GAPURA Bentar merupakan salah satu peninggalan sejarah. Lokasinya berada di sebelah barat daya candi induk.
Masih dalam satu kompleks dengan kawasan Candi Jawi yang berada di Desa Candiwates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Mungkin tak banyak yang mengetahui kisah tentang Gapura Bentar.
Namun, bangunan yang bagian atasnya sudah tak utuh itu, disebut-sebut merupakan pintu gerbang bagi warga kerajaan yang hendak menuju ke Candi Jawi.
Juru Pelihara Pasuruan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XI Jatim Sulikhin mengungkapkan, keberadaan Gapura Bentar diyakini terbangun di era Kerajaan Singasari sekitar abad ke-13.
Pembangunannya bersamaan dengan terbangunnya Candi Jawi.
Gapura tersebut, dulunya menyatu dengan pagar. Mengelilingi Candi Jawi. Sekaligus, menjadi pembatas halaman candi pada masa lalu.
Saat ini, penampakannya memang berbeda. Gapura Bentar masih ada.
Tidak demikian dengan pagarnya. Sudah lenyap. “Gapuranya tidak pernah dipugar. Bentuknya sama seperti saat ditemukan dahulu. Tidak berubah, sekaligus menjadi cagar budaya,” ungkapnya.
Gapura tersebut, memiliki panjang 16,55 meter dengan lebar 10,3 meter dan tingginya sekitar 4 meter.
Materialnya terbuat dari bata merah. Sedangkan anak tangga yang tersusun, terbuat dari batu andesit.
Konon, tak hanya Candi Jawi yang menjadi tempat sakral.
Gapura Bentar juga menjadi tempat untuk penganut spiritual melakukan ritual.
Ketika melakukan kegiatan spiritual di Candi Jawi, Gapura Bentar menjadi gerbang untuk masuk dan keluar.
Memang, perilaku tersebut berbeda jika masyarakat umum yang datang.
Mereka akan memilih untuk langsung menuju Candi Jawi.
Tanpa harus melewati Gapura Bentar. “Sama dengan candi induk, gapura ini juga tempat sakral. Terutama bagi para penganut spiritual,” beber Sulikhin.
Banyak yang percaya, gapura tersebut dijaga oleh dua sosok makhluk halus.
Mereka merupakan penunggu gapura, yang disebut-sebut merupakan pasangan suami-istri.
Karenanya, ketika ada kegiatan di Candi Jawi, senantiasa membakar dupa atau nyogoh dupo.
Seperti hajatan Padang Bulan atau yang lainnya. Hal ini untuk mencegah agar tidak sampai ada yang kesurupan.
“Para spiritualis mengaku, pernah melihat penampakan sosok penunggu gapura tersebut di malam hari. Kami sebagai juru pelihara, memang tidak pernah melihat langsung, hanya sebatas sering mendengar suara dengkuran keras dari arah gapura,” tuturnya.
Jujukan Studi Sejarah dan Spot Foto Favorit
Sama halnya dengan Candi Jawi, Gapura Bentar juga merupakan jujukan studi sejarah bagi pengunjung yang datang.
Tak hanya kalangan pelajar, tetapi juga mahasiswa hingga pemerhati budaya dan budayawan.
Mengingat keberadaan Gapura Bentar masih dalam satu kompleks dengan candi induk. Sekaligus sejarahnya, memang berkaitan.
“Kan lokasinya satu kompleks dengan candi induk. Sehingga, juga menjadi objek studi sejarah,” tukas Jumadi, juru pelihara Candi Jawi.
Tak hanya menjadi studi sejarah. Bangunan Gapura Bentar juga menjadi spot foto favorit pengunjung.
Mereka yang berfoto ria di Candi Jawi, tak mau ketinggalan untuk mengabadikan momen berfoto di Gapura Bentar.
“Kebanyakan pengunjung usai berfoto di Candi Jawi, mereka menuju Gapura Bentar untuk mengambil foto, sebelum akhirnya pulang atau melanjutkan perjalanan wisata,” sambung dia.
Tidak ada pantangan bagi pengunjung yang hendak ke Candi Jawi.
Hal itu, juga berlaku ke Gapura Bentar. Pantangan diberlakukan khusus untuk wanita atau perempuan yang sedang berhalangan.
Mereka dilarang untuk masuk. “Karena merupakan tempat suci dan sakral,” imbuhnya.
Salah satu pengunjung asal Surabaya, Dita, 22, mengaku, sudah beberapa kali ke Candi Jawi. Ia tidak sendirian. Sering kali bersama temannya.
“Kalau ke sini, selain foto-foto di candi juga ke gapuranya sekaligus. Spotnya bagus. Apalagi, ambil gambarnya dari barat dengan latar belakang Candi Jawi. Ciamik sekali,” akunya. (rizal fahmi syatori/one)
Editor : Jawanto Arifin