Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah R.A.A. Harsono, Bupati Bangil Terakhir yang Menjadi Pendiri Cikal Bakal RSUD Lawang

Fahrizal Firmani • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 19:35 WIB
R.A.A Harsono, Bupati Bangil terakhir.
R.A.A Harsono, Bupati Bangil terakhir.

SEBELUM melebur dengan Kabupaten Pasuruan, dahulu Bangil merupakan sebuah kabupaten.

Bahkan, menjadi salah satu kabupaten tua yang pernah ada. Ada 18 orang yang disebut-sebut pernah menjadi Bupati Bangil. Bupati pertama adalah Ingebeij Soeto Pronno.

Sementara, sosok R.A.A Harsono merupakan Bupati Bangil terakhir, sebelum akhirnya Bangil menjadi karesidenan, masuk wilayah Kabupaten Pasuruan.

Pada kisaran 1830, Kabupaten Bangil meliputi tiga wilayah. Yakni Bangil, Gempol dan Pandaan.

PEGAWAI: Sejumlah eks pegawai dan pejabat di lingkungan pemerintahan Bangil saat berpose di depan pendopo.
PEGAWAI: Sejumlah eks pegawai dan pejabat di lingkungan pemerintahan Bangil saat berpose di depan pendopo.
PENINGGALAN: RSUD Lawang di Kabupaten Malang yang didirikan saat masa pemerintahan R.A.A Harsono.
PENINGGALAN: RSUD Lawang di Kabupaten Malang yang didirikan saat masa pemerintahan R.A.A Harsono.

Namun pada tahun 1920, wilayah Bangil bertambah, menjadi empat. Yakni Poerworedjo (Poerwosari) yang wilayahnya mencapai Lawang.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Ahmad Budiman Suharjono menyebut Bupati Bangil terakhir, dijabat oleh R.A.A Harsono.

Ia disebut-sebut menjabat sejak 20 Mei 1915 silam. Ia lahir pada 29 November 1870 di Kepanjen Lor, Blitar.

Dan bersekolah di Hoofdenschool di Probolinggo. Ia memulai karir sebagai juru tulis jaksa di Jember pada 1889.

Kemudian, ia ditempatkan sebagai mantri di Departemen Candu di Jember, yang diikuti oleh adj.djaksa dan adj.hoofddjaksa di Bondowoso.

Pada Oktober 1920, ia diangkat menjadi wedono di Soekowono, Jember. Dan pada saat yang sama, ia diangkat menjadi Wedono Wonosari di Bondowoso.

"Dia menjadi wedono definitif di Wonosari pada 1902. Dan selama sembilan tahun, hingga 1911, ia menjadi wedono di sana," kata Budiman.

Lalu september 1911, Harsono dipromosikan menjadi patih di Jember. Empat tahun kemudian, pada Mei 1915, ia menjadi Bupati Bangil. Pada 1920, Harsono mendapat gelar "Ario". Hingga pada 1923, gelar Adipati diberikan padanya.

Sejumlah penghargaan juga pernah diterimanya. Diantaranya, Songsong Kuning pada November 1924, bintang emas besar kesetiaan dan jasa yang diberikan pada Agustus 1928. Serta pengangkatannya sebagai perwira ordo oranye-nassau pada Desember 1934.

Istrinya adalah Bendoro Raden Ajoe Harsono, putri dari Kanjeng Ratoe Madoeretno, kakak perempuan tertua dari Sultan Hamangkoeboewono VIII.

Pada 1920, ia mendapatkan pernyataan kepuasan atas kiprahnya dalam memerangi wabah pneunomia.

Pada tahun yang sama, Harsono mendapat pengakuan dari pemerintah. Atas kiprahnya sebagai anggota panitia, perubahan dasar Undang-Undang Dasar Hindia-Belanda.

EKS PENDOPO: Bekas Pendopo Bangil yang kini menjadi pertokoan di wilayah Plaza Bangil.
EKS PENDOPO: Bekas Pendopo Bangil yang kini menjadi pertokoan di wilayah Plaza Bangil.

Jasa lainnya, pembentuk paguyuban peternak "Mardi Rodjokojo", lembaga yang didirikan untuk meningkatkan peternakan di Bangil.

Lembaga ini, pernah menjadi kebanggaan warga Bangil. Yaitu dengan mengimpor sapi biasa dan pejantan unggul dari British India dan Bali.

Serta kambing dan domba dari wilayah lain di Jawa. Secara teratur, setiap tahun, pameran ternak besar dan karapan sapi diadakan di Alun-alun Bangil.

"Pameran ini diadakan oleh Mardi Rodjokojo. Menarik banyak pengunjung dan pembeli dari jauh. Sehingga, berdampak terhadap perekonomian penduduk setempat," jelas Budiman.

Salah satu prestasi yang dicapai oleh Harsono, adalah pendirian Rumah Sakit Lawang di lahan seluas 6.000 meter persegi.

Rumah sakit ini didirikan dengan biaya 29.500 gulden. Serta dilengkapi dengan sarana prasarana yang menghabiskan anggaran 4.350 gulden. Rumah sakit cikal bakal RSUD Lawang tersebut, diresmikan tahun 1930 silam.

 

Terhapusnya Kabupaten Bangil

Pada 15 tahun masa jabatannya sebagai Bupati Bangil, pemerintahan R.A.A. Harsono diuji dengan krisis ekonomi.

Kondisi ini memukul telak Kabupaten Bangil. Puluhan toko tutup. Hingga berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang mengakibatkan tingginya pengangguran.

Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menuturkan, pada masa pemerintahan Harsono di tahun 1930, Kabupaten Bangil mengalami krisis ekonomi. Enam pabrik gula di wilayah ini, yakni Wonoredjo, Soemberredjo, Ardjosari, Pandaan, Soekoredjo dan Alkmaar tutup.

Mengakibatkan banyak pengangguran dan pendapatan daerah menurun drastis.

Banyak penduduk Eropa yang tinggal di Kabupaten Bangil memilih pindah. Selain itu, belasan toko milik warga Cina tutup.

Kondisi ini, membuat Bangil menjadi kota mati. Mardi Rodjokojo, paguyuban peternak, kehilangan semua sponsornya. Banyak ternak yang dijual dan disembelih karena krisis.

"Krisis ekonomi ini, memukul Kabupaten Bangil. Seluruh sendi perekonomian di Kabupaten Bangil, terdampak dan menjadi lumpuh," terang Budiman.

Jatuhnya perekonomian Bangil ini, berdampak besar. Pada 1935 atau lima tahun setelah krisis ekonomi melanda, Kabupaten Bangil resmi dihapus.

Pemerintah Hindia-Belanda menggabungkannya dengan Kabupaten Pasuruan. Kecuali distrik Lawang yang digabungkan dengan Kabupaten Malang.

Pemerintah mengangkat R.A.A. Harsono menjadi Bupati Pasuruan pertama usai penggabungan Bangil dengan Pasuruan pada Januari 1935.

Ia dilantik secara resmi, sebagai bupati pada Maret 1935 oleh Gubernur Jawa Timur J.H.B. Kuneman. Ia wafat pada September 1936 di usia 66 tahun.

"Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Bangil. Sejumlah pejabat Eropa dan pihak swasta juga datang, menghadiri proses pemakaman," kisah Budiman. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#belanda #pendopo #rumah sakit #Bupati Bangil #Kabupaten Bangil