Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan, dipercaya menjadi lawatan atau tempat yang pernah dikunjungi Raja Majapahit Hayam Wuruk. Hal itu ditandai dengan temuan situs budaya di wilayah setempat.
SITUS budaya yang dimaksud, berupa batu relief candi yang dipercaya peninggalan Majapahit era Hayam Wuruk.
Konon, Hayam Wuruk berkunjung ke desa yang berjarak sekitar 5,4 kilometer dari Kota Kraksaan itu sekitar 1359 Masehi.
Dari sejumlah sumber yang didapat, lawatan Hayam Wuruk ke Desa Ketompen dilakukan sembilan tahun setelah dirinya naik takhta sebagai raja.
Ia didapuk sebagai Raja Majapahit pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi. Hayam Wuruk naik takhta menggantikan ibunya, Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani.
Sebelumnya, Hayam Wuruk berkedudukan sebagai Rajakumara atau raja muda di Jawa. Pada saat itu, Kejayaan Majapahit tidak lepas dari peran Maha Patihnya yaitu Gajah Mada.
“Dari sisa-sisa peninggalan yang ada, bisa diyakini, sisa-sisa relief dari candi yakni situs yang ada di desa kami ini (Ketompen, Red) merupakan candi kecil. Bukan seperti Candi Jabung yang memang bisa dipergunakan untuk pendarmaan atau lokasi pemujaan.
Karena kecil, tentu hanya untuk singgah atau berkunjung dari Raja Majapahit,” kata Megat, salah satu perangkat Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan.
Lokasi situs Ketompen, banyak dikenal masyarakat dengan sebutan Candi Kentrong. Hal ini dilatarbelakangi, lokasi relief dan sisa-sisa candi yang ditemukan itu berada di Dusun Kentrong, Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan.
“Bisa dikatakan, ini sudah masuk situs cagar budaya Kabupaten Probolinggo. Memang, kondisinya ya masih seperti ini. Berada di tengah tanah lapang, dikelilingi sawah,” imbuhnya.
Pada kisah Kakawin Nãgarakrêtãgama, karangan Mpu Prapanca menyebutkan, lawatan Hayam Wuruk di wilayah Probolinggo dilakukan salah satunya ke Pajarakan.
Karya sastra pada masa Majapahit itu, memberikan suatu informasi mengenai Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Salah satu isi dari Kakawin Nãgarakrêtãgama, menceritakan tentang lawatan Raja Majapahit di Pajarakan.
Baginda raja segera tiba di Pajarakan empat hari lamanya dan bermalam di sana. Di tanah lapang sebelah selatan Candi Buddha, Baginda memasang tenda.
Baca Juga: Sumber Segaran yang Airnya Dipercaya untuk Awet Muda dan Lapangkan Jodoh
Para menteri, pendeta raja dengan pemuka Arya Sujanotama, menghadap bersama-sama, seraya mempersembahkan busan dan santapan. Maka diberikan imbalan hadiah yang menyenangkan hati.
“Dari cerita yang beredar di masyarakat, candi ini merupakan lokasi yang dikunjungi raja. Raja Majapahit yang dipimpin oleh Hayam Wuruk, pada saat itu dikenal memang sering melakukan lawatan ke wilayah kekuasaannya. Tujuannya untuk mengetahui kondisi rakyat dan pemerintahannya. Termasuk wilayah timur Jawa Timur. Nah, salah satu lokasi lawatannya di sini,” jelas Megat.
Saat Jawa Pos Radar Bromo mengunjungi lokasi candi atau situs Ketompen, memang benar ada sejumlah balok batuan candi yang bermotif menyerupai relief.
Ada pula balok batu yang diyakini sebagai tangga atau tempat pijak candi saat masih ada.
“Kondisinya seperti ini. Kami ragu untuk melestarikan atau hendak mengubah lokasinya. Karena situs ini sudah masuk situs cagar budaya Pemerintah Kabupaten Probolinggo,” ujarnya. (mu/one)
Sempat Dicuri, Akhirnya Dikembalikan Lagi
Dulunya, banyak sisa bangunan candi yang tersisa di situs Ketompen tersebut. Seperti arca ataupun benda-benda kuno lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, sisa peninggalan sejarah itu banyak yang hilang.
Hanya menyisakan balok-balok batu yang dipercaya sebagai bagian dari candi. “Banyak bagian candi yang hilang dicuri. Karena sejak dulu, memang tidak pernah ada pelestarian. Serta tidak ada yang menjaga agar tidak rusak atau hilang,” ungkap Megat, salah satu perangkat Desa Ketompen, Kecamatan Pajarakan.
Sebenarnya, kata Megat, dua batu yang tersisa, juga pernah dicuri. Tapi, oleh si pencuri, batu tersebut dikembalikan lagi. Karena disebut-sebut, ada gangguan mistis yang dialami.
“Kalau tidak salah terjadi pada 2002 lalu. Batu tersebut sempat hilang. Dicuri. Tapi, akhirnya dikembalikan lagi karena ada gangguan mistis, agar si pencurinya mengembalikan pada tempatnya,” ceritanya.
Menurut Megat, masyarakat sekitar memang percaya, situs Ketompen dulunya merupakan bangunan candi yang memiliki ciri khas ular dalam bangunannya. Wilayah situs Ketompen ini dulunya juga dipercaya sebagai lokasi yang angker.
Sempat beberapa kali warga sekitar ada yang mengalami hal janggal saat melintas maupun melakukan aktivitas di lokasi. “Dulu di sini terkenal angker. Ada orang mancing ketemu ular besar sekali. Bukan ular beneran, tapi ular jadi-jadian. Sehingga kalau sudah malam, tidak ada yang berani melintas di sini,” ulasnya. (mu/one)
Editor : Ronald Fernando