DI tengah pesatnya modernisasi Kota Probolinggo, ada sebuah tempat yang tetap kokoh mempertahankan jejak sejarahnya. Tempat tersebut dinamakan Sumber Arum.
Di dalam satu kawasan tersebut, terdapat sendang atau sumber mata air Sumber Arum, Makam Mbah Wali Sumber Arum serta Mbah Wali Pati Rahim.
Lokasinya tepatnya berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. Salah satu pegiat sejarah di Kota Probolinggo yang juga merupakan warga setempat, Rudi Purwanto, 53, menceritakan beberapa versi cerita legenda asal muasal nama Sumber Arum.
Konon nama tersebut diambil dari nama seorang penari dan pesinden asal kerajaan Blambangan, Banyuwangi.
Ia bernama Nyai Sekar Arum. Nyai Sekar Arum bukanlah orang biasa. Ia adalah seorang bangsawan dari Blambangan yang memiliki paras jelita dan keahlian luar biasa dalam menari serta menyanyikan tembang Jawa.
“Dikisahkan, penari tersebut masih merupakan keturunan bangsawan. Konon, ia memiliki paras yang cantik jelita dan sangat piawai dalam hal menari serta nembang,” kata warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.
Nyai Sekar Arum memang suka melakukan perjalanan ke daerah-daerah bersama rombongan keseniannya.
Hingga suatu saat, tibalah ia di wilayah Banger (Probolinggo). Dirasa menemukan tempat yang tepat, akhirnya ia menetap di wilayah timur Banger (sekarang wilayah Kelurahan Mangunharjo).
Selama singgah di sana, Nyai Sekar Arum beserta rombongan keseniannya, aktif dengan kegiatan seninya.
“Ia juga kerap diundang dalam berbagai acara hajatan maupun acara resmi. Seperti kegiatan pemerintah di pendapa. Tujuannya, untuk menghibur masyarakat. Bahkan saat itu, ia pernah tampil tujuh hari tujuh malam. Namun, Nyai Sekar Arum tetap tampil secara maksimal,” kisah Rudi.
Parasnya yang cantik, tentu menjadi sorotan para penggedhe Probolinggo kala itu. Selain terkesima dengan penampilannya, mereka kepincut kemolekan Nyai Sekar Arum dan hendak mempersuntingnya.
Salah satu pembesar pemerintahan yang jatuh hati, adalah Kanjeng Tumenggung, yang merupakan penguasa wilayah yang ditugaskan untuk memimpin Banger oleh pemerintah kolonial.
Kanjeng Tumenggung, yang terkesima oleh kecantikan Nyai Sekar Arum, berusaha mempersuntingnya dan menjadikannya sebagai selir.
“Dengan penuh percaya diri, Tumenggung pun melamarnya. Tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Nyai Sekar Arum menolak lamarannya. Hal ini membuat Kanjeng Tumenggung murka. Sebab baru kali ini, ada perempuan yang berani menampik dijadikan seorang selir di wilayah Banger. Ia merasa disepelekan oleh seorang wanita, yang hanya seorang tandak atau sinden tersebut,” jelasnya.
Keadaan semakin rumit, ketika beberapa petinggi lain di wilayah Banger juga terpikat oleh pesona Nyai Sekar Arum.
Hal itu, menciptakan ketegangan di antara para pejabat yang saling bersaing, untuk mendapatkan perhatiannya.
Murka dan rasa malu Kanjeng Tumenggung semakin memuncak, saat melihat para pejabat lain juga tertarik kepada Nyai Sekar Arum.
Dalam upaya menjaga wibawanya, Kanjeng Tumenggung merancang skenario jahat, untuk menyingkirkan Nyai Sekar Arum.
Ia menebarkan fitnah bahwa Nyai Sekar Arum telah melakukan perbuatan tidak pantas dengan seorang penguasa Banger.
“Fitnah tersebut berhasil membuat Nyai Sekar Arum dianggap sebagai ancaman oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Akhirnya, sang sinden pun dihukum dengan cara diasingkan di luar kota dari pemukiman penduduk,” tuturnya.
Rudi menjelaskan, bahwa Nyai Sekar Arum diasingkan ke wilayah timur yang saat itu, masih berupa hutan belantara.
Daerah tersebut yang kini kerap disebut masyarakat dengan sebutan Joboan. Jobo artinya luar.
Di mana daerah tersebut memang berada di luar pusat pemerintahan Banger yang jauh dari keramaian. Ia diasingkan bersama seperangkat gamelan miliknya.
Munculnya Mata Air Sumber Arum
Hari demi hari, tahun berganti tahun, hukuman pengasingan yang dijalani oleh Nyai Sekar Arum, terasa makin berat.
Hingga suatu ketika, muncul perasaan ingin mengakhiri hidup. Akhirnya Nyai Sekar Arum moksa di tempat pengasingannya tersebut, tepatnya pada Malam Jumat Legi.
“Menjelang ajalnya, Nyai Sekar Arum menyampaikan sumpahnya. Apabila ia sudah tiada, maka di tempat ini akan muncul sumber mata air. Jika air tersebut berbau tak sedap, maka tuduhan yang selama dilempar padanya memang benar adanya. Akan tetapi, bila sumber mata air tersebut berbau harum, maka sebenarnya tuduhan-tuduhan tersebut adalah sebuah kebohongan belaka,” cerita pegiat sejarah di Kota Probolinggo Rudi Purwanto.
Benar saja, paska Nyai Sekar Arum meninggal. Jasadnya bak ditelan bumi dan muncullah sebuah mata air yang berbau harum.
Sejak saat itu, mata air yang ada di lokasi tersebut diberi nama Sumber Arum. Meski demikian, Rudi juga menceritakan versi lain yang berkembang di masyarakat.
Saat diasingkan oleh Kanjeng Tumenggung, Nyai Sekar Arum sengaja memilih tempat yang dekat dengan sumber mata air untuk bertahan hidup.
Sepeninggalan dirinya, mata air tersebut akhirnya disebut Sumber Arum untuk menghormati sang penari.
“Penari atau pesinden yang kala itu masih dipandang sebelah mata. Sehingga dipilihlah nama Arum, untuk memberi kesan positif yakni harum pada seorang penari. Hingga kini, masyarakat yang hendak memiliki hajat dari luar, wajib untuk membunyikan terlebih dahulu di Sumber Arum atau minimal dibunyikan gending pembukanya, harus menghadap ke arah Sumber Arum sebagai bentuk penghormatan. Bila tak demikian, biasanya gamelan sound hajatan tersebut tak berbunyi atau ada kendala,” tambah Rudi.
Kejadian yang melegenda tersebut, tetap melekat di benak masyarakat joboan dan sekitarnya. Bahkan sampai orde baru, masyarakat masih mendengar suara gamelan yang tak kasat mata tersebut setiap malam Jumat Legi.
Ada juga yang mengatakan, suara tersebut bisa didengar hingga wilayah Blambangan, Banyuwangi dan ke Pulau Madura.
Juru Kunci Makam Sumber Arum, Mistar, 73, mengatakan bahwa setiap Jumat Legi ada kegiatan rutin dari masyarakat sekitar, yaitu barikan atau nyadran.
Sementara ketika 1 Suro, sendang tersebut akan dikuras untuk dibersihkan. “Sebab kalau bukan 1 Suro, tidak bisa. Airnya tidak bakal surut,” ujarnya.
Mistar menambahkan, ada hal unik lain dari sendang tersebut, yakni adanya ikan tanpa daging alias hanya tulangnya saja. Namun ikan tersebut terakhir, terlihat pada tahun 1990.
“Untuk melihat ikan itu, pengunjung harus memiliki niat yang baik serta minta izin dulu pada Mbah Wali Sumber Arum. Kalau tidak izin, ikannya tidak mau menampakkan diri,” tutur Mistar.
Makam yang Dikeramatkan
Mbah Wali Sumber Arum merupakan seorang yang dipercaya berasal dari Pulau Madura. Ia dianggap sebagai pembabat alas daerah Joboan.
Ia merupakan seorang musyafir yang menyepi dan bertapa di daerah Sumber Arum bertahun-tahun.
Hingga lambat laun, daerah tersebut sedikit demi sedikit mulai ada pemukiman warga.
Semakin hari, semakin bertambah dan terus bertambah sampai terbentuklah sebuah dusun.
Sehingga, masyarakat sekitar memanggilnya dengan sebutan Mbah Wali Sumber Arum. Sampai pada waktu beliau wafat, masyarakat mensemayamkannya di sebelah barat mata air Sumber Arum.
Layaknya Sumber Arum, Makam Mbah Wali Sumber Arum pun juga dikeramatkan. Setiap malam Jumat Legi, selalu diadakan khotmil Quran dan barikan.
“Tak jarang masyarakat dari luar kota juga berdatangan ke sini. Ada yang dari Jakarta, Bojonegoro, Malang, Nganjuk dan dan daerah lainnya,” ujar Juru Kunci Makam Sumber Arum, Mistar, 73.
Kepentingannya pun beragam. Bahkan, tak jarang ada yang mendapatkan sebuah mustika saat berdoa.
Seperti yang dari Malang. Berhasil mendapatkan selendang. Konon, selendang itu hanya boleh digunakan saat malam hari, ketika melewati jalanan yang sepi dan rawan.
Mistar mengatakan, Makam Mbah Wali Sumber Arum diapit oleh sejumlah pohon besar yang memiliki penghuni masing-masing.
Ada yang bernama Wali Suci, Raden Bagus Tejowono, Raden Ayu Misayu, dan Siti Maryam.
Oleh sebab itu, Mistar menghimbau para pengunjung, agar tetap menjaga niatnya, tutur kata, serta perilaku selama berada di area pemakaman.
“Seluruhnya biasanya menampakkan diri saat menjelang Magrib. Paling sering yang Siti Maryam. Mereka akan menampakkan wujudnya yang cantik dan tampan pada orang-orang yang memiliki niat baik. Namun, bila orang itu memiliki niat buruk, biasanya ditampakkan wajah yang buruk pula. Sehingga para pengunjung tersebut akan ketakutan,” jelasnya.
Sementara itu, pegiat sejarah di Kota Probolinggo Rudi Purwanto, 53, menjelaskan selain Mbah Wali Sumber Arum, terdapat juga makam Mbah Wali Pati Rahim yang berada di sisi barat.
Makam tersebut juga disakralkan oleh masyarakat sekitar Sumber Arum. Rudi mengatakan, bahwa beliau merupakan kepala desa pertama yang membabat alas daerah Mangunharjo.
Nama aslinya Kerto Sari. Ia menguasai daerah Baremi dan tepian sungai Banger yang saat itu dinamakan Mangun Djayan (Kelurahan Sukabumi dan Mangunharjo kini).
Alkisah, setelah wafatnya Bupati Djoyo Negoro tata pemerintahan Probolinggo menjadi tidak teratur, membuat pemerintah kolonial pun mengganti Bupati Probolinggo hampir setiap 3 tahun sekali. Sehingga banyak bermunculan tokoh-tokoh.
“Seiring berjalannya waktu, pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan, bahwa ada beberapa daerah akan dijadikan sebuah desa. Desa tersebut nantinya akan dipimpin oleh seorang kepala desa. Salah satunya adalah Mangun Djayan yang dipimpin oleh Kades Kerto Sari dengan gelar Kades Mangun pada 1902. Tepatnya pada masa Bupati Raden Tumenggung Abdoel Moegani,” jelas Rudi.
Dengan kematangan dan kewibawaan yang dimiliki Kades Kerto Sari memimpin Desa Mangun Djayan, rasa cinta yang kuat terhadap warga membuat beliau sangat tertekan.
Karena di sisi lain beliau menolak kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial yang cenderung merugikan warganya.
Sehingga, beliau dipaksa untuk bermuka dua, demi melindungi warganya. Seolah-olah pro kolonial akan tetapi sebenarnya menentang kebijakan-kebijakannya.
Karena kewibaan dan karakter pemimpin yang penuh dengan kasih sayang, warga mempercayai bahwa beliau adalah seorang wali.
Jasadnya pun dimakamkan di pemakaman Sumber Arum dengan julukan Mbah Wali Pati Rahim.
“Artinya rasa kasih sayang terhadap warganya yang mati sebelum tercapai tujuan hidupnya. Yakni memerdekakan warga Mangun Djayan dari cengkraman penjajah,” tutur Rudi.
Rudi juga berpesan, bahwa kisah dan tempat ini merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang harus dijaga.
Agar tetap lestari dan tidak sampai tergerus oleh zaman. Semua ini adalah bagian dari upaya-upaya yang nyata dan sebagai bentuk antisipasi agar budaya tak tenggelam ditelan masa. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin