Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok Mbah Lembu, Kiai Sakti yang Kesohor hingga Saat Ini

Muhamad Busthomi • Sabtu, 7 Desember 2024 | 19:25 WIB
MAKAM: Keberadaan makam KH Nawawi alias Mbah Lembu yang berada di makam muslim Tambak Yudan, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
MAKAM: Keberadaan makam KH Nawawi alias Mbah Lembu yang berada di makam muslim Tambak Yudan, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

PERNAH mendengar cerita Mbah Slagah yang bisa menampakkan diri seperti singa putih yang siap menerkam lawannya?

Salah satu keturunannya, juga memiliki kesaktian serupa. Namanya KH. Nawawi.

Tapi masyarakat lebih memberikan julukan sesuai personifikasi kesaktian yang ia miliki: Mbah Lembu.

Mbah Lembu adalah putra Asari, putra Muroddin, putra Sofyan, putra Hasan Sanusi atau Mbah Slagah.

Julukan ini, juga bertalian dengan riwayat KH. Nawawi semasa hidup di kampungnya, di Kawasan Grati, Kabupaten Pasuruan.

JEMAAH: Suasana makam Mbah Lembu yang banyak dikunjungi jemaah untuk berkirim doa.
JEMAAH: Suasana makam Mbah Lembu yang banyak dikunjungi jemaah untuk berkirim doa.

Singkat cerita, di desa itu ada seekor lembu atau sapi yang sedang mengamuk. Dan tidak ada satu orangpun yang bisa mengehentikan amukan lembu tersebut.

Desas-desus dengan cepat beredar di masyarakat. Bahwa yang bisa menghentikan amukan lembu tersebut, hanya orang yang memiliki sifat kesederhanaan, ahli ibadah dan memiliki kerendahan hati.

Satu-satunya orang dengan ketokohan semacam itu, hanyalah KH. Nawawi. Dan benar saja, ketika Kiai Nawawi datang, lembu itu segera anteng.

Dari situlah, masyarakat menjuluki KH. Nawawi dengan sebutan Mbah Lembu.

Meski berasal dari Grati, Mbah Lembu juga tidak asing bagi masyarakat Kota Pasuruan.

Perjuangannya hingga akhir hayat, berlangsung di perkampungan Tambak Yudan, Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.

Tak hanya itu, cerita Kiai Nawawi dan lembu juga banyak terjadi, ketika masa penjajahan kolonial Belanda.

Seperti ulama pada umumnya, Kiai Nawawi tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja kepada masyarakat. Melainkan juga, menebarkan benih perlawanan bangsa yang terjajah.

Hingga Mbah Lembu menjadi salah satu orang paling dicari pada masa itu. Semua bala tentara kolonial, mencari keberadaan Mbah Lembu.

Sayangnya, ada salah satu masyarakat pribumi yang menjadi mata-mata. Menjual informasi keberadaan Mbah Lembu.

Pasukan kolonial pun mendatangi tempat dimana Mbah Lembu berada. Mereka sudah siap menyergap.

Namun yang dihadapan mereka bukan manusia. Melainkan seekor lembu besar. “Akhirnya Mbah Lembu urung ditangkap,” kata Syahidin, salah satu tokoh masyarakat.

Cerita berbeda diungkap Tristan Rokhmawan. Salah satu pengajar di Universitas Wiranegara ini mengungkapkan, banyak karomah yang dimiliki Mbah Lembu.

Selain bisa berwujud lembu, ia juga pernah mendengar cerita masyarakat, yang mengisahkan bagaimana Mbah Lembu menghindari kejaran tentara kolonial di sebuah musala.

Di dalam musala itu, Mbah Lembu kemudian sembunyi dan masuk ke dalam kendi. “Sehingga pasukan tentara Belanda, tidak bisa menemukan keberadaan Mbah Lembu,” tutur Tristan.

 

Karomah Mbah Lembu

Mbah Lembu diketahui meninggal di kediamannya di kawasan Tambak Yudan. Keluarganya lantas memberikan kabar duka, kepada keluarga tua di Grati.

Setelah beberapa jam kemudian, keluarga Kadipaten Pasuruan sampai di Grati. Selanjutnya, pihak keluarga Kadipaten Pasuruan menyampaikan kabar duka tersebut.

Akan tetapi, keluarga Mbah Lembu di Grati, tidak percaya akan kabar duka tersebut. Mereka bahkan menyebut ketika itu, Mbah Lembu tengah tidur di kamar.

Sementara keluarga Kadipaten Pasuruan juga bersikeras. Bahwa Mbah Lembu sudah meninggal dan jasadnya ada di Pasuruan.

Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, pihak keluarga Grati, mempersilahkan untuk melihat Mbah Lembu yang tengah tidur di kamar.

Kemudian, keluarga melihat ke kamar Mbah Lembu sudah tidak ada lagi di kamar tersebut. Akhirnya mereka meyakini, bahwa Mbah Lembu sudah meninggal dan menyepakati jasadnya di makamkan di Tambak Yudan Pasuruan.

Makamnya dapat kita temui di area makam muslim Tambak Yudan. Menurut Tristan Rokhmawan, pengajar di Universitas Wiranegara, banyak masyarakat sekitar yang mula-mula heran dengan makam Mbah Lembu.

Sebab setiap burung yang terbang di atas makam itu, akan jatuh dengan sendirinya.

“Masyarakat akhirnya banyak yang meyakini, itu bentuk penghormatan karena saking mulianya Mbah Lembu,” katanya.

 

Haul Mbah Lembu

Makam Mbah Lembu kerap menjadi jujukan jemaah untuk berdatangan. Terlebih, ketika haul-nya digelar.

Syahidin, salah satu tokoh masyarakat mengungkapkan, peran KH. Abdul Hamid sebelum hari wafatnya Mbah Lembu diperingati setiap tahun.

Suatu ketika, Mbah Hamid pernah menceritakan mimpinya kepada seorang modin di Tambak Yudan.

Ia bermimpi, bahwa Mbah Lembu diapit dan digandeng oleh dua orang yang mulia. Yaitu Rasulullah SAW dan Sunan Ampel. “Sejak itulah, setiap tahun diadakan haul Mbah Lembu,” urainya.

Haul dilangsungkan tepat di hari meninggalnya Mbah Lembu, yaitu pada tanggal 10 Dzulhijah.

Pelaksnaan haul tersebut, seolah menjadi magnet. Karena banyak orang yang datang, ketika haul digelar.

Tidak hanya dari Pasuruan. Tetapi juga, dari berbagai daerah yang lainnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kiai #makam #keramat #sakti