Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok dr R. Soedarsono, Dokter yang Diabadikan Sebagai Nama RSUD Kota Pasuruan

Fahrizal Firmani • Sabtu, 20 Juli 2024 | 20:10 WIB
DIABADIKAN: RSUD milik Pemkot Pasuruan yang akhirnya menggunakan nama dr R. Soedarsono untuk mengenang jasa dan mengabadikan namanya. Inset dr R Soedarsono semasa hidup.
DIABADIKAN: RSUD milik Pemkot Pasuruan yang akhirnya menggunakan nama dr R. Soedarsono untuk mengenang jasa dan mengabadikan namanya. Inset dr R Soedarsono semasa hidup.

NAMA dr R. Soedarsono mungkin tak asing bagi warga Kota Pasuruan.

Karena nama tersebut, erat dengan rumah sakit pelat merah milik Pemkot Pasuruan.

Namun, siapakah sosok dr. R Soedarsono, hingga namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit?

dr R. Soedarsono merupakan sosok dokter yang pernah ditugaskan di rumah sakit pemerintahan di Pasuruan.

Ia bahkan pernah memimpin rumah sakit di Pasuruan. Hingga akhirnya, namanya pun diabadikan menjadi rumah sakit di Kota Pasuruan.

Pemerhati sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono mengungkapkan, dr R. Soedarsono mulai bertugas di Pasuruan pada Juli 1932.

Ia menggantikan dr. Abdul Irzan yang sudah pensiun bertugas.

Sebelumnya, ia bertugas di kepulauan Rote di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat itu, Pasuruan bisa disebut “kaya” dengan dokter. Karena ada dua dokter Eropa. Yakni Dr. Ph. Italia dan Dr. L. J. J. De Wolf. Dan juga ada dua orang dokter pribumi saat Dr R. Soedarsono berdinas.

Jumlah pasien yang dirawat oleh dr. Soedarsono pada tahun pertamanya, sebanyak 460 orang.

Sebagian besar dirawat secara gratis. 70 persen pasien berasal dari Kabupaten Pasuruan. Sisanya berasal dari wilayah kotamadya.

“Pada masa dr R. Soedarsono menjabat, didirikan klinik desa kedua di wilayah Pasuruan. Setelah di Nguling, klinik kedua tersebut di Kecamatan Lekok,” jelas Budiman.

Dr R. Soedarsono sering memberikan kuliah umum tentang penyakit.

Pada 1935, ia pernah menyampaikan soal penyebab penyakit, pencemaran dan penularannya.

Ia juga menjelaskan soal kesehatan anak anak dengan bekerja sama dengan sekolah.

Pada 1935, ia terlibat dalam penggalangan dana untuk tuna netra.

Dan terkumpul uang 317 golden pada masa tersebut. lalu pada 1937, dr. R Soedarsono terlibat dalam menggaet anggota Palang Merah Indonesia di Pasuruan.

“Dr R. Soedarsono terlibat aktif dalam kesehatan masyarakat. Ia juga ikut dalam memberikan kursus gratis tentang pertolongan pertama,” kata Budiman.

Pada koran lama terbitan Belanda, disebutkan jika di tahun 1937, dr R Soedarsono pernah menjadi penasihat medis untuk biro penanggulangan penyakit tuberkulosis. Waktu itu, ia sering menyampaikan, jika TBC bisa ditanggulangi.

“Juga disebutkan dalam koran lama, jika dr R Soedarsono pernah memberikan kuliah tentang kanker di gedung Harmoni,” sebut Budiman.

PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Makam dr R. Soedarsono bersama keluarga di Astana Mulja Probolinggo.
PERISTIRAHATAN TERAKHIR: Makam dr R. Soedarsono bersama keluarga di Astana Mulja Probolinggo.

 

Tewas Bersama Keluarga dalam Kecelakaan Mobil

Pada masa pendudukan Jepang, semua orang Belanda dan Eropa masuk dalam kamp tawanan Jepang.

Maka sejak itu, dr R. Soedarsono menjadi dokter yang bertanggung jawab dan memimpin rumah sakit daerah di Pasuruan.

Lalu, pada masa perang kemerdekaan tahun 1945 hingga 1947, disebutkan jika dr R Soedarsono terlibat dalam kamp interniran di Chinese School (sekarang SD/SMP Sang Timur).

Ia tercatat sebagai petugas medis bagi perempuan dan anak anak.

Namun, hidup dr R Soedarsono berakhir tragis. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan mobil pada 1955.

Selain dirinya, ada delapan orang lain yang ikut meninggal dunia. Dan tiga orang mengalami luka berat.

Dalam koran terbitan tahun 1955, disebutkan jika dr R.Soedarsono berencana kembali ke Pasuruan, usai mengunjungi orang tuanya di Probolinggo.

Namun nahas, sedan Pontiac N 4281 yang ditumpanginya, tergelincir dan menabrak pohon asem.

Karena melaju dengan kecepatan tinggi, lima orang langsung tewas di lokasi. Yakni dr R Soedarsono, istrinya, putrinya, mahasiswi fakultas kedokteran Surabaya, anaknya yang berusia tiga bulan dan Sriwoelan yang merupakan putri ketua Pengadilan Negeri Malang.

“Empat penumpang lain, yakni dua anak dari Dr R Soedarsono, asisten beserta pengasuh, kemudian meninggal di rumah sakit Probolinggo,” tutur Budiman.

Sembilan orang yang tewas ini, dimakamkan di Astana Mulja.

Astana Mulja bukanlah pemakaman umum. Makam tersebut, didirikan tahun 1915, sebagai makam perkumpulan kematian khusus anggotanya. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kota pasuruan #rsud #dr R soedarsono