangunan joglo yang terbuat dari bambu.
Bangunan tersebut memang multifungsi. Tidak hanya menjadi tempat santai dan beristirahat sejenak.
Tetapi juga, bisa untuk salat. “Karena dimanfaatkan pula untuk musala,” sampainya. (zal/one)
Editor : Fahreza Nuraga