Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kisah Mbah Bujuk Adri, Pembabat Alas Daerah Triwung-Kota Probolinggo yang Disebut-sebut Memiliki Karomah

Inneke Agustin • Sabtu, 1 Juni 2024 | 19:35 WIB
GERBANG: Ular naga menjadi penghias pada gerbang menuju pesarean Mbah Bujuk Adri.
GERBANG: Ular naga menjadi penghias pada gerbang menuju pesarean Mbah Bujuk Adri.

CERITA tentang sosok Mbah Bujuk Adri melegenda hingga saat ini. Ia merupakan seorang tokoh yang bijaksana.

Pendatang dari Madura yang bermukim di daerah Triwung, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo tersebut, disebut-sebut sakti dan memiliki karomah.

Mbah Bujuk Adri tinggal di Kota Probolinggo bersama sang istri Mbah Arsina. Keduanya dimakamkan bersebelahan di pesarean, Kelurahan Triwung Lor.

Mbah Bujuk Adri di sebelah timur, sementara sang istri di sebelah barat.

Pesareannya berada di dalam ruangan yang bernuansa hijau. Bahkan makam keduanya, juga ditutup oleh kain hijau.

Semasa hidupnya, Mbah Bujuk Adri dikenal sebagai figur yang memiliki tekad yang kuat.

PESAREAN: Pesarean Mbah Bujuk Adri yang berada di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Nuansa hijau menghiasi pesarean tersebut.
PESAREAN: Pesarean Mbah Bujuk Adri yang berada di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Nuansa hijau menghiasi pesarean tersebut.

Untuk membuka lahan atau membabat alas di daerah tempatnya tinggal, yang banyak ditumbuhi Pohon Trebung (bahasa Madura dari Pohon Siwalan).

“Dulu di sini banyak Pohon Siwalan. Orang Madura menyebutnya Pohon Trebung. Makanya sekarang pun, daerah ini kadang disebut Trebungan atau Triwungan,” kata Iwan Cahyono selaku Lurah Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Sementara itu, sesepuh daerah Triwung Lor, Santoso, 68, mengatakan pada 1955, daerah tersebut masih banyak ditumbuhi Pohon Siwalan.

Namun, seiring berjalannya waktu, pohon-pohon tersebut banyak yang ditebang. Lahannya dijadikan sebagai pemukiman warga.

“Sekarang, sepertinya sudah tidak ada lagi Pohon Trebung di sini. Kalau dulu pusatnya di RW 01 sana. Daerah Triwung, juga telah terbagi menjadi Triwung Lor dan Triwung Kidul,” ungkapnya.

Santoso menambahkan, sebelum memetik buah Siwalan, biasanya terdapat ritual berupa pembacaan kidung dalam bahasa Madura.

Kidung tersebut berisi doa yang dilagukan.

“Jadi tidak bisa asal ambil. Harus ada ritualnya dulu. Ini agar seluruh masyarakat selamat dan tidak mudah lelah atau mengantuk ketika ambil buah siwalan. Kan pohonnya tinggi, khawatir lelah atau mengantuk nanti jatuh,” bebernya.

 

Makam dan Karomah Mbah Bujuk Adri

Makam Mbah Bujuk Adri terletak di Kelurahan Triwung Lor.

Makam tersebut, tak pernah sepi pengunjung tiap harinya, terlebih pada malam Jumat. Ada saja yang tirakat di sana untuk berdoa.

“Kalau kegiatan rutin tahunan ya saat Suroan. Biasanya ada sholawatan dan doa bersama di sana mulai ba`da Isya hingga pukul 23.30,” kata Santoso, 68, sesepuh daerah Triwung Lor, Kecamatan Kademangan.

Bahkan, ia mengaku pernah melakukan tirakat di makam tersebut, pada saat lulus Sekolah Menengah Pertama sekitar tahun 1978.

MAKAM: Santoso, 68 (kanan) dan Tohir Yanto, 37 (kiri) saat berdoa di ruangan pesarean Mbah Bujuk Adri, di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.
MAKAM: Santoso, 68 (kanan) dan Tohir Yanto, 37 (kiri) saat berdoa di ruangan pesarean Mbah Bujuk Adri, di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Ia meminta agar dilancarkan mencari pekerjaan setelah lulus.

Namun karena masih remaja, ia tidak kuat terjaga sepanjang malam. Ia malah ketiduran.

Baru bangun keesokan paginya. “Tapi Alhamdulillah dapat pekerjaan,” imbuh Ketua RW 03 Kelurahan Triwung Lor ini sambil tertawa.

Di lokasi, pengunjung akan disuguhkan suasana rindang dari sebuah Pohon Beringin berusia puluhan tahun.

Ukurannya sangat besar. Sehingga membuat sejuk daerah pesarean.

Diperkirakan, pohon tersebut sudah ada sejak tahun 1920. Makanya tak heran, jika kondisinya bisa sangat besar.

Salah satu warga setempat, Tohir Yanto, 37 mengatakan, Mbah Bujuk Adri dipercaya sebagai orang yang sakti.

Kesaktiannya pernah tampak, ketika ada angin puting beliung yang hendak menerjang daerah Triwung. Ia mampu menghalaunya dan mengalihkan ke arah lain.

Tak hanya mendengar dari kisah orang lain. Tohir mengaku, dirinya pun pernah membuktikan kesaktian atau karomah dari Mbah Bujuk Adri.

Sekitar 10 tahun yang lalu, istri Tohir tengah mengandung. Sayangnya, sang anak divonis akan lahir dengan sebuah kekurangan.

“Dokternya sudah bilang, bahwa anak saya akan cacat di bagian tangan. Bila dilanjutkan, entah anak saya atau istri saya yang tidak selamat. Kami sedih dan bingung harus bagaimana saat itu. Bahkan, istri saya tiap dua minggu sekali, kesakitan dan harus dirawat inap di rumah sakit. Akhirnya diberi saran, untuk tirakat di makam Mbah Bujuk Adri ini,” kenangnya.

Tohir pun mencoba alternatif tersebut. Ia datang ke makam dan berdoa di sana.

Tiap hari selama kurang lebih 40 hari. Mulai malam hingga menjelang pagi hari.

“Saya berdoa untuk kesembuhan istri saya dan keselamatan anak saya. Itu saja tujuan saya, tidak ada yang lain,” tutur dia.

Hingga suatu hari, ketika sedang tirakat, Tohir merasa diawasi oleh seekor ular piton besar.

Tubuh ular tersebut melingkar di langit-langit bangunan pesarean. Sementara kepalanya, turun mendekati Tohir.

Di kepalanya seperti ada mahkota. Ular tersebut terus mendekatinya.

Bahkan menjulurkan lidah. Pada lidah ular itu, ada mustika warna biru yang sangat bercahaya.

“Namun dari hati, saya katakan, tidak. Saya tidak mau hal lain selain kesembuhan istri dan anak saya. Lantas ular tersebut pergi,” sampainya.

Tak lama kemudian, tiba waktu persalinan sang istri. Tohir mengatakan, istrinya melahirkan secara normal di salah satu bidan dekat rumahnya.

Ketika istrinya lahiran, tiba-tiba lampu dalam ruangan meledak.

Padahal, lampu itu diperlukan, untuk menyorot persalinan. Akhirnya, ia pun membantu untuk memegang bayinya saat itu.

Ia mengecek tubuh si bayi. Mulai dari ke dua tangan hingga ke dua kaki anaknya.

“Setelah keluar samua, ternyata anak saya normal. Alhamdulillah,” kisah dia.

Tak hanya itu, Tohir juga pernah merekomendasikan kepada temannya, untuk tirakat di sana.

Saat itu, temannya tengah tertimpa musibah. Motornya hilang dicuri orang. Motor tersebut, sebetulnya bukan milik temannya itu. Melainkan sepupunya.

Namun gara-gara motor itu hilang, sepupunya hampir berpisah dengan istrinya. “Jadi dia kasihan, akhirnya bantu cari. Termasuk saya. Tapi sudah saya usahakan cari hingga ke Tiris dan Krucil, tidak ketemu. Walhasil saya agak putus asa, karena capek saat itu. Iseng-iseng saya minta teman saya tersebut, untuk tirakat di makam,” urainya.

Keisengan tersebut, ternyata disambut serius oleh teman Tohir.

Ia lantas tirakat di Makam Mbah Bujuk Adri. Ditemani Tohir yang menunggu di luar ruangan pesarean.

Tohir melihat, temannya itu sampai menangis-nangis. Berdoa, agar motornya segera ditemukan.

Ia pun mengaku, sempat merasa nggak enak dengan temannya. Karena keisengannya, malah ditanggapi serius.

Berhari-hari lamanya, si teman Tohir tersebut, melakukan tirakat tersebut. Hingga akhirnya ia bermimpi.

Di mimpinya tersebut, ia bertemu sang pencuri yang ternyata perempuan, di sebuah persimpangan jalan di daerah Pesisir.

“Bertemunya tidak sengaja, seperti hampir tertabrak begitu. Ketika teman saya mengantar ibunya ke daerah Pesisir, hal yang mirip dengan mimpinya terjadi. Langsung pencuri tersebut ditangkap dan dilaporkan ke polisi. Padahal dia tidak tahu muka pencurinya. Ibunya pun sempat mencegah agar tidak melakukan penangkapan, karena khawatir salah orang. Tapi akhirnya, perempuan itu mengakui ia pencurinya. Bisa setepat itu,” cerita Tohir.

 

Dilarang Berniat, Berkata, dan Berbuat Tidak Baik di Area Makam

Mbah Bujuk Adri memang dikenal memiliki karomah. Meski demikian, Salah satu warga Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Tohir Yanto, 37, mengatakan, jangan sekali-kali memiliki niat ataupun berkata yang tidak baik.

Terlebih hingga berbuat tidak baik di area pemakaman Mbah Bujuk Adri.

“Harus jaga sopan santun dan kesucian bila hendak ke sini. Sebab bila tidak, maka orang tersebut nantinya bisa mendapat masalah. Ya ada saja masalah yang diterima nantinya,” ungkanya.

Tohir mengatakan, sosok Mbah Bujuk Adri adalah orang yang senang membantu orang lain.

Contohnya, ketika masyarakat hanya bergumam andai ada pembangunan tembok di area sekitar pasti lebih bagus lagi.

Anginnya bisa lebih teredam, tidak terlalu besar. “Besoknya langsung datang bantuan bata. Jadi Mbah Bujuk Adri ini sangat loman orangnya,” kata dia. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#Pesarean #Tirakat #makam #karomah