CANDI Gununggangsir merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih terjaga kelestariannya.
Dibangun pada era pemerintahan Raja Airlangga pada kisaran abad ke 11, bangunan untuk pemujaan keagamaan itu, kokoh berdiri hingga saat ini.
Sesuai namanya, Candi Gununggangsir berada di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji. Jaraknya, sekitar 8 kilometer dari Bangil, Ibu Kota Kabupaten Pasuruan.
Sebenarnya, candi tersebut dulunya dikenal dengan nama Keboncandi.
Namun, lantaran lokasinya yang berada di Desa Gununggangsir, maka penduduk sekitar lebih banyak menyebutnya sebagai nama Candi Gununggangsir.
Konon, Candi Gununggangsir dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Nyi Sri Gati atau Mbok Rondo Darmo.
Ia merupakan tokoh legenda, yang dipercaya memainkan peran penting dalam perkembangan desa setempat.
Dahulu, masyarakat sekitar disebut-sebut belum mengenal cara bercocok tanam.
Karena kebanyakan, mereka hidup sebagai pengembara. Makanan pokok mereka, adalah jenis rerumputan jawawut.
Hingga suatu hari, persediaan pangan warga mulai menipis.
Ketika itulah, Nyi Sri Gati mengajak para pengembara tersebut, untuk berdoa.
Harapannya, mereka bisa mengatasi masalah yang dialami. Doa itu, ternyata diijabahi.
Selang beberapa waktu kemudian, segerombolan burung sebangsa gelatik yang membawa padi-padian terbang di sekitaran mereka.
Burung-burung itu lantas menjatuhkan padi-padian. Ada yang percaya, sebagian padi-padian tersebut berubah menjadi permata hingga membuat Nyi Sri Gati menjadi kaya raya.
Sementara, sebagian padi lainnya, ditanam dan tumbuh subur.
Berangkat dari situlah, kebutuhan pangan pengembara tersebut teratasi. Dan sejak itupula, banyak yang memilih untuk menetap dan bercocok tanam.
Sebagai penghormatan terhadap Nyi Sri Gati itulah, Candi Gununggangsir akhirnya dibangun.
Candi Gunununggangsir memiliki ukuran 15x15 meter persegi. Dengan ketinggian, mencapai 15 meter.
Candi tersebut, sempat tergerus oleh zaman. Tidak sedikit dari bagian candi yang mengalami kerusakan.
Hingga kemudian, BPCB Trowulan Jatim melakukan renovasi.
Juru pelihara Candi Gununggangsir, Enong menguraikan, renovasi dilakukan sejak 2004 yang lalu.
Renovasi itu dilakukan bertahap, untuk menjaga kelestarian bangunan Candi Gununggangsir.
“Lebih dari 10 tahun lamanya, renovasi dilakukan. Batu merah yang rusak dan hilang, diganti baru,” jelasnya.
Dari tampilannya, gaya arsitektur Candi Gununggangsir seolah memadukan corak Jawa Tengah dengan Jawa Timur pada masanya.
Misalnya saja, bata merah sebagai bahan dasar yang menjadi ciri khas candi-candi di Jawa Timur.
Di sisi lain, candi itu dibangun dengan bentuk yang tambun. Sekelilingnya, hampir dipenuhi relief dan terdapat kosentris atau tempat tersuci di bagian tengah, identik dengan candi-candi di Jawa Tengah.
Berdasarkan literasi yang ada, perpaduan gaya arsitektur itu memunculkan pendapat bahwa Candi Gunung Gangsir dibangun di masa pemerintahan Mpu Sindok.
Mengingat, Mpu Sindok dikenal sebagai raja yang memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Medang dari bumi Mataram di Jawa bagian tengah ke Jawa bagian timur sekitar tahun 929 M.
Pendapat lain mengatakan candi ini baru dibangun di masa Raja Airlangga.
Yang jelas, keberadaan candi tersebut tak bisa dilepaskan dari mitologi masyarakat sekitar.
Yakni sebagai penggambaran sosok Nyi Sri Gati. Nyi Sri Gati sendiri juga memiliki julukan Mbok Rondo Dermo lantaran dirinya memang kaya raya.
Penggambaran cerita rakyat itu juga terlihat dari beberapa relif candi.
Misalnya pohon kalpataru menggambarkan tanaman Nyi Sri Gati yang berbuah batu permata.
Lalu, keberadaan relief Dewi Sri yang notabene juga dikenal sebagai dewi padi.
Jadi Jujukan Wisata dan Foto Prewed
Juru pelihara Candi Gununggangsir, Enong mengatakan, Candi Gununggangsir menjadi salah satu jujukan wisata.
Terutama, wisata edukasi dan sejarah untuk pembelajaran tentang candi setempat.
Rata-rata, kalangan pelajar yang berkunjung. Meski tak sedikit pula, kalangan umum yang datang.
“Rata-rata, memang kalangan pelajar. Tapi banyak juga, kalangan umum yang berkunjung,” sampainya.
Bukan saja dari wilayah Kabupaten Pasuruan. Banyak pula pengunjung luar kota yang berdatangan.
Mulai dari Sidoarjo, Surabaya dan daerah lainnya.
Seniman asal Gununggangsir, Kecamatan Beji, Anwar Sanusi mengungkapkan, arsitektur Candi Gununggangsir, memiliki daya tarik tersendiri.
Tak heran, banyak yang mengabadikan momen spesial dengan memanfaatkan latar belakang Candi Gununggangsir.
Seperti untuk prewedding atau momen lainnya.
“Kalau dahulu, mungkin hanya Candi Jawi di Prigen. Namun sekarang, banyak pasangan yang memanfaatkan latar belakang Candi Gununggangsir untuk acara preweding,” tandasnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin