SETIAP tempat memiliki asal usulnya masing-masing. Seperti halnya Desa Pondok Wuluh.
Konon, desa setempat dulunya banyak ditumbuhi bambu wuluh. Bambu tersebut dipergunakan untuk pondok atau langgar, bagi santri yang mengaji.
Desa Pondok Wuluh merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Ada cerita panjang, yang menyelimuti bagaimana terbentuknya tempat ini.
Banyak yang percaya, sebelum menjadi sebuah desa, kawasan setempat ditumbuhi banyak bambu wuluh.
Bambu-bambu itu, dimanfaatkan untuk membuat langgar. Atau pondok-pondok yang difungsikan bagi anak-anak untuk mengaji.
“Berdasarkan cerita orang tua zaman dahulu, di sini memang dulunya banyak bambu atau pring wuluh yang dibuat pondok. Dari situlah, desa ini akhirnya dinamakan Pondok Wuluh,” ungkap salah satu Aparatur Desa Pondok Wuluh, Saiful Anang.
Meski begitu, kata Anang, keberadaan bambu wuluh di desa setempat, kini tak lagi seperti dahulu.
Di mana, kala itu dengan mudah bisa ditemukan. Sementara saat ini, keberadaannya semakin jarang.
Hal ini bukan tanpa alasan. Banyak warga yang tak lagi memanfaatkan bambu tersebut. Sehingga, keberadaannya kini dikesampingkan. Lantaran banyak yang memanfaatkan batu bata dalam pembangunan.
“Kalau dahulu, bambu wuluh memang menjadi material utama dalam pembangunan. Baik langgar hingga rumah. Namun sekarang, lebih banyak memanfaatkan batu bata. Sehingga, keberadaan bambu wuluh, dikesampingkan. Banyak yang ditebang,” timpalnya.
Disebut Juga Desa Duk Bulu
Kisah keberadaan Desa Pondok Wuluh, memang unik. Tak hanya dikenal karena dahulu, banyak pohon bambu yang digunakan untuk pondok. Tetapi juga, ada versi lain tentang keberadaan desa setempat.
Desa Pondok Wuluh dikenal pula dengan nama “Duk Bulu”. Penamaan itu muncul, karena dulunya pada masa penjajahan, warga setempat diharuskan untuk “duduk dulu” saat orang-orang Belanda melintas.
Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada warga Belanda.
Menurut Baher, 91, tokoh Desa Pondok Wuluh, sebelum menjadi desa, kawasan setempat dulunya merupakan hutan.
Banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di wilayah setempat.
Hingga kemudian, beberapa orang dari pulau Madura datang. Salah satunya, adalah Bujuk Selempangan.
Mereka membabat hutan dan menjadikannya permukiman. Sampai akhirnya, terbentuklah desa seperti sekarang.
Baher yang mengaku salah satu turunan dari Bujuk Selempangan meyakinkan, kalau Bujuk Selempangan membabati hutan bersama dua rekannya. Yakni Bujuk Urip dan Bujuk Besah.
“Mereka bertiga, merupakan pembabat alas yang akhirnya menjadi sebuah desa seperti sekarang,” kisah Baher. (mg/one)
Editor : Jawanto Arifin