Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Tentang Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Jadi Saksi Bisu Perebutan Kepala Minak Jinggo

Inneke Agustin • Sabtu, 13 Juli 2024 | 22:07 WIB
KERAMAT: Sejumlah makam keramat di Desa Karanggeger yang dipercaya merupakan makam para prajurit yang gugur ketika perang perebutan kepala Minak Jinggo.
KERAMAT: Sejumlah makam keramat di Desa Karanggeger yang dipercaya merupakan makam para prajurit yang gugur ketika perang perebutan kepala Minak Jinggo.

DESA Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, dipercaya menjadi salah satu tempat yang menjadi saksi bisu tentang kejadian bersejarah pada masa kerajaan.

Konon, desa ini menjadi tempat perebutan kepala Minak Jinggo, penguasa Blambangan di timur.

Salah seorang peneliti sejarah di Kota Probolinggo, Abdul Rohman mengatakan, kisah ini bermula ketika Ratu Ayu Kencono Wungu yang menolak lamaran Minak Jinggo akibat wajahnya yang buruk rupa.

Alhasil, Ratu Ayu mengadakan sayembara yang dimenangkan oleh Damar Wulan.

“Damar Wulan diminta untuk membunuh Minak Jinggo. Bila berhasil, maka akan dinikahi dan dijadikan raja Majapahit,” kata pria yang berdomisili di Dusun Asinan, Desa Pesawahan, Kecamatan Tiris.

Setelah berhasil mengalahkan Minak Jinggo, Damar Wulan bergegas kembali ke kerajaan untuk menyerahkan kepada sang ratu.

Namun, perjalanan tersebut tidaklah mudah. Di tengah perjalanan, pasukan Damar Wulan dihadang oleh pasukan dari Blambangan, yang ingin merebut kepala Minak Jinggo tersebut.

“Sebab, kepala Minak Jinggo tersebut layaknya bukti penting, bahwa penguasa Blambangan telah berhasil dikalahkan,” kisahnya.

Damar Wulan sempat bertarung dengan Layang Seto dan Layang Kumitir yang merupakan anak dari Patih Logender. Keduanya iri dengan keberhasilan Damar Wulan.

Dalam pertarungan itu, tak sedikit prajurit dari kedua kubu yang berguguran. Namun akhirnya, kepala tersebut berhasil dimenangkan oleh Damar Wulan.

Sementara Layang Seto dan Layang Gumitir, tewas terbunuh.

Diperkirakan, lokasi pertempuran ini ada di daerah Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.

“Karanggeger berasal dari Bahasa Jawa. Karang artinya daerah atau tempat atau pemukiman. Sementara Geger dari kata Ghegher. Artinya bertarung atau berkelahi atau marah,” kata pria yang akrab dipanggil Cak Eko ini.

 

Makam Keramat di Desa Karanggeger

Di Desa Karanggeger, juga terdapat sebuah kompleks makam keramat yang berada di tepi jalan raya pantura.

Tepatnya di barat kantor desa. Kompleks makam ini, juga dikenal sebagai petilasan para prajurit perang, yang gugur ketika perebutan kepala Minak Jinggo.

Tampak terdapat 10 pasang nisan berjajar di makam tersebut. Suasana mistis dan penuh kharisma, menyelimuti makam-makam ini.

Tak heran, bila kompleks makam ini menjadi pusat perhatian. Bahkan, sering dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah. Terutama pada malam Jumat.

“Banyak orang datang dengan tujuan sekadar berziarah, memohon kekuatan batin, hingga memohon kesejahteraan dan keberuntungan. Macam-macam,” kata Kasi Kesejahteraan Desa Karanggeger, Abdullah.

Abdullah mengatakan, bahwa tak jarang beberapa peziarah mendapatkan gaman atau senjata keramat di makam itu.

 

“Bagi mereka yang memang memiliki ilmu untuk menarik gaman, biasanya dapat,” imbuhnya.

Abdullah mengatakan, bahwa bagi para pengunjung yang hendak berziarah, diwajibkan untuk menjaga sopan santun dan tidak berkata kotor.

Terlebih melakukan tindakan yang tidak pantas. Konon, mereka yang tidak mematuhi aturan ini, akan merasakan dampak buruk ataupun kesialan.

Begitu juga bagi para pengendara kendaraan yang kebetulan melintas, di jalan raya pantura.

Khususnya, yang berdekatan dengan posisi makam. Diharapkan untuk terus berhati-hati. Tetap jaga konsentrasi dan membaca doa ketika melintas.

“Sebab kadang ada saja kecelakaan di sini. Ketika korbannya ditanya, rata-rata menjawab, mereka melihat ada orang yang tiba-tiba menyeberang. Padahal tidak ada,” jelasnya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#desa karanggeger #prajurit #makam #kencono wungu #minak jinggo