Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Batu Persegi Delapan di Desa Bulu yang Dipercaya jadi Titik Awal Babat Alas Desa oleh Hayam Wuruk

Achmad Arianto • Sabtu, 2 Desember 2023 | 14:30 WIB
DIKERAMATKAN : Kaur Umum Desa Bulu Mohammad Topan melihat batu persegi delapan di Dusun Sumber.
DIKERAMATKAN : Kaur Umum Desa Bulu Mohammad Topan melihat batu persegi delapan di Dusun Sumber.

Dalam sejumlah sumber sejarah, Kabupaten Probolinggo tercatat sebagai salah satu wilayah Kerajaan Majapahit. Banyak peninggalan dari zaman Kerajaan Majapahit tersebar mulai dari wilayah Pantura hingga pelosok gunung. Salah satunya adalah situs batu persegi delapan di Dusun Sumber, Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan.

 

SITUS batu persegi delapan berada sekitar 1 kilometer ke arah selatan Kantor Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan. Lokasinya di tengah persawahan di Dusun Sumber, Desa Bulu, Kraksaan.

Benda yang terbuat dari batu andesit ini menancap ke tanah. Posisinya tidak lurus, melainkan agak condong ke timur. Terlihat seperti sebuah patok yang saat ini lazim digunakan sebagai pembatas kepemilikan tanah. Bedanya, ukuran batu cukup besar.

DIKERAMATKAN : Kaur Umum Desa Bulu Mohammad Topan melihat batu persegi delapan di Dusun Sumber.
DIKERAMATKAN : Kaur Umum Desa Bulu Mohammad Topan melihat batu persegi delapan di Dusun Sumber.

Sekretaris Desa Bulu Rustam Efendi menjelaskan, batu persegi delapan itu sudah ada sejak dulu. Mayoritas warga percaya bahwa batu itu ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Sebagai titik awal tempat Raja Hayam Wuruk dari Majapahit melakukan babat alas, membangun permukiman.

“Batu itu hanya terlihat sekitar 10 sentimeter di atas permukaan tanah. Posisinya menancap ke dalam tanah. Berapa meter di bawah permukaan tanah, tidak ada yang tahu,” tuturnya, Kamis (30/11).

 

 

Bukan batu biasa. Batu ini tidak lepas dari catatan sejarah tentang Kerajaan Majapahit. Berdasarkan beberapa catatan sejarah, pada tahun 1359 Masehi, Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit pernah mengadakan perjalanan ke daerah timur dengan jarak tempuh cukup jauh.

Photo
Photo

Yaitu, dari Kraton Majapahit menuju ke Mandala Pamwatan (Sidoarjo), menuju ke timur masuk Pamwatan (Pasuruan). Dalam perjalanannya itulah, rombongan kemudian beristirahat dan menginap di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Setelah melepas penat, baru rombongan melanjutkan perjalanan ke Baremi (Kota Probolinggo). Melintasi hutan Banger (pusat Kota Probolinggo kini). 

 

 

Selanjutnya, perjalanan bergerak ke selatan menuju Lamajang (Lumajang) dan dilanjutkan ke Sadeng (Jember). Rute yang ditempuh kemudian kembali ke utara menuju ke Patukangan (Bondowoso) dan Pakembangan (Situbondo).

DI TENGAH SAWAH: Batu Persegi Delapan saat ini terletak di tengah sawah milik warga di Dusun Sumber, Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan.
DI TENGAH SAWAH: Batu Persegi Delapan saat ini terletak di tengah sawah milik warga di Dusun Sumber, Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan.

Rombongan lantas bergerak menuju Keta (Besuki). Dalam perjalanannya, Raja Hayam Wuruk beserta rombongan melewati Banyu Hening. Lalu ke Sempora (saat ini Tampora, Kabupaten Situbondo) dan Daleman-Kalayu (Paiton).

Raja Hayam Wuruk melanjutkan perjalanannya ke barat hingga sampai ke sebuah desa yang dulunya banyak ditumbuhi Bambu Buluh yang tertata rapi. Di sini, Hayam Wuruk singgah di pendapa, kediaman Tumenggung Arya Wuluh yang sekarang di daerah Rangkang. Arya Wuluh merupakan salah satu tokoh lokal yang cukup karismatik.

Setelah singgah, Hayam Wuruk melihat sebuah wilayah yang membuatnya tertarik mendirikan permukiman. Karenanya, ia kemudian menancapkan sebuah batu besar sebagai penanda dengan bagian permukaan batu berbentuk persegi panjang. Batu inilah yang kemudian menjadi penanda wilayah Desa Bulu.

 

 

Kemudian, Hayam Wuruk bersama rombongan membabat alas setempat. Mengubah lahan tersebut menjadi perkampungan dan tempat bercocok tanam.

“Ada beberapa bukti yang mengarah pada sejarah berdirinya Desa Bulu. Pernah diteliti oleh pemerhati sejarah. Walaupun masih perlu kajian mendalam, namun kami percaya cerita yang sudah ada sebelumnya,” tutur Efendi. (achmad arianto/hn)

KEGIATAN DESA : Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto saat menghadiri kegiatan selamatan Desa Bulu, beberapa waktu lalu.
KEGIATAN DESA : Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto saat menghadiri kegiatan selamatan Desa Bulu, beberapa waktu lalu.

Masih Dikeramatkan Warga Setempat

DESA BULU dipercaya merupakan pusat peradaban masyarakat Kecamatan Kraksaan. Masuk akal. Sebab, tempat ini menjadi salah satu permukiman rombongan Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan. Tak heran jika situs batu tersebut hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat sekitar.

Desa Bulu sendiri memiliki luas 327.400 hektare. Merupakan dataran rendah dengan ketinggian 5 meter di atas permukaan air laut. Memiliki potensi pertanian yang cukup bagus. Mulai dari tanaman padi, jagung, cabai, dan tembakau. Hasil panennya juga cukup baik, sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

Kaur Umum Desa Bulu Muhammad Topan mengatakan, masyarakat setempat masih mengeramatkan batu tersebut.

 

 

Pada acara-acara tertentu, batu itu kerap didatangi oleh warga yang hendak mengadakan acara atau kegiatan. Tujuannya, meminta izin kepada nenek moyang desa agar acara atau kegiatan yang dilaksanakan berjalan lancar tanpa hambatan hingga selesai.

“Batu persegi delapan sudah ada sejak dulu. Masyarakat desa kalau ada acara masih sering datang. Tidak lain untuk menghormati leluhur,” ujarnya.

Saat ini, batu tersebut berada di tengah area persawahan milik warga. Tidak ada perawatan khusus atau upacara khusus untuk menghormati batu tersebut.

KEGIATAN DESA : Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto saat menghadiri kegiatan selamatan Desa Bulu, beberapa waktu lalu.
KEGIATAN DESA : Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto saat menghadiri kegiatan selamatan Desa Bulu, beberapa waktu lalu.

Hanya saja saat batu terlihat tidak terawat atau kotor, perangkat desa atau warga desa setempat membersihkannya dengan sukarela. Sehingga, batu tersebut tetap aman dan tidak rusak termakan cuaca.

Sekretaris Desa Bulu Rustam Efendi menambahkan, beberapa waktu lalu pemerintah desa mengadakan kegiatan selamatan desa.

Sebanyak delapan tumpeng hasil bumi dari 7 RW dan satu dari SDN Bulu 1, diarak dari halaman Kantor Desa Bulu menuju batu persegi delapan di Dusun Sumber, Desa Bulu.

 

 

Dalam kegiatan tersebut juga digelar festival tumpeng, festival sound system, bazar UMKM, karnaval adat istiadat, tari tarian tradisional Glipang serta Ronjengan. Acara ini diikuti oleh sekitar 2.000 lebih warga.

“Kegiatan selamatan desa dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil bumi. Sekaligus doa dan harapan agar desa dijauhkan dari bencana serta musibah,” tuturnya. (achmad arianto/hn)

 

Editor : Ronald Fernando
#Batu Persegi Delapan Bulu #Desa Bulu Kecamatan Kraksaan