SUMUR Legi merupakan salah satu sumber air yang diyakini warga memiliki banyak khasiat.
Selain untuk menyembuhkan beragam penyakit, air dari sumur tersebut, juga dipercaya bisa memudahkan segala urusan.
Lokasi Sumur Legi, terletak di Dusun Sumur Legi, Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok.
Tepatnya, berada di belakang Pondok Nurul Mustofa Lekok. Masyarakat meyakini, sumber air tersebut, sudah ada sejak zaman Majapahit.
Sumur tersebut menjadi amanah, yang hingga saat ini, tetap dijaga turun temurun.
Penamaan Sumur Legi, bukan tanpa alasan. Sumber air yang berada di sebuah sumur itu, disebut-sebut memiliki rasa yang legi atau manis.
Hal itulah, yang membuat nama Sumur Legi disematkan pada sumur setempat.
Konon, banyak yang mempercayai, kalau Sumur Legi, memiliki banyak khasiat.
Karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Tak hanya penyakit kulit. Tapi, penyakit umum lainnya.
Bahkan masyarakat juga meyakini, Sumur Legi bisa menjadi perantara, untuk memperlancar urusan duniawi.
“Banyak masyarakat yang ke sini, dengan membawa sesajen. Terlebih, saat hari Jumat legi. Karena, dipercaya, bisa menjadi perantara untuk memudahkan berbagai urusan. Ketika pasangan suami istri, tidak kunjung memiliki anak, ya mandi di sini berdua,” ujar Ropik 53, warga Desa Pasinan, Kecamatan Lekok.
Pria pemilik tiga anak ini mengkisahkan, konon munculnya Sumur Legi, bermula saat pada zaman kerajaan dahulu, ada seorang tokoh terkenal sakti, yang bernama Mbah Lomong.
Ia merupakan seorang ulama, yang berasal dari pulau Madura.
Mbah Lomong memiliki sejumlah santri. Dia bersama santrinya, menjelajahi pulau Jawa, sembari memegang tongkat kayu di tangan kanannya.
Tujuannya, untuk menyiarkan agama Islam.
Sesampainya di Desa Tambak Lekok, salah satu santri Mbah Lomong kecapekan, lalu meminta air.
Mendengar salah satu santri kecapekan, santri lainnya juga meminta air untuk diminum.
Mbah Lomong kemudian berdoa. Lalu, menancapkan tongkat kayunya ke tanah, lokasi yang saat ini dinamakan Sumur Legi.
Dari tancapan tongkat Mbah Lomong, keluar air. Air tersebut, menggenang di lokasi tersebut.
Santri yang kehausan itu, langsung meminumnya. Rasanya menyegarkan. Dan seperti ada manis-manisnya.
Sampai saat ini, debit air pada genangan tersebut tak kunjung surut.
Meski sudah diambil untuk minum dan dibuat mandi selama beratus-ratus tahun, debit air tak berubah. Karenanya masyarakat menganggapnya sakral.
Dianggap sakral, masyarakat menjadwalkan ritual.
Dengan menyiapkan sesajen, tumpeng dan lainnya, pada setiap malam Jumat Legi. Masyarakat berbondong-bondong untuk keberkahan.
Malam Jumat legi, kondisi di lokasi tersebut sangat ramai. Di sekitarnya, banyak butiran bunga. Bahkan, disiapkan tempat untuk penempatan bunga dan sesajen.
Sebab sumur tersebut dipercaya membawa keuntungan bagi pelakunya.
Seperti sepasang suami istri yang tak kunjung memiliki keturunan.
Mandi air tersebut, membuat istrinya langsung subur.
Mbah Lomong Dimakamkan di Dekat Sumur Legi
Setelah munculnya Sumur Legi, Mbah Lomong mengakhiri perjalanannya.
Bersama santrinya, ia memilih menetap di wilayah Kecamatan Lekok, untuk menyiarkan agama Islam.
Hal itu ditandai, dengan makam Mbah Lomong yang dikramatkan, di pemakaman Klompak, Desa Tambak Lekok.
Dari lokasi Sumur Legi, jaraknya sekitar 400 meter. ujar
Pak Ri 90, tokoh desa menyebut, setelah melewati banyak wilayah yang dijelajahinya, Mbah Lomong memilih Kecamatan Lekok, sebagai wilayah untuk menyiarkan agama Islam.
Sebab, pada waktu itu, masyarakat Kecamatan Lekok masih beragama non Islam.
Mbah Lomong mendirikan pedepokan. Selain berdakwah, ia juga merekrut santri untuk dibekali ajaran Islam.
Dengan kelihayannya mendakwah, Mbah Lomong mampu menarik perhatian masyarakat untuk masuk Islam.
Tak hanya itu, Mbah Lomong juga melindungi masyarakat. Hal itu mempermudahnya untuk menarik perhatian warga.
“Sampai meninggal, Mbah Lomong di Kecamatan Lekok. Ya di sekitar sini,” ujar warga Desa Pasinan, Lekok ini.
Kedalaman Sumur Legi Belum Diketahui
Kondisi Sumur Legi, kini banyak mengalami perubahan. Dibandingkan dulu, kondisinya sangat menyeramkan.
Bahkan, hal-hal aneh kerap muncul ketika berada di dekat Sumur Legi tersebut.
Ropik 53, warga Pasinan, Kecamatan Lekok, dahulu, kondisi Sumur Legi sangat menakutkan. Sebab di sekitarnya sangat sepi. Minim bangunan dan manusia yang beraktivitas di sini. Hanya orang-orang yang hendak pergi ke sawah.
Apalagi, lokasi di sekitarnya, dipenuhi dengan rawa-rawa. Membuat suasana horror, meski saat siang hari.
“Dulu, siapa yang berani ke sini (Sumur Legi, red), semuanya takut. Sekarang berubah. Sudah banyak penerangan dan bangunan pondok,” ujarnya.
Terakhir dirinya ke Sumur Legi, pada tahun 2012. Dulu, dia rutin mengambil rumput di sekitar Sumur Legi.
“Ya, banyak yang datang untuk meminta dan berharap pulih dari kesulitan,” ujarnya.
Sekarang, meski sudah jarang, kondisinya tidak seseram dulu.
Sebab selain banyak bangunan, sudah banyak lampu penerangan. Apalagi, sumurnya sudah dibangun oleh pihak pondok.
Dulu tembok lingkaran penahan genangan sumur, ketinggiannya setara dengan air.
Jadi saat mandi pun sangat mudah mengambil air dari sumur. Kini tembok penahannya ditinggikan.
Dari permukaan air setinggi kurang lebih satu meter.
Selain air untuk diminum, air dari Sumur Legi, juga banyak dibuat bekal nelayan untuk melaut.
Air tersebut, dipercaya membawa keselamatan saat di laut. Yakni, dengan menyiramkan air ke perahu atau kapal. Pulangnya, akan membawa ikan yang banyak.
Salah satu guru di Pondok Nurul Mustofa Situ Naimah mengatakan, Sumur Legi dari dulu digunakan masyarakat untuk mandi dan lainnya.
Namun sampai saat ini, kedalamannya belum diketahui. Sebab masyarakat takut mengukur kedalaman sumur tersebut.
“Belum tahu kedalamannya berapa. Sampai sekarang belum ada yang ngukur,” ujarnya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin