DESA Clarak, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, memiliki kisah yang melegenda.
Kisah itu terjaga sejak turun temurun. Dari cerita soal sosok raksasa penjaga, pembabat alas hingga perkembangan desa seperti sekarang.
Desa Clarak berlokasi di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.
Desa ini memiliki empat dusun yaitu Dusun Krajan I, Dusun Krajan II, Dusun Karang Tengah, dan Dusun Karang Anyar.
Kaur Keuangan Desa Clarak, Arif Budianto, 45 mengisahkan, dahulu Desa Clarak berupa hutan belantara. Hutan tersebut dijaga oleh sesosok raksasa.
Konon, barang siapa yang bisa mengalahkan raksasa tersebut, maka ia bisa menduduki desa tersebut.
Sekian lamanya, tak ada satupun yang bisa mengalahkan raksasa tersebut. Hingga datanglah seorang yang dikenal sakti mandraguna.
Ia bernama Mbah Nyono. Mbah Nyono, lantas melalukan pertarungan secara sengit dengan raksasa.
Pertarungan panjang itu, memakan waktu, hingga tujuh hari tujuh malam.
“Akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Mbah Nyono. Sementara raksasa yang kalah, mendapat celaka. Dan diarak ke seluruh wilayah desa,” tutur Arif.
Dari situlah, desa tersebut disebut Desa Clarak. Clarak sendiri merupakan gabungan kata dari Bahasa Madura, Celakak dan Arak.
Celakak atau celaka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki makna mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan, atau malang, serta sial.
Sementara Arak dalam KBBI, berarti berjalan bersama-sama dengan beriring-iring.
“Karena sudah berhasil mengalahkan raksasa penunggu di hutan ini, Mbah Nyono mulai babat alas. Di mulai dari Dusun Karang Tengah yang dulunya banyak tumbuhan bambu atau alas bambu. Itu ditebangi semua hingga jadi lahan untuk perkampungan. Baru kemudian pindah ke Dusun Karang Anyar,” jelas Arif.
Mbah Nyono Sosok Dihormati dan Jadi Panutan
Makam Mbah Nyono hingga kini tampak begitu terawat. Makam tersebut berada di RT 01/RW 01 Dusun Krajan I.
Di belakang lokasi makam, tampak pemandangan kendaran yang melintas di Tol Seksi Probolinggo Timur – Gending.
Makam tersebut kini dirawat oleh keturunan ke-tujuh dari Mbah Nyono, yaitu Miskadi, 61.
Miskadi mengatakan, silsilah keturunan Mbah Nyono kemudian dilanjutkan oleh Mbah Kiwo, lalu Mbah Tiwi, Mbah Tawi, Mbah Noto, dan Mbah Darpo. Mbah Darpo merupakan ayah dari Miskadi.
“Makam tersebut diletakkan di dalam ruangan. Namun, dahulu bangunannya masih kurang bagus. Hingga akhirnya, saya pugar agar tampak bagus,” ungkap Miskadi yang juga merupakan juru kunci makam tersebut.
Miskadi mengatakan, makam Mbah Nyono berdampingan dengan istrinya.
Selain itu ada makam berukuran kecil, yang juga berada di dalam ruangan tersebut. Sayangnya, Miskadi mengaku tidak tahu itu makam siapa.
Ia mengatakan, selain sakti, Mbah Nyono terkenal taat dalam hal agama.
Ia juga menyebarkan agama Islam pada penduduk Desa Clarak selama hidupnya.
“Tak heran bila kemudian, ia menjadi panutan dan dihormati oleh masyarakat setempat. Bahkan, hingga sekarang,” katanya.
Hingga saat ini, sejumlah masyarakat percaya bila hendak menggelar hajatan, harus izin terlebih dahulu kepada Mbah Nyono selaku sesepuh pendiri Desa Clarak.
Tak hanya itu, setiap malam Jumat Legi, masyarakat kerap melakukan tahlil di punden Mbah Nyono.
“Sebab dahulu pernah ada yang hendak melaksanakan hajat di sini, tidak pamitan. Tiba-tiba hujan deras. Padahal, sedang musim kemarau. Jadi, disarankan memang untuk setidaknya permisi dulu seminggu sebelum digelar. Agar tidak seperti itu, hujan,” jelas Miskadi.
Bahkan, ketika proses pembangunan jalan tol. Miskadi mengatakan, kalau di sana, diadakan selamatan sebagai bentuk mohon izin.
Selamatan tersebut dihadiri oleh para pekerja tol, perangkat desa, dan tokoh agama di Desa Clarak.
“Kami bawa tumpeng. Setelah berdoa, kemudian makam bersama. Ini agar proses pembangunan tol lancar. Ya Alhamdulillah memang lancar hingga rampung,” kenangnya.
Makam Mbah Nyono Dikenal Keramat
Miskadi, juru kunci makam Mbah Nyono mengatakan, tak hanya masyarakat Desa Clarak, yang mendatangi makam setempat.
Karena, makam Mbah Nyono juga banyak disambangi oleh masyarakat dari luar Kabupaten Probolinggo.
Tujuan mereka bermacam-macam. Ada yang hanya berdoa dan ada juga yang hingga tirakat selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
“Ya bermalam di dalam ruangan tersebut. Bisa sendiri atau bersama-sama. Yang penting pesannya, jangan meminta hal-hal yang aneh-aneh. Soalnya dahulu, ada juga yang tirakat tapi mungkin permintaannya tidak baik atau salah minta. Ketika pagi hari, itu orangnya tiba-tiba ditemukan di pinggir sungai dekat makam. Katanya dilempar ke sana,” tuturnya.
Namun ketika seseorang itu meminta hal-hal yang baik, tingkah lakunya baik, dan ucapannya juga baik. Mayoritas dari mereka, tak pulang dengan tangan hampa. “Biasanya dapat saja benda-benda seperti keris dan cincin. Itu berarti doanya baik dan Mbah Nyono suka. Sehingga ia welas terhadap orang tersebut,” imbuhnya.
Selain itu, ada juga kisah tentang 10 pekerja yang ditemukan pingsan di makam.
Sebelumnya, para pekerja tersebut diketahui tengah melakukan renovasi bangunan punden Mbah Nyono.
“Saya tidak tahu awal mulanya kenapa. Tapi kemungkinan, mereka ini berkata kasar ketika di makam. Sehingga mendapat akibat itu tadi. Mereka pingsan berjamaah. Ya, saya hanya mengingatkan, lain kali kalau bicara di makam, jangan menggunakan kata-kata yang kasar atau jorok,” sambung Miskadi. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin