Keberadaan suku Tengger tidak bisa dilepaskan dari hikayat Rara Anteng dan Jaka Seger. Konon, akronim nama keduanya menjadi sebutan bagi suku tersebut.
Warga suku Tengger percaya bahwa keduanya menjadi nenek moyang dari warga setempat.
Karena itu, di setiap perayaan Yadnya Kasada, selalu ditampilkan cerita mengenai pertemuan dan kehidupan Jaka Seger dan Rara Anteng.
=========================
Menurut sejumlah literasi, pada zaman dahulu, Raja Majapahit yang bernama Prabu Brawijaya memiliki putri bernama Rara Anteng.
Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman.
Ia dan para penggawanya pergi ke Pegunungan Tengger. Rara Anteng sempat bermukim di suatu desa bernama Krajan.
Ia singgah selama satu windu atau 8 tahun di desa tersebut. Setelah itu, Rara Anteng dan anak buahnya kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan.
Karena dirasa cocok untuk bermukim lebih lama, Rara Anteng memutuskan untuk menetap di penanjakan. Di penanjakan, Rara Anteng menjalani kesehariannya dengan aktivitas bercocok tanam.
Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.
Sementara itu, Kerajaan Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit.
Jaka Seger, putra seorang Brahmana memilih menghindar dari keruwetan yang ada di kerajaan dengan jalan mengasingkan diri ke sebuah desa bernama Kedawung, sembari mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo.
Di desa ini, Jaka Seger mendapatkan informasi adanya orangorang Majapahit yang menetap di penanjakan.
Jaka Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai penanjakan. Jaka Seger yang tersesat kemudian bertemu Rara Anteng.
Karena iba, Rara Anteng kemudian mengajak Joko ke kediamannya.
Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Jaka Seger oleh para pinisepuhnya. Jaka Seger membela Rara Anteng dan membantah tudingan tersebut.
Khawatir kondisi meruncing, Jaka Seger memutuskan untuk melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.
Sewindu sudah perkawinan kedua insan beda kasta itu. Namun, keduanya tak kunjung dikaruniai seorang anak. Segala upaya telah dilakukan keduanya. Termasuk bertapa selama 6 tahun. Dan setiap tahunnya berganti arah.
Akhirnya, Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo, kemudian keluar semburan cahaya yang menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Jaka Seger.
Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.
Singkat cerita, pasangan ini lantas dikaruniai 25 anak sesuai permohonan mereka. Permintaan 25 anak itu dikarenakan wilayah Tengger saat itu penduduknya sangat sedikit.
Hingga lahirlah putra terakhir yang diberi nama Raden Kusuma. sesuai janji, seharusnya Raden Kusuma segera dikorbankan ke kawah Bromo.
Hingga akhirnya, Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati.
Sementara Jaka Seger dan Rara Anteng tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. Raden Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas.
Setelah itu, Raden Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah, terdengar suara Raden Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun.
Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kasada, minta upeti hasil bumi.
Cerita lain menunjukkan saudarasaudara Raden Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini upacara itu terkenal dengan nama upacara Yadnya Kasada.
Pada upacara Kasada, dukun selalu meriwayatkan kisah Jaka Seger dan Rara Anteng.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit.
Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa), terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit.
Kerajaan Majapahit yang terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru.
Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger. (Dok Radar Bromo)
Editor : Muhammad Fahmi