Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Sumber Mata Air Pancoran Tegalsiwalan-Probolinggo Dipercaya Sebagai Tempat Mandi Bidadari

Inneke Agustin • Sabtu, 4 Mei 2024 | 16:19 WIB
BASUH: Kepala Desa Banjarsawah Rendy Mamang Amad Wahyudi membasuh muka di Sumber Mata Air Pancoran. Di Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.
BASUH: Kepala Desa Banjarsawah Rendy Mamang Amad Wahyudi membasuh muka di Sumber Mata Air Pancoran. Di Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

DI Desa Banjarsawah ada namanya Dusun Pancoran. Di dusun ini, memiliki sumber mata air yang cukup terkenal. Namanya, Sumber Air Pancoran. Konon, sumber air ini menjadi tempat mandinya bidadari. Yuk intip.

Nama Pancoran diambil dari bahasa Madura yang berarti pancuran. Namun, nama dusun ini tetap Pancoran. Air dari Sumber Air Pancoran, cukup jernih. Bahkan, banyak warga yang mengosumsinya langsung.

“Karena air yang mengalir memang benar-benar dari dalam tanah. Air tersebut kemudian memancar dan oleh masyarakat setempat dibuatkan pipa dari bambu, sehingga bentuknya seperti pancuran,” ujar Kepala Dusun Arisan, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kamari.

Untuk menuju lokasi, pengunjung harus menuruni tanah berundak. Tampak sumber mata air memancar dari sela-sela akar pohon beringin besar. Air lantas mengalir melalui bambu dan pipa menuju sungai.

“Suasana sumber mata air yang sejuk dan indah membuatnya dahulu dipercaya sebagai tempat mandi para bidadari. Makanya, ada juga kepercayaan bila membasuh muka di sumber mata air ini, wajahnya bisa bersinar bak bidadari. Semacam bisa membuka aura,” kata Kamari.

Ada sekitar empat pancuran di lokasi pemandian. Namun, menurut Kamari, pancuran yang tengah merupakan pancuran tertua. Kemudian muncul sumber-sumber lain di sisi kanan kirinya. “Oleh warga kemudian diberi nama laki-laki dan perempuan. Perempuan yang ada di utara, sementara laki-laki yang di tengah dengan pancoran bambu,” katanya.

Kamari menduga karena banyaknya pancuran air tersebutlah, membuat daerah ini disebut Dusun Pancoran. “Memang dulu sumber mata air tersebut menjadi jujukan para warga dari daerah lain untuk mengambil air bersih. Saking terkenalnya mungkin, sehingga nama dusunnya pun disebut Dusun Pancoran,” ungkapnya. (gus/rud)

 

 

Menjadi Sumber Mata Air Bersih

SUMBER Mata Air Pancoran menjadi primadona bagi sejumlah masyarakat. Bukan hanya karena keindahan dan kesejukannya, namun juga karena kualitas airnya yang jernih. Meski berdiri di tepi sungai, dasar sungainya masih tampak.

Sesepuh Dusun Pancoran, Tabri, 76, mengatakan, sejak dirinya berada di Dusun Pancoran pada 1955, telah melihat banyak orang yang rela antre untuk mendapat air dari sumber tersebut. “Dulu sampai antre panjang. Maklum dulu belum ada jaringan PDAM seperti sekarang. Jadi, cari air bersih itu masih sulit, sehingga warga dari Malasan pun ambil airnya ya ke Sumber Mata Air Pancoran itu,” katanya.

SEJUK: Suasana di Sumber Mata Air Pancoran, Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, begitu sejuk.
SEJUK: Suasana di Sumber Mata Air Pancoran, Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, begitu sejuk.

Tabri bercerita, masyarakat turun membawa pleteng (timba seng). Sesampai di lokasi, mereka rela masih harus antre untuk dapat mengambil air dari sumber mata air. Air yang sudah tertampung dalam timba lantas dipikul kembali ke rumah.

“Orang dulu masih jarang yang punya sepeda, jadi mereka membawa airnya dipikul hingga ke rumahnya. Jadi tidak heran, bila ada yang menyerobot pasti bakal marah. Tidak jarang, bahkan ada yang memang membawa celurit. Salah sedikit saja, bahkan bisa timbul carok (bertengkar),” kata Tabri.

Seiring menyebarnya saluran air bersih, kini sudah tidak banyak warga yang mengandalkan sumber mata air tersebut untuk keperluan rumah tangga. Namun, menurut Tabri, sumber mata air tersebut tetap bermanfaat bagi pertanian sekitar. Bahkan, lokasi sumber mata air Pancoran masih dianggap keramat oleh masyarakat di sana.

“Misalnya, saat musim tanam, tapi tidak turun hujan, kan akhirnya tanaman jadi cepat layu. Nah, itu masyarakat melakukan selamatan di sumber tersebut. Bawa tumpengan dan yang pasti harus ada terbangan (musik hadrah),” katanya.

Dahulu musik hadrah didatangkan dari Kiai Hasan di Dusun Banjarsawah. Iring-iringan tumpeng dan musik diarak keliling desa hingga berujung di lokasi sumber. Di sana diadakan doa bersama memohon turunnya hujan dan dilanjutkan makan tumpeng bersama.

“Tidak lama kemudian, hujan itu turun. Bahkan, pernah sumber mata air itu sempat mati selama dua tahun. Setelah diadakan terbangan, keluar lagi airnya. Ajaib,” katanya.

Tabri juga mengingatkan bagi para pengunjung untuk tetap berhati-hati dan tidak berbuat yang aneh-aneh saat berada di lokasi. Sebab, mata air masih dianggap kramat. Bahkan, sumber mata air dapat tertutup atau aliran airnya mengecil bila ada hal-hal yang dianggap tidak suci.

“Misalnya, wanita yang sedang datang bulan, dilarang mandi di sana. Mohon maaf, termasuk wanita-wanita nakal itu mandinya ada tempatnya sendiri. Yaitu di ujung. Tidak boleh di titik sumber. Sebab, ini air suci, bisa mampet nanti,” kata Tabri. (gus/rud)

 

 

Pendatang Harus Meminta Izin

LEGENDA terus berkembang di masyarakat. Ada juga yang menyebutkan bila mata air mampet, butuh sesajen berupa kepala seekor kambing hitam.

Seperti disampaikan Slamet Rahayu, 48, salah satu warga Dusun Pancoran. Katanya, sumber mata air tersebut sempat mati selama bertahun-tahun.

“Kemudian saya mimpi ada seekor ular besar yang meminta kepala kambing hitam. Saya ceritakan kepada ayah waktu itu. Saya minta jangan disebarkan ke siapa-siapa. Ternyata oleh ayah diceritakan ke orang lain, sehingga ada yang melakukannya sungguhan,” katanya.

Slamet mengatakan, warga tersebut membawa kepala kambing. Lantas dikubur di dekat sumber mata air. “Tak berselang lama, terdengar seperti suara gemuruh. Saya sampai takut. Lalu air mulai menetes pelan-pelan hingga kemudian deras kembali seperti sedia kala. Aneh kan?” katanya.

 

SEJUK: Suasana di Sumber Mata Air Pancoran, Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, begitu sejuk.
SEJUK: Suasana di Sumber Mata Air Pancoran, Dusun Pancoran, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, begitu sejuk.

 

Ia juga mengatakan, saking jernihnya mata air tersebut, airnya tidak perlu dimasak untuk diminum. Bisa langsung diminum. Bahkan, ada warga yang berkunjung menderita sakit perut, bisa sembuh setelah minum air dari sumber tersebut.

Slamet mengungkapkan, bagi warga pendatang yang hendak mandi di sumber mata air, disarankan permisi dulu. Minimal izin kepada masyarakat setempat. “Kalau tidak izin, ada saja yang terjadi. Entah itu tersandung, jatuh, keseleo. Jadi jangan lupa izin, pamit,” katanya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#sumber #sumber air #bidadari #air bersih