Hingga kini, sebuah rumah tua masih berdiri di Jalan Slamet Riyadi 97, RT 3/RW 3, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Warga menyebutnya Rumah Perjuangan. Sebab, di zaman penjajahan, rumah itu memang dijadikan tempat berkumpul para tokoh penting untuk membahas perjuangan melawan penjajah.
RUMAH itu berdiri sekitar tahun 1800-an. Pemiliknya adalah Mbah Ilyas, warga asli Kota Pasuruan. Seorang tokoh masyarakat yang disegani. Juga dikenal sangat berani menentang penjajah.
Dari segi keluarga, Mbah Ilyas berasal dari garis keturunan keluarga ningrat di Kecamatan Kraton. Namun, dia bukan pegawai pemerintah saat itu. Dia hanyalah seorang petani tebu.
Mbah Ilyas juga dikenal sebagai sosok yang cerdas. Dia menguasai bahasa Inggris. Dia juga dengan mudah memahami strategi penjajah dalam menaklukan sebuah wilayah.
Karena itu, dia dianggap bencana oleh Belanda. Karena dengan pemahaman strategi yang dimilikinya, dia sering menggagalkan serangan Belanda.
Rumah itu sendiri dibangun sebagai rumah pribadi sebenarnya. Warga kemudian terpengaruh oleh sikap Mbah Ilyas yang antipenjajah. Mereka pun sering datang ke rumah Mbah Ilyas sebagai bentuk dukungan.
Karena makin banyak warga yang datang, pengajian pun rutin digelar. Selama pengajian, beliau selalu memahamkan pentingnya jihad melawan penjajah.
“Pengajian dulu dan sekarang berbeda. Yang dijelaskan para kiai dulu selain hukum Islam, juga berjihad,” jelas Muhammad Imron Yasin, 65, cucu Mbah Ilyas.
Sejumlah tokoh besar pun pernah datang ke sana. Seperti KH Hasyim Ashari atau Mbah Hasyim dari Jombang, KH Abdul Hamid atau Mbah Hamid, dan KH Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek dari Kediri. Mereka mengisi pengajian setiap Kamis malam Jumat di rumah tersebut.
Bahkan, Mbah Hasyim pernah menginap di rumah itu. Beliau menginap karena kemalaman pulang ke Jombang setelah memberikan pengajian mulai bakda isya sampai pukul 01.00 dini hari.
Di sisi lain, saat itu Mbah Ilyas termasuk orang berada. Rumahnya paling mewah di masanya dengan halaman luas. Dia selalu menjamu setiap orang yang bertamu, bahkan walaupun tidak dikenalnya. Karena itu, mereka yang datang bertamu merasa nyaman.
Hingga akhirnya mereka terbiasa datang. Baik sekadar bertamu atau berkumpul untuk musyawarah. Bahkan, setelah Mbah Ilyas meninggal, menantunya Mbah Yasin meneruskan.
“Saya nututi waktu rumah ini digunakan untuk membahas peperangan. Waktu itu saya masih kecil,” tutur Imron yang merupakan putra Mbah Yasin.
Karena ketokohan dan kecerdasannya, Mbah Ilyas selalu dicari tentara Belanda. Bahkan, menjelang kematiannya di usia 80 tahun, tentara Belanda masih sering mencarinya. Namun, selalu gagal.
Setelah kematian Mbah Ilyas, tentara Belanda langsung menyerbu rumah Mbah Ilyas. Pintu belakang rumahnya didobrak.
“Sampai kini masih ada sisa kerusakannya. Dan oleh orang tua saya, yaitu Mbah Yasin, tidak boleh diganti. Hanya diperbaiki kalau ada kerusakan. Saya pun berpegang teguh pada wasiat ayah dan kakek,” tuturnya. (fuad alyzen/hn)
Ikut Andil dalam Perang 10 November
SAAT pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, rumah Mbah Ilyas dijadikan tempat berkumpul untuk membahas strategi. Tempat ini jadi titik kumpul ratusan warga dari Pasuruan dan Sidoarjo yang tergabung dalam komunitas kiai.
Mereka terdiri atas santri dan warga biasa. Dalam perang itu, warga Pasuruan dan Sidoarjo mendapat tugas memperkuat garis pertahanan.
Mereka membahas strategi melawan tentara Inggris saat itu. Sebab, waktu itu tentara Inggris meminta Indonesia mengibarkan bendera putih, yang artinya menyerah.
“Sebelum berangkat ke Surabaya, warga diberi minum air putih yang sudah dibacakan doa. Ayah saya, Yasin juga ikut ke Surabaya,” jelas Muhammad Imron Yasin, 65, cucu Mbah Ilyas.
Yang selalu memimpin doa saat hendak perang adalah Kiai Haji Subadar dari Ponpes Besuk, Kecamatan Kejayan. Dia juga menancapkan sapu lidi di sejumlah titik pertahanan saat perang 10 November. Konon katanya, musuh atau sekutu tidak bisa menembus sapu lidi ini.
Bahkan, setelah merdeka pun rumah ini juga sering digunakan untuk tempat berkumpul. Misalnya saat G 30 S/PKI. Oleh kiai NU, rumah itu kerap digunakan untuk rapat menyusun strategi. (zen/hn)
Diwasiatkan untuk Kesejahteraan
SAAT ini, rumah Mbah Ilyas ditempati generasi ketiga dan keempat. Tidak sekadar jadi tempat tinggal. Sampai kini, rumah itu masih digunakan untuk tepat berkumpul warga. Pengajian pun tetap digelar di musala yang ada di barat rumah tersebut.
Yang menarik, hampir 90 persen kondisinya masih utuh dan orisinil. Hanya beberapa bagian yang direnovasi lantaran sudah rusak.
Cicit Mbah Ilyas, Noval Adi Irmawan, 39, mengatakan, hampir semuanya kondisi rumah masih asli. Termasuk desain bangunan. Hanya sedikit perbaikan di bagian dinding dan atap serta sedikit penambahan bangunan di bagian belakang.
“Temboknya mulai mengelupas. Jadi oleh keluarga temboknya dikeramik. Namun, kusen dan pintu keseluruhan masih utuh sampai sekarang,” katanya.
Rumah ini memiliki luas 11 x 12 meter persegi. Mbah Ilyas sendiri dulu yang membangunnya. Lalu, oleh Mbah Yasin ditambah sedikit bangunan di bagian belakang.
Selain itu, 90 persen barang-barang Mbah Ilyas dipertahankan di rumah itu. Di antaranya, meja dan kursi milik Mbah Ilyas, kapstok, almari kuno zaman Belanda, kusen, jendela, dan pintu yang pernah didobrak tentara Belanda.
Kini, rumah ini dijadikan tempat tinggal oleh keturunan Mbah Ilyas, generasi ketiga yakni Nurfatimah serta anaknya Nailil Maslikha. Orang-orang sekitar menyebutnya rumah Wak Ilyas atau Rumah Wak Yasin.
Muhammad Imron Yasin, 65, putra Mbah Yasin menambahkan, ayahnya berwasiat agar selalu menjaga silaturahmi dan menjadi orang yang bermanfaat.
“Beliau minta rumah ini untuk membahas kesejahteraan manusia. Karena itu, saya selalu merawat dan menjaga rumah ini,” terangnya. (fuad alyzen/hn)
Editor : Ronald Fernando