SEBELUM menjadi sebuah tempat hunian, Desa Sumber Kerang, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, dulunya merupakan hutan.
Hingga datanglah sosok lelaki muda asal Madura yang membabat alas setempat. Namanya dikenang hingga menjadi sebuah legenda.
Banyak yang menyebut, pemuda tersebut adalah Bujuk Tuan atau Kiai Tuan. Ia bersama istrinya datang ke wilayah Probolinggo dan membangun sebuah permukiman.
Menurut Abu Saheh, salah satu Aparatur Desa Sumber Kerang, Kecamatan Gending, sebelum kedatangan Bujuk Tuan, kawasan Sumber Kerang, masih berupa hutan.
Namun, sejak Bujuk Tuan menapakkan kakinya, kawasan setempat akhirnya berubah.
Ia bersama istrinya, membangun sebuah permukiman di wilayah setempat. Hingga lambat laun, banyak orang yang ikut menetap.
“Beliau bermigrasi dari Madura dan membabat alas di sini. Pelan tapi pasti, banyak orang yang ikut menetap,” ungkap dia.
Kiai Tuan akhirnya menjadi sosok pemimpin pertama di wilayah yang kemudian dinamai Desa Sumber Kerang itu.
Sosoknya banyak disegani oleh masyarakat. Karenanya tak heran, jika kisah tentang sosoknya, melegenda hingga sekarang.
Sayangnya, beliau tidak memiliki garis keturunan. Sehingga, tidak ada yang tahu pasti, sejarah mengenai Kyai Tuan. Karena keberadaannya, hanya melalui cerita mulut ke mulut.
“Zaman dahulu, kan bentuknya bukan pemerintahaan. Karena beliau orang pertama di sini, jadi beliau yang memimpin Desa Sumber Kerang ini,” kisah Abu Saheh.
Sebagai pemimpin pertama yang berasal dari Madura, konon ada mitos yang melekat.
Jika kepala desa selanjutnya memiliki trah Madura, maka akan mampu memimpin rakyat di Sumber Kerang dengan baik. Serta dapat menciptakan ketentraman.
“Konon, kalau pemimpinnya masih punya trah Madura, maka desa ini akan menjadi gemah ripah loh jinawi, adanya ketentraman di masyarakat,” jelasnya.
Hingga kepemimpinan yang kesembilan, belum ada yang benar-benar memiliki garis keturunan Madura setelah Kiai Tuan.
Sebetulanya, sebelum ada Kiai Tuan, ada dua pemimpin yang juga dari Madura dan berperan membabat alas di bagian desa yang belum terbabat. Yaitu Kiai Derin serta Kiai Zainab.
Zaman dahulu, belum ada sebutan untuk pemerintahan desa seperti saat ini. Dahulu, lebih dikenal dengan nama demang.
Bahkan dua pemimpin setelah Kiai Zainab, Desa Sumber Kerang masih berbentuk demang. Hingga kemudian, Indonesia merdeka.
Dan muncul sistem pemerintahan desa. Diketahui selain tiga tokoh di atas, saat ini sudah masuk pada pemerintahan yang ke Sembilan, yaitu Kades Beny Recardho.
“Yang ada keturunan Madura asli, ya cuma tiga pemimpin tersebut. Barulah setelah itu muncul yang namanya pemerintahan desa. Dahulu, namanya masih demang,” jelasnya.
Makam Kiai Tuan Dijaga Naga
Keberadaan Kiai Tuan ditandai dengan makamnya berada di Desa Sumber Kerang, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo.
Ada cerita mistis tentang keberadaan makamnya. Konon, makam Kiai Tuan dijaga oleh sosok naga besar.
Abu Saheh, salah satu Aparatur Desa Sumber Kerang, Kecamatan Gending mengatakan, beberapa sesepuh di desa setempat, mengklaim pernah melihat ada sosok naga besar yang menjaga makam Kiai Tuan.
Meski begitu, dirinya belum pernah melihat secara langsung. Namun, cerita itu sangatlah melegenda di tengah masyarakat.
“Saya pernah dibilangi, untuk berhati-hati ketika ke Makam Kiai Tuan. Karena ada naga besar yang menjaga,” ungkapnya.
Naga tersebut dipercaya tinggal di sebuah pohon sukun berukuran besar yang ada di halaman makam Kiai Tuan.
Makam Kyai Tuan sendiri berada di tengah-tengah sawah milik warga. Di sana tampak ada beberapa makam lain yang tidak diketahui pasti siapa pemiliknya, selain Kiai Tuan dan istrinya.
“Katanya ularnya melilit di pohon sukun itu. Tubuhnya besar dan panjang mengelilingi pohon,” jelasnya.
Tampak halaman makam tersebut, sangat asri. Karena dikelilingi sawah dan pohon besar.
Namun tidak terlihat menakutkan. Karena dekat dengan permukiman warga. Bahkan juga terlihat dari jalan besar.
Setiap malam Jumat, banyak orang yang berziarah di makam Kiai Tuan. Mayoritas adalah warga Desa Sumber Kerang sendiri.
Ada tempat yang memang dikhususkan untuk peziarah lengkap dengan kamar mandi.
Meski begitu, Abu menampik bahwa makan tersebut menjadi tempat yang dikeramatkan.
“Banyak yang datang biasanya malam Jumat. Warga sini saja. Namun tidak dikeramatkan kok. Biasa saja, ya ziarah biasa,” paparnya.
Tempat Pendaratan Pertama
Kiai Tuan bersama dengan istrinya berlayar dari Pulau Madura. Kemudian mereka mendarat di salah satu sungai bernama Sungai Bujel yang saat ini disebut Sungai Curah Sawo. Lokasinya, di Desa Pajurangan, Kecamatan Gending.
Di sungai itulah, pertama kali Kiai Tuan dan istrinya menapakkan kaki pertama kali di Pulau Jawa.
Mereka kemudian berjalan sekitar satu sampai dua kilometer dari sungai tersebut. Hingga sampai di sebuah hutan, yang saat ini menjadi Desa Sumber Kerang.
Pada tahun 1980-an sungai tersebut masih berupa sungai besar yang terhubung dengan laut yang merupakan Selat Madura.
Sungai tersebut bahkan dipakai warga Kecamatan Gending, untuk berniaga ke Madura. Begitupun sebaliknya.
“Dahulu waktu saya kecil sekitar tahun 1970-an, sungai itu masih dipakai. Saya pernah diajak orangtua ke Madura lewat sungai tersebut,” kata Ahmad Basuni, 60, Perangkat Desa Pajurangan, Kecamatan Gending.
Tidak diketahui pasti, kapan sungai tersebut mengalami sedimentasi besar-besaran. Sampai akhirnya, sungai tersebut menjadi sungai yang dangkal dan menyempit.
Tidak ada lagi perahu layar yang biasa dipakai orang, untuk melakukan perjalanan laut.
“Kala itu, masih banyak perahu. Karena besar sekali sungainya. Sehingga bisa untuk perahu berputar. Perahunya pakai layar tidak seperti sekarang pakai mesin,” ulasnya. (mg/one)
Editor : Jawanto Arifin