PRAJURIT Siaman atau disingkat Praj. Siaman dikenal sebagai nama sebuah jalan di Kota Probolinggo. Tepatnya di sisi utara simpang empat Jalan Pahlawan. Dia adalah prajurit gagah berani asal Kota Probolinggo yang gugur saat agresi militer Belanda I.
Prajurit Siaman lahir di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo pada 1920. Orang tuanya memberi nama Siaman, gabungan dari nama mereka. Kata Siaman berasal dari nama ibunya, Siama dan huruf ‘N’ berasal dari nama depan ayahnya, Notosari.
Ia anak sulung dari 11 bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah rakyat (SR), Siaman mendaftarkan diri menjadi prajurit TNI. Dia terpanggil karena melihat situasi negara yang belum stabil. Saat mendaftar, dia memilih angkatan darat dan menempuh pendidikan di Kabupaten Tuban.
Selama pendidikan, Siaman berada di bawah komando Sersan Mayor Abdurrahman. Ia adalah prajurit termuda yang ditugaskan bergabung dengan tentara di wilayah Probolinggo untuk menghadang pasukan Belanda dalam agresi militer tahun 1947. Mereka disebar di sejumlah wilayah Probolinggo.
Prajurit Siaman bersama rekannya yang bernama Kodjin, ditugaskan di wilayah Wedusan (sekarang Jalan Prajurit Siaman). Keduanya bersembunyi di salah satu rumah warga.
Keesokan paginya, mereka berkeliling di daerah Wedusan untuk menghadang Belanda. Di tengah perjalanan, Siaman berpesan kepada sahabatnya, Kodjin, seraya memeluknya erat.
Katanya, jika kau yang lebih dahulu meninggalkan aku, akulah yang akan memberitahu keluargamu. Namun, jika aku yang meninggalkanmu lebih dahulu, kamu yang memberitahu keluargaku. Kita berjuang dan mati bersama sampai titik darah penghabisan.
Kalimat Siaman itu seolah merupakan firasat sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. Faktanya, di lapangan, jumlah prajurit TNI sangat sedikit dibandingkan jumlah pasukan Belanda saat itu.
“Karena kurangnya jumlah prajurit dan persenjataan, membuat pasukan yang dikomandoi Sersan Mayor Abdurrahman kewalahan melawan pasukan Belanda,” kata pemerhati sejarah asal Probolinggo, Edi Martono.
Dalam peperangan itu, Kodjin tertembak dari arah belakang dan meninggal. Melihat hal itu, Siaman langsung menggendong jasadnya dari lokasi tertembak. Lalu Lalu berbekal sisa peluru dalam senapan di tangan kanan dan bambu runcing di tangan kiri, ia melawan Belanda. Sambil terus melawan, dia berteriak, “Merdeka, merdeka.”
Namun, akhirnya Siaman juga tertembak oleh sniper pasukan Belanda yang menembak dari arah pabrik kecap di Jalan Pahlawan. Siaman pun langsung roboh, terjatuh di sungai yang berada di sisi barat pabrik tersebut. Saat ini, sungai itu berada di Jalan Prajurit Siaman di daerah Kecapan.
“Saat itu, Prajurit Siaman adalah prajurit terakhir yang gugur dari kubu Indonesia. Dengan tewasnya Prajurit Siaman, Kota Probolinggo berhasil jatuh ke tangan Belanda,” jelas Edi.
Pribadi Pendiam dan Suka Tirakat
Prajurit Siaman gugur dalam usia yang masih muda. Saat tertembak dalam pertempuran melawan Belanda dalam agresi militer I itu, Siaman belum menikah. Ia dikenal sebagai sosok yang suka tirakat. Menghindari makan daging atau sumber hewani yang lain.
Hanifah, 76, adik ketujuh dari Siaman menyebut, kakaknya itu sosok yang pendiam. Meski seorang tentara, selama bertugas ia tidak pernah dekat dengan perempuan.
“Kakak saya pribadi yang pendiam. Kata ayah, kakak memang tidak banyak ngomong. Cuma karena saat itu masa perang, ia jadi terjun sebagai tentara,” jelasnya.
Siaman pun suka tirakat. Karena itu, ia tidak pernah mengonsumsi daging. Saat makan, ia memilih makan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tujuannya, agar ia diberi keselamatan oleh Allah SWT.
“Kalau akhirnya gugur, itu sudah digariskan oleh Allah SWT. Saya bangga punya kakak yang gagah berani. Seorang pahlawan yang berjuang untuk Kota Probolinggo,” tutur Hanifah.
Saat kakaknya gugur, jenazahnya dibawa ke rumah duka. Saat itu, suasana Kota Probolinggo mencekam. Banyak masyarakat yang menangis karena Kota Probolinggo jatuh ke tangan Belanda.
Suasana makin mencekam. Sebab, saat itu Belanda dengan sombongnya berteriak lantang di jalan-jalan bahwa mereka akan membumihanguskan Kota Probolingo jika masih ada yang berbicara atau menangisi Siaman.
Akhirnya, masyarakat termasuk orang tuanya memilih diam. Jenazah Siaman pun langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum di selatan Masjid At Taqwa, Jalan Kyai Abdul Hamid.
Namun, rupanya Belanda tidak puas. Sehari setelah dikebumikan, makam Siaman dibongkar oleh tentara Belanda.
“Sehari setelah dimakamkan, Belanda membongkar makam kakak saya. Jenazahnya lalu dikeluarkan dan sempat diletakkan di atas pohon pisang. Kemudian difoto,” tutur Hanifah.
Setelah difoto, jenazah Siaman dimasukkan lagi oleh Belanda ke makamnya. Keluarga saat itu merasa sakit atas sikap Belanda. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Jenazah Siaman pada akhirnya tetap berada di tempat pemakaman umum itu. Baru kemudian pada tahun 1950, makanya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Probolinggo. (fahrizal firmani/hn)
Tentang Prajurit Siaman
- Lahir di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kanigaran, Kota Probolinggo pada 1920. Ibunya Siama dan bapaknya Notosari.
- Siaman anak sulung dari 11 bersaudara
- Setelah menamatkan pendidikan di sekolah rakyat (SR), Siaman mendaftar sebagai prajurit TNI AD. Dia lantas menempuh pendidikan di Kabupaten Tuban.
- Siaman gugur dalam perang saat agresi militer I tahun 1947 di Kecapan, Kota Probolinggo.
- Jenazahnya sempat dimakamkan di tempat pemakaman umum di Jalan Kyai Abdul Hamid.
- Pada 1950, makamnya dipindah ke TMP Kota Probolinggo.