Sumber Dongki memiliki cerita mistis di kalangan masyarakat. Banyak yang percaya kawasan yang berada di perbatasan Desa Sidowayah, Kecamatan Beji dengan Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, tersebut menjadi tempat untuk mendapatkan pusaka. Dulu dipercaya juga dari sumber itu bisa keluar anjing jadi-jadian.
SEBENARNYA tidak ada cerita tertulis tentang sejarah Sumber Air Dongki. Namun, sumber air tersebut dipercaya sudah ada sejak zaman Belanda.
Ustad Qomarudin, 53, tokoh masyarakat Sidowayah, Kecamatan Beji, menguraikan, sumber air Dongki banyak dimanfaatkan oleh Belanda untuk pemerintahan setempat kala itu. Baik untuk mandi ataupun kebutuhan lainnya. Masyarakat pribumi yang memanfaatkan, tidak diperkenankan.
“Baru setelah Indonesia merdeka, kawasan setempat mulai dimanfaatkan warga sekitar,” ungkap Qomarudin.
Dulunya kawasan setempat tidak sekumuh seperti sekarang. Airnya relatif jernih, sehingga sangat menyegarkan. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Kawasan setempat dipercaya menyimpan banyak benda-benda keramat.
Sehingga, banyak orang kelakoan yang berburu untuk mendapatkan benda pusaka. Hanya saja, kalangan tertentu yang kelakoan di wilayah situ. Terutama, mereka yang beraliran hitam.
Maklum, benda-benda pusaka yang diincar memang untuk hal yang tidak baik. Misalnya untuk santet dan hal lainnya. “Jadi, kawasan setempat menjadi sarana untuk kelakoan warga yang ingin mendapatkan pusaka,” kisahnya.
Bukan hanya menjadi tempat “bertapa” bagi mereka yang berburu benda pusaka. Sumber Air Dongki disebutkan menjadi tempat aktivitas PKI untuk sekedar berdiskusi hingga kegiatan lainnya.
Sekretaris Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Slamet Irwanto mengakui, Sumber Dongki dapat diartikan pula pompa air. Sumber setempat dulunya memang dimanfaatkan untuk kebutuhan Belanda. Hingga kemudian, banyak dimanfaatkan untuk keperluan PJKA di Bangil atau yang kini menjadi PT Kereta Api Indonesia.
Air tersebut dialirkan ke Stasiun Bangil untuk berbagai kebutuhan. Termasuk untuk membersihkan gerbong-gerbong kereta.
Hingga beberapa tahun belakangan, pemanfaatan tersebut tidak lagi digunakan. “Banyak warga yang juga akhirnya memanfaatkan air tersebut,” timpalnya. (iwan andrik/hn)
Jadi Sarana Mandi hingga Pemancingan
SEJAK tak lagi dikuasai Belanda, Sumber Dongki banyak dimanfaatkan oleh warga. Biasanya, mereka memanfaatkan untuk mandi. Seperti yang pernah dirasakan oleh Sekretaris Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Slamet Irwanto.
Ia sendiri kerap mandi di sumber air setempat. Ketika usai bermain voli atau kegiatan lainnya, sumber air setempat menjadi jujukan warga untuk mandi dan menikmati segarnya air sumber setempat.
Menurutnya, bukan hanya Sumber Dongki yang ada di wilayah setempat. Karena selain Dongki, ada Sumber Bendo.
Sumber Dongki sendiri biasanya dimanfaatkan kaum adam untuk mandi. Sementara Sumber Bendo lebih digunakan untuk kaum hawa.
“Jadi, sumbernya ada dua. Ada Sumber Dongki dan Sumber Bendo. Untuk Sumber Dongki, merupakan sumber lanang karena dimanfaatkan untuk mandi laki-laki. Sementara Sumber Bendo adalah sumber perempuan, karena dimanfaatkan mandi kaum perempuan,” ujarnya.
Bang Totok–sapaan Slamet Irwanto–menambahkan, dulu banyak yang percaya bahwa Sumber Bendo bisa menjadi pertanda ketika adanya wabah penyakit. Hal itu bisa ditandai ketika ada anjing jadi-jadian yang keluar dari sumber setempat.
“Itu kepercayaan masyarakat dulu. Biasanya, dari sumber air setempat keluar anjing yang kemudian keliling kampung. Kalau sudah begitu, menjadi pertanda akan ada bencana atau wabah penyakit,” jelasnya.
Saat ini, pemandian setempat kurang terurus. Khususnya, Sumber Dongki. Jarang sekali yang memanfaatkan mandi. Rata-rata, anak-anak yang memanfaatkan untuk mandi.
“Malah sekarang tak jarang yang menjadikan kawasan setempat sarana pemancingan,” tuturnya. (iwan andri/hn)
Punya Potensi Wisata
SUMBER Dongki dan Sumber Bendo sebenarnya memiliki potensi wisata. Bila dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin akan menjadi jujukan warga luar daerah untuk berdatangan.
Seperti disampaikan Ustad Qomarudin, 53, tokoh masyarakat Sidowayah, Kecamatan Beji. Ia memandang, Sumber Dongki memiliki potensi untuk menjadi tempat wisata.
Hanya saja, perlu pembenahan infrastruktur. Misalnya, akses masuk menuju lokasi serta kolam-kolam perlu dibenahi.
“Kalau dari sisi potensi, memang memiliki peluang untuk menjadi tempat jujukan warga berwisata. Namun, tentunya harus mendapatkan perhatian dengan pembenahan infrastrukturnya,” beber dia.
Saat ini, Sumber Dongki memang lebih banyak dikunjungi warga lokal. Karena dimungkinkan warga luar tidak banyak yang tahu. Apalagi, infrastruktur yang ada pun belum mumpuni. “Kesannya kusam. Karena tidak ada penataan,” ulasnya.
Sekretaris Desa Sidowayah, Kecamatan Beji, Slamet Irwanto mengaku, kesulitan untuk menata kawasan setempat. Karena terbentur kewenangan. Meski tak dipungkiri, potensi wisata Sumber Dongki cukup luar biasa.
“Hal ini berkaitan dengan aset. Kawasan setempat bukan masuk aset desa. Sehingga sulit bagi kami untuk mengelola ataupun mengembangkannya,” ujar dia. (iwan andrik/hn)
Editor : Ronald Fernando