KECELAKAAN Kereta Api di Sengonagung, Kecamatan Purwosari, 82 tahun silam, menjadi tragedi yang mengerikan.
Puluhan orang meninggal dan mengalami luka-luka imbas kejadian tersebut. Hingga kini, kisahnya masih dikenang.
Langit malam bagai selembar kain hitam pekat.
Dihiasi gemerlap bintang yang seakan tak peduli dengan tragedi yang akan segera terjadi.
Di bawahnya, rel kereta api di Pasuruan menjadi saksi bisu tabrakan dahsyat dua kereta yang akan mengoyak ketenangan malam.
Kamis dini hari, 5 Februari 1942, lebih dari 10 windu silam, menjadi momen petaka. Memicu puluhan nyawa melayang, dan menyebabkan lebih banyak lagi orang cacat seumur hidupnya.
Di antara Stasiun Lawang dan Bangil, tepatnya sekitar 2 kilometer di utara Stasiun Sengon, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, drama maut itu berlangsung.
Kereta api penumpang dari Malang, yang membawa para tentara Inggris, beradu moncong dengan kereta api barang dari Surabaya.
Tabrakan ini menelan korban jiwa paling sedikit 20 orang tentara Inggris dan sekitar 75 orang lainnya luka-luka.
Anehnya, tak ada ledakan atau kobaran api yang menyertai tragedi ini. Meski kereta barang mengangkut bom dan dipenuhi bahan bakar.
Pertanyaan tentang penyebab pasti kecelakaan, nama-nama korban, dan nilai kerugian masih menjadi misteri, bagai teka-teki yang tak kunjung terpecahkan.
“Hanya beberapa koran lokal yang memuat peristiwa ini,” tutur Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan.
Soerabaijasch Handelsblad, Bataviaasch Nieuwsblad, dan De Indische Courant mengabadikan tragedi ini di atas kertas.
Di Eropa, berita ini tak terdengar. Tertelan oleh hiruk pikuk peperangan yang melanda.
“Mungkin saja, dokumen-dokumen penting hilang atau dimusnahkan saat pendudukan Jepang setelahnya,” sambung Budiman, berusaha menerka asal-usul misteri di balik tragedi ini.
Kecelakaan ini memang terjadi di tengah kesibukan dan persiapan pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi invasi tentara Jepang.
Gerbong kereta yang dipandu supervisor masinis Sassen itu sebenarnya menghindari bencana.
Sebab, begitu memasuki Jawa Timur, perjalanan mereka dari Batavia ke Surabaya, singgah sebentar di stasiun Kertosono.
Namun perjalanan menuju Surabaya terhambat. Banjir menyumbat jalur antara stasiun Kertosono dan stasiun Jombang.
Sehingga kereta ekspres tujuan akhir Surabaya itu, harus memutar lantaran dialihkan lewat Kediri–Blitar–Malang dan berakhir di Surabaya.
Namun petaka tak terelakkan. Kereta melaju kencang setelah melintasi stasiun Lawang.
Petugas memberi sinyal semaphore di stasiun Sengon, Kecamatan Purwosari. Maksudnya, kedua kereta akan bertemu di simpang Sengon.
Upaya menghentikan laju kereta yang sudah mencapai 90 kilometer per jam, tak membuahkan hasil.
Pengereman gagal total. Kereta penumpang berkapasitas 19 gerbong itu meluncur dengan cepat menuruni lereng curam.
Beberapa detik sebelum bencana tiba, supervisor masinis Sassen melompat dari lokomotif terdepan.
Tabrakan pun tak terhindarkan dengan kereta api barang yang melaju dari arah berlawanan.
Soerabaijasch Handelsblad menulis, benturan keras dua kereta itu seperti petir yang menggelegar.
Gemuruhnya mendengung ke sawah-sawah dan ladang-ladang yang terbentang di kedua sisi rel kereta api.
Sassen lolos dari maut sembari meninggalkan masinis malang yang segera dijemput ajalnya.
Dari sekian banyak penumpang, sekitar 20 orang diperkirakan tewas. Para penumpang kereta api yang terluka, terjebak diantara puing-puing gerbong yang hancur.
Suara jerit dan tangisan memenuhi udara, sementara asap hitam mengepul di langit.
Tim penyelamat dari Malang bergegas ke lokasi kejadian untuk membantu para korban. Sebagian dari mereka harus menuju lokasi dengan berjalan kaki lantaran sempitnya akses yang dihimpit ladang.
Para korban terluka diangkut Kereta Palang Merah yang diberangkatkan dari Malang. Sebagian dibawa ke rumah sakit di Malang dan Bangil.
Sementara korban tewas dimakamkan di Sukun, Malang.
Menjadi Kecelakaan KA Terburuk di Jawa
Kecelakaan kereta api di Sengon itu menjadi salah satu tragedi terburuk dalam sejarah perkeretaapian di Jawa.
Ironisnya, insiden itu diduga terjadi akibat kecerobohan.
Budiman Suharjono, pemerhati sejarah Pasuruan menjelaskan, fakta tersebut terungkap dalam laporan yang dibuat oleh J. H. Boerstra. Mantan Walikota Malang.
Kereta itu meninggalkan Batavia tanggal 4 Februari pagi hari.
Sorenya, tiba di Kertosono. Namun kereta tidak dapat melanjutkan perjalanannya, karena rel kereta api di sebelah timur Kertosono tersumbat akibat banjir.
Sementara para tentara harus tiba di Surabaya malam itu juga.
Ir. Knoop, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Operasi Perkeretaapian Jalur Timur menghubungi staf Divisi III di Surabaya agar menyediakan sejumlah truk untuk menjemput tentara Inggris di Kertosono.
Namun saat itu tidak tersedia truk dalam jumlah yang cukup. Mau tak mau, perjalanan tentara Inggris harus dialihkan melalui relasi Kediri, Blitar, Malang.
“Masalahnya, saat itu belum tersedia lokomotif gunung, sehingga digunakan lokomotif yang daya pengeremannya ternyata tidak mencukupi untuk kereta berat. Disinilah petaka bermula,” beber Budiman mengutip laporan J.H. Boerstra. (tom/one)
Editor : Ronald Fernando