SEBUAH sumber air di Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, memiliki cerita mistis yang melekat di tengah masyarakat.
Selain dikenal angker, air dari sumber setempat juga dipercaya bisa menjadi obat. Konon, banyak yang sudah merasakan manfaat.
Sumber tersebut, dikenal dengan nama Sumber Buntung. Lokasinya berada di Dusun Buntut, Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.
Keberadaannya menghiasi lahan Tanah Kas Desa (TKD) Gajahrejo.
Keberadaan sumber air ini, sudah diketahui warga sejak lama.
Karena menjadi satu-satunya sumber air, di Dusun Buntut. Bahkan, menjadi yang terbesar di desa setempat.
Kepala Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kasiyono mengatakan, Sumber Buntung memiliki debit air yang terbilang stabil.
Airnya senantiasa mengalir. Tidak hanya saat musim penghujan. Bahkan, ketika musim kemarau sekalipun.
“Airnya jernih dan cukup dingin. Bisa dirasakan sendiri dengan mencobanya datang langsung ke lokasi. Alhamdulillah, kondisinya terawat dengan baik sampai sekarang,” ungkap Kasiyono sembari berpromosi.
Meski begitu, Sumber Buntung memiliki cerita mistis di kalangan masyarakat. Banyak yang percaya, kalau Sumber Buntung, merupakan tempat yang angker.
“Beberapa kali ada kejadian orang kesurupan, saat berada di lokasi sumber. Meski untuk penampakan makhluk halus, jarang terdengar,” jelas Kepala Dusun Buntut, Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Moch. Slamet.
Karena kewingitannya itulah, Sumber Buntung sering menjadi jujukan, mereka yang datang untuk melakukan ritual.
Tak hanya warga desa setempat. Tetapi juga, dari luar daerah.
Biasanya, mereka datang ketika momen tertentu. Seperti malam Jumat Legi, bulan Suro atau momen lainnya.
“Tidak ada pantangan kalau datang ke sumber air ini. Yang terpenting, bersikap baik dan tidak aneh-aneh, sudah cukup,” sampainya.
Slamet menambahkan, Sumber Buntung juga dipercaya memiliki khasiat. Yakni untuk penyembuhan berbagai penyakit. Seperti penyakit kulit ataupun penyakit lainnya.
Sumber air yang juga memiliki sebutan Kali Kebon itu, banyak dimanfaatkan warga. Khususnya, untuk dikonsumsi, saat musim kemarau.
“Kalau musim kemarau seperti sekarang, sejumlah warga termasuk dari desa sekitar datang ke sumber ini. Mereka memanfaatkannya, untuk dikonsumsi,” tukas dia.
Dimanfaatkan Untuk HIPPAM, Pemandian Hingga Kolam Pancing
Air yang mengalir dari Sumber Buntung, dimanfaatkan secara beragam. Selama ini, sebagian besar airnya memang dipergunakan untuk pengairan sawah.
Namun di luar itu, Pemdes Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, juga memanfaatkannya untuk Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM), yang mengalir ke sejumlah rumah warga di Dusun Buntut dan sekitarnya.
Penggunaan air Sumber Buntung, tak sebatas itu. Air yang mengalir dari sumber tersebut, juga dipergunakan warga untuk kolam mandi dan kolam pemancingan.
“Airnya dari Sumber Buntung ini, membawa berkah karena kaya akan manfaat. Selain untuk pengairan sawah, kami juga memanfaatkan untuk HIPPAM, kolam mandi dan kolam pancing,” ungkap Kepala Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kasiyono.
Untuk kolam pemandian, bentuknya mirip sebuah kolam renang mini yang sederhana. Jumlahnya, dua kolam. Masing-masing untuk anak-anak dan dewasa.
Lokasinya tepat di utara Sumber Buntung. Airnya mengalir langsung, dari sumber air tersebut.
Kolam tersebut, dibangun sejak 2018 lalu oleh Pemdes Gajahrejo. Pembiayaannya, melalui Dana Desa.
Kolam setempat, setiap harinya menjadi jujukan warga. Mereka datang untuk mandi dan berenang. Terutama liburan sekolah, seperti sekarang, selalu ramai.
“Kolamnya kami bangun sebagai destinasi wisata. Airnya jernih dan cukup dingin serta segar. Karena langsung mengalir dari Sumber Buntung. Ini yang membuat kolam setempat, menjadi jujukan warga,” tuturnya.
Bisa Dijangkau dengan Naik Motor
Akses menuju lokasi Sumber Buntung, Dusun Buntut, Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, terbilang mudah.
Warga yang hendak ke lokasi, bisa melaluinya dengan jalan kaki, atau bersepeda motor.
Lokasinya pun terjangkau. Dari jalan desa, hanya berjarak sekitar 100 meter. Warga bisa melalui jalan berpaving untuk ke lokasi.
“Dahulu, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun sekarang, bisa mengendarai motor usai dipaving tahun 2018 lalu. Hal ini, untuk memudahkan warga yang menuju Sumber,” beber Kepala Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kasiyono.
Karena memiliki banyak manfaat, warga dan Pemdes setempat, memiliki tanggung jawab untuk melestarikannya.
Hal ini diperlukan, agar sumber air setempat, bisa terus digunakan oleh lintas generasi. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin