Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Watu Salang, Dusun di Desa Pasinan Lekok, yang Kerap Jadi Jujukan Para Petapa

Fuad Alyzen • Sabtu, 13 April 2024 | 18:00 WIB

 

GUA: Keberadaan Watu Salang di Dusun Watu Salang, Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, memiliki seabrek potensi. Dengan keberadaan gua di wilayah setempat, menjadi daya tarik tersendiri. 
GUA: Keberadaan Watu Salang di Dusun Watu Salang, Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, memiliki seabrek potensi. Dengan keberadaan gua di wilayah setempat, menjadi daya tarik tersendiri. 

WATU Salang merupakan sebuah nama dusun di Desa Pasinan, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.

Dusun yang kini menjadi tempat Kantor Desa Pasinan, Kecamatan Lekok berdiri.

Nama dusun tersebut diambil dari sebuah watu yang artinya batu.

Letak batu tersebut, berada di sebuah ladang milik warga. Jumlahnya puluhan. Menumpuk dan melintang ke arah timur dan barat, sepanjang 400 meter.

Ukurannya besar-besar. Bentuknya menyerupai salang. Konon menyimpan kisah-kisah mistis dibaliknya.

Keberadaan puluhan batu itu dipercaya, sudah ada sejak zaman kerajaan.

Hal ini diperkuat oleh kesaksian masyarakat yang disampaikan secara turun-temurun.

“Batu itu sudah ada sejak dahulu. Kami tidak tahu sejak kapan, namun yang pasti disebut-sebut sudah ada di zaman kerajaan,” kata Pak Ri, 90, warga Desa Pasinan, Kecamatan Lekok.

Bukan tanpa alasan, masyarakat menjuluki nama dusunnya Watu Salang.

Kemunculan batu besar tersebut, dipercaya berasal dari batu kecil, yang kemudian berkembang besar sampai sekarang.

Hal ini diperkuat juga dengan kondisi lahan yang tertumpuk batu.

Di sekitarnya tidak ada gunung atau lorong sungai yang mendukung munculnya batu besar tersebut.

Di balik lokasi batu tersebut, ada dua sosok penjaga yang sampai saat ini dipercaya masyarakat. Yakni sosok harimau dan ular besar.

“Jika ada yang mengambil batu sekecil apapun di lokasi itu, konon batu tersebut akan hilang. Dan kembali ke lokasi, di mana batu itu diambil sebelumnya. Karena hal mistis itulah, tidak ada yang berani mengambilnya,” ungkap dia.

Lantaran dianggap sakral, banyak masyarakat yang menjadikannya tempat bertapa. Duduk di atas batu besar.

Berharap mendapatkan sesuatu, seperti pusaka atau semacamnya.

Tak jarang, hal tak diharapkan yang malah didapatkan.

Hal ini seperti yang dikisahkan Pak Ri. Ketika ada salah seorang temannya datang ke Watu Salang. Temannya itu, duduk di atas batu untuk bertapa.

Saat itulah, bukan benda pusaka yang didapatkannya. Melainkan sosok ular yang sangat besar.

Sontak, hal itu membuat rekannya ketakutan. Dan membuat rekannya itu, lari terbirit-birit.

Bukan hanya sekali. Karena ada orang lain, yang juga mendapati hal yang sama. Namun, bukan ular yang dijumpai.

Melainkan sosok makhluk yang menyerupai harimau.

“Sampai saat ini, banyak yang melakukan ritual di Batu Salang itu. Mereka percaya, batu tersebut sakral,” bebernya.

Pak Ri menyimpulkan, Dusun Watu Salang diambil dari Batu yang menyerupai Salang yang ada di lahan dusun setempat.

Keberadaannya dianggap sakral. Muncul dari batu kecil berkembang menjadi besar.

 

HITAM: Batu hitam yang mendominasi Watu Salang membuatnya tidak bisa ditumbuhi lumut. 
HITAM: Batu hitam yang mendominasi Watu Salang membuatnya tidak bisa ditumbuhi lumut. 

Batu Salang Bersih dari Lumut

Kondisi batu salang di Dusun Watusalang, Desa Pasinan, Kecamatan Lekok sudah tertimbun tanah.

Meski sudah beratus tahun, kondisi batu bersih dari lumut.

Ropik, 53, warga Desa Pasinan, Kecamatan Lekok mengatakan, Batu Salang tersebut, tidak bisa berlumut.

Sebab, batu yang ada, jenis batu hitam. Sejak dahulu, kondisinya sama. Berwarna hitam.

Posisinya pun, tak berubah.

Masih melintang dari barat ke timur. Kondisinya tak berubah, lantaran tidak ada warga yang memanfaatkannya.

“Hanya saja, puluhan batu ini tertimbun tumbuhan rerumputan. Dan menjadi sarang hewan, jenis serangga yang hidup di lokasi batu tersebut,” ungkapnya .

Pak Ri, 90, warga Pasinan, Kecamatan Lekok menguraikan, dari dahulu sampai sekarang kondisinya sama.

Tidak ada tumbuhan yang menempel di batu. Meski tertimpun rerumputan.

“Tidak ada tumbuhan hidup dengan cara menempel pada batu tersebut. Dari dahulu, hal tersebut tak berubah,” sambung dia.

POTENSI WISATA: Kawasan Watu Salang yang dianggap sakral. Di balik itu semua, ada potensi wisata tersembunyi. 
POTENSI WISATA: Kawasan Watu Salang yang dianggap sakral. Di balik itu semua, ada potensi wisata tersembunyi. 

Potensi Wisata Tersembunyi

Tumpukan Batu Salang meninggi hingga beberapa meter dari permukaan tanah. Viewnya, tidak kalah bagus seperti lokasi pegunungan.

Lokasi tersebut layak dijadikan tempat wisata.

Seperti yang dikatakan Ropik, 53, warga Pasinan, Kecamatan Lekok. Menurutnya, lokasi Batu Salang tersebt, layak dijadikan lokasi wiasata.

Sebab lokasinya sangat strategis digunakan untuk bersantai. “Pantas dijadikan lokasi wisata. Viewnya menawan,” ujarnya.

Misalkan batu-batu itu dijadikan tempat nongkrong dan bersantai, ukurannya yang besar bisa menampung dua orang sampai tiga orang.

Sambil duduk, bisa menikmati pemandangan sekitar. Akan memicu rasa nyaman dan menghilangkan kepenatan.

Terlebih, bila dibangunkan aliran sungai buatan.

Akan menambah pesona wisata yang eksotik di kawasan setempat. Ditunjang dengan keberadaan gua yang ada di lokasi.

Gua yang menyerupai bangunan teletubis itu, sangat menjadi penunjang obyek wisata. “Sudah menjadi perbincangan masyarakat sekitar, kalau kawasan setempat cocok untuk dijadikan wisata,” terangnya. (zen/one)

Editor : Abdul Wahid
#Bertapa #sakral #watu salang #desa pasinan #lekok #gua