SENTONG adalah sebuah desa yang ada di Kecamatan Krejengan.
Adanya desa ini, diyakini masyarakat setempat, tak terlepas dari sebuah kisah rakyat yang diceritakan secara turun-temurun.
Sekretaris Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Abdur Rahman menyebutkan, Desa Sentong dulunya merupakan sebuah desa yang memiliki dua kepemimpinan.
Satu wilayah diisi oleh kepala desa, sementara wilayah lainnya, diisi oleh demang.
“Seorang kepala desa atau sebutan petinggi yang diangkat oleh Pemerintah Kerajaan Hindia Belanda. Petinggi ini berkuasa di wilayah selatan dan satunya lagi seorang mantan demang (lurah dalam bahasa Jawa Kuno, Red) berkuasa di wilayah utara,” kata pria berkumis ini.
Dari dualisme kepemimpinan inilah, masyarakat menilai ada kesenjangan. Baik di bidang pelayanan masyarakat maupun ekonomi.
Sehingga, masyarakat menginginkan adanya peleburan dengan menjadikan satu kepemimpinan.
“Namun, hal itu tidaklah mudah. Pemerintahan Hindia-Belanda masih mempertimbangkan distrik kewilayahan,” ujarnya.
Masyarakat yang menginginkan penggabungan sudah tidak sabar lagi. Bahkan, sudah bosan menunggu terlalu lama.
Mereka menginginkan untuk menjadi satu pemerintahan.
Dari situlah, akhirnya sering terdengar kata Busen terro settong. Tiga kata itu, Busen dan Terro Settong diambil dari bahasa Madura.
Artinya, bosan ingin bersatu. Begitu seringnya kata kata itu di ucapakan, kemudian terdengar lebih ringkas Sen-tong.
“Nama desa diambil dari kata-kata yang terdengar diringkas oleh masyarakat saat itu. Dari bahasa Madura, Busen Terro Settong. Diringkas jadi Sentong,” jelas lelaki yang dikaruniai tiga anak tersebut.
Hingga sekitar tahun 1825 kemudian. Pemerintah Kerajaan Belanda melakukan penetapan penggabungan dualisme kepemimpinan dan kewilayahan Sentong tersebut menjadi satu.
“Kerajan Belanda menetapkan nama yang diambil dari kata Busen terro settong. Dari situ, kemudian dimudahkan pengucapannya menjadi Sentong,” kisahnya.
Untuk wilayah utara, yang telah bergabung dalam Desa Sentong, dijadikan nama wilayah.
Yakni, Dusun Demangan. Hal ini dimaksudkan untuk mengenang jasa seorang demang yang telah membabat dan membangun wilayah tersebut.
“Sejak itu, pemerintahan desa mulai berjalan. Pembangunan dan perluasan permukiman dilakukan, terutama untuk wilayah sebelah barat dan selatan yang masih hutan belantara,” ujarnya.
Sementara untuk wilayah barat, konon dulunya, pembabat alas wilayah setempat melihat seekor lembu.
Dengan perasaan gembira, lembu itu didekati untuk kemudian ditangkap. Namun, ternyata lembu tersebut kemudian berubah menjadi sebuah batu.
Dari situlah, wilayah tersebut akhirnya dinamai Selolembu.
“Selo yang artinya batu. Lembu artinya sapi. Sampai saat ini, batu tersebut masih ada. Namun, sudah tertimbun tanah. Ada di Dusun Selolembu,” jelasnya.
Pembabatan alas terus dilakukan hingga selatan desa. Hal itu, membuat takjub.
Karena mereka menemukan sebuah pohon beringin yang besar dan indah.
Di bawahnya, terdapat sebuah kubangan atau danau kecil. Dalam bahasa Madura, danau kecil itu disebut kedung.
Karena kedung itu tepat berada di bawah pohon beringin. Maka, wilayah setempat disebut Kedung Beringin.
Sayangnya, jejak pohon beringin itu tidak lagi ada. Karena pada tahun 1903, ada pembangunan irigasi besar-besaran.
Sehingga, pohon beringin tersebut akhirnya ditebang.
“Sangat disayangkan pohon beringin harus ditebang. Sehingga, kita tidak bisa menyaksikan keindahannya termasuk danau kecilnya,” ujarnya. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin