Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Waliyullah Kiai Achmad Qusyairi yang Menolak Jadi Adipati Pasuruan

Muhamad Busthomi • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 15:10 WIB

 

KH Ahmad Qusyairi
KH Ahmad Qusyairi
 

Tentang Kiai Achmad Qusyairi

 

 

Almaghfurllah K.H. Ahmad Qusyairi tumbuh sebagai anak muda yang haus akan ilmu. Sebelum menjadi ulama terkenal di tanah Jawa, ia menyelami keilmuan di banyak pesantren. Termasuk di Makkah. Dia bahkan mendapat lisensi mengajar fikih empat mazhab di Masjidilharam. Dia juga menguasai lima bahasa asing.

 

LAHIR di sebuah desa bernama Sumbergirang yang terletak di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Kiai Qusyairi mendapat fondasi agama dari ayahanda, K.H. Muhammad Shiddiq. Selepas itu, ia nyantri di beberapa pesantren. Antara lain di Langitan, Tuban; Kiyai Khozin Kajen Pati; Kiai Umar Semarang; dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Dengan waliyullah di pulau garam inilah, Kiai Qusyairi memiliki hubungan yang cukup erat. Ada kisah yang melatarbelakanginya. Tepatnya ketika memasuki bulan suci Ramadan, Syaikhona Kholil memerintahkan santrinya agar tidak tidur kala malam. Tujuannya untuk mencari Lailatul Qadar.

WALIYULLAH: KH Ahmad Qusyairi bersama menantunya, KH Abdul Hamid Pasuruan. Mereka berdua dipercaya merupakan waliyullah.
WALIYULLAH: KH Ahmad Qusyairi bersama menantunya, KH Abdul Hamid Pasuruan. Mereka berdua dipercaya merupakan waliyullah.

Seluruh santri patuh, termasuk adalah Kiai Achmad Qusyairi muda. Namun, ia salah sangka. Kiai Qusyairi muda mengira, Lailatul Qadar adalah nama orang atau benda kongkret. Malam itu, ia berkeliling pesantren. Terang saja, hasilnya nihil. Setelah lelah, ia tertidur pulas.

Memasuki dini hari, Syaikhona mengelilingi kompleks pesantren untuk mengawasi santrinya. Betapa terkejutnya Syaikhona Kholil ketika melihat seberkas cahaya pada tubuh kecil seorang santri di tengah kegelapan malam. Ia pun mendekati sosok itu.

Syaikhona Kholil lantas menandai sosok itu dengan mengikat ujung sarung santrinya. Mengingat, di zaman itu lampu penerang belum lumrah dimiliki. Selepas Subuh, Syaikhona Kholil membuat pengumuman. Semua santri dikumpulkan lalu ditanyai. ”Siapa di antara kalian yang merasa sarungnya ada tali simpul?” tanya sang guru.

Semua santri takut. Mereka hanya tertegun mendengar pertanyaan itu. Tak terkecuali Kiai Qusyairi. Ia pun tak berani menjawab. Meski menyadari ujung kain sarungnya terikat tali simpul. Ketakutan Kiai Qusyairi lebih dikarenakan merasa bersalah. Sebab, dirinya justru tertidur pulas pada malam penuh berkah itu.

Syaikhona Kholil mengulangi pertanyaannya, barulah Kiai Qusyairi memberanikan diri mengacungkan jarinya. Di luar dugaan. Kekhawatiran mendapat teguran guru sama sekali tak terjadi. Alih-alih marah, Syaikhona Kholil justru menyerukan seluruh santrinya agar belajar mengaji kepada Kiai Qusyairi muda. (Muhammad Busthomi/hn)

 

Wariskan Wasiilatul Harriyah

Setelah menikah, Kiai Qusyairi memantapkan hatinya untuk kembali belajar. Ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus berguru pada sejumlah syekh. Dalam kurun waktu tiga bulan, ia mampu menghafalkan 30 juz Alquran.

MAJELAS WASILAT: Majelis Wasilat di Ponpes Alqusyairi Rejoso yang digelar oleh Achmad Mi’yarul Ilmi, cucu Kiai Qusyairi atas petunjuk Kiai Qusyairi melalui mimpi.
MAJELAS WASILAT: Majelis Wasilat di Ponpes Alqusyairi Rejoso yang digelar oleh Achmad Mi’yarul Ilmi, cucu Kiai Qusyairi atas petunjuk Kiai Qusyairi melalui mimpi.

Namun, ketika masa kepulangannya ke tanah air tiba, Perang Dunia I berkecamuk. Angkutan pelayaran terganggu. Kiai Qusyairi pun harus tinggal di kota kelahiran Nabi SAW itu selama lima tahun. Selama di Makkah, dia juga mendapatkan lisensi mengajar fikih empat mazhab di Masjidilharam.

Kiai Qusyairi juga memiliki kemampuan menguasai berbagai bahasa. Selain tentu bahasa ibu dan bahasa Arab, ia fasih bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Jepang, dan bahasa Mandarin. Ia juga mahir mengarang syair-syair berbahasa Arab. Dengan jalan itu pula, Kiai Qusyairi melakukan dakwah.

Di antara karangan yang ditinggalkannya ialah sebuah nadham sufi yang berjumlah 312 bait. Judulnya ”Tanwir al-Hija” yang berhubungan dengan akidah dan ibadah. ”Bahkan, gurunya sendiri sewaktu di Makkah yang mensyarahi nadham-nya agar mudah dihafalkan,” kata Achmad Mi’yarul Ilmi, cucu Kiai Qusyairi yang juga pengasuh Ponpes Alqusyairi Rejoso.

Selain mengamalkan ”Dalailul Khairat”, ia juga mempunyai himpunan salawat yang dinamakannya ”al-Wasiilatul Harriyyah fish Sholawaati ’ala Khairil Bariyyah”. Bukti besarnya kecintaan Kiai Qusyairi kepada baginda Nabi Muhammad. Sebagian besar dari 80 karya merupakan karangan Syaikhona Kholil Bangkalan. Satu di antaranya adalah karangan Kiai Qusyairi sendiri, yakni salawat haji.

Gus Mi’yar (panggilan Achmad Mi’yarul Ilmi) sendiri mendapat isyarah dari Kiai Qusyairi di tahun pertamanya merintis Ponpes Alqusyairi. Kala itu, lingkungan pesantren di Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, itu cukup sederhana. Hanya ada dua gedung. ”Lalu ada isyarah dari Mbah melalui mimpi,” katanya.

Saat itu, Kiai Qusyairi memberi pesan dengan nada perintah. Gus Mi’yar disuruh menggelar majelis Wasiilatul Harriyah. ”Kalimatnya begitu jelas memerintahkan saya. Ayo nggaweyo majelis wasilat pondoke ben rame,”,” kata Gus Mi’yar.

Ia pun melakukan perintah dalam mimpi itu. Menggelar majelis rutin setiap Jumat Pahing. (Muhammad Busthomi/hn)

 

Menolak Jadi Adipati Pasuruan

Sepulangnya kembali ke tanah air dari Makkah, Kiai Qusyairi mengajar di Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan. Pengasuh pesantren itu tak lain mertuanya, K.H. Yasin. Setelah mertuanya wafat, Kiai Qusyairi melanjutkan peran sebagai pengajar dan pengurus pesantren tersebut.

Selain mengajar para santri, ia juga sering berdakwah di luar pesantren. Tidak hanya di wilayah Pasuruan. Namun, juga sampai ke Gresik, Madura, dan sejumlah daerah lainnya di Jawa Timur.

Bahkan, ada kisah Kiai Qusyairi pernah menghentikan sebuah kereta listrik. Peristiwa itu terjadi saat Kiai Qusyairi menuju Surabaya. Ketika di sebuah perlintasan kereta, kendaraan yang ditumpanginya tiba-tiba saja mogok.

Seketika itu, Kiai Qusyairi mewiridkan zikir sembari berdoa. Mustajabnya ,tiba-tiba listrik kereta itu padam. Kereta pun berhenti seketika.

Nama Kiai Qusyairi sudah dikenal banyak orang. Bahkan, banyak yang meyakininya sebagagi seorang waliyullah.

Bahkan, di zaman colonial, Kiai Qusyairi dikenal sebagai ulama yang berani. Ia kerap memantik perlawanan rakyat terhadap pemerintah penjajah. Pengaruhnya yang begitu kuat itulah yang kemudian mendasari beberapa kiai sepuh mengusulkannya untuk memegang tampuk kekuasaan.

”Beberapa kiai sepuh bermusyawarah di masjid jamik dan bermufakat untuk mengusulkan Kiai Qusyairi menjadi Adipati Pasuruan,” katanya.

Gus Mi’yar mengatakan, ada beberapa versi cerita yang berkembang setelah usulan para kiai sepuh itu. Pertama, Kiai Qusyairi lantas pindah bermukim di Glenmore Banyuwangi. Kedua, ada cerita yang menyebut kepindahan mertua Kiai Hamid ke ujung timur Pulau Jawa itu lantaran menghindari kejaran kolonial Belanda.

”Karena Kiai Qusyairi punya track record yang mengancam pemerintah kolonial. Sebelumnya sudah sering memantik perlawanan rakyat. Sehingga, kalau dijadikan Adipati rasanya akan membahayakan posisi kolonial,” kata Gus Mi’yar.

Tetapi, Gus Mi’yar sendiri mengatakan, Kiai Qusyairi memang memiliki prinsip untuk tak menduduki kursi kekuasaan. Ia hanya ingin menjadi orang biasa yang bersyiar Islam.

Selama menetap di Banyuwangi, tantangan Kiai Qusyairi lebih berat. Sebab, umumnya masyarakat di daerah tersebut berwatak keras. Bahkan, mereka juga bersikap permisif terhadap maksiat dan kejahatan.

Namun, dengan ketabahan dan kesabarannya berdakwah, lambat laun masyarakat mulai berubah. Banyak di antara mereka yang memegang teguh nilai-nilai Islam serta mencintai ulama. (muhammad busthomi/hn)

Editor : Ronald Fernando
#kh ahmad qusyairi