Di Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, ada salah satu lingkungan yang dinamakan Watu Kucing. Konon, nama tersebut dipakai lantaran adanya kucing yang berubah menjadi batu.
WATU Kucing atau batu berbentuk kucing tersebut memang tidak ada lagi wujudnya. Namun, warga percaya akan jejak Watu Kucing itu sendiri. Bongkahan batu besar di salah satu rumah warga, dipercaya menjadi bagian dari Watu Kucing tersebut.
Kisah Watu Kucing ini ada di era kerajaan Majapahit. Menurut H. Samsuri, 80, sesepuh Dusun Badong, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, saat masa kerajaan Majapahit, Raden Patah yang merupakan pendiri Kerajaan Demak, sempat singgah ke wilayah Badong.
Ia lantas mengadakan selamatan karena hendak pergi ke Banyuwangi. Layaknya selamatan, ada sajian tumpeng yang nantinya akan digunakan untuk makan bersama.
Hidangan tumpeng berukuran besar itu pun sudah disiapkan. Selamatan tengah dilakukan. Tinggal dimakan. Namun, mendadak ada musuh yang datang menyerbu.
"Mereka yang hadir untuk selamatan, semburat. Akhirnya, tumpeng yang disiapkan tidak sempat dimakan," cerita Haji Samsuri.
Saat tumpeng tergeletak itulah, datang seekor kucing yang memakannya. Usai makan tumpeng tersebut, kucing itu pun lompat dan lari. Namun tiba-tiba, kucing itu berubah menjadi batu.
Ternyata, tidak hanya kucing yang berubah menjadi batu. Tumpengnya pun turut menjadi batu. Bahkan, tumpeng yang menjadi batu itu disebut Haji Samsuri masih ada sampai saat ini.
Haji Samsuri meyakini, Watu Kucing dulunya ada di wilayah Badong, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang. Namun, seiring perkembangan zaman, batu itu pun akhirnya menghilang.
Jejak dari Watu Kucing itu, hampir tidak tersisa. Namun, ada batu yang disebut merupakan bekas tumpeng yang masih ada sampai sekarang.
Batu tersebut kini dijadikannya sebagai bagian dari fondasi rumahnya. Posisinya berada di belakang musala.
Menurutnya, batu tersebut dulunya berukuran besar. Bahkan, sulit untuk dipindah ataupun dipecah. Sehingga, ia pun gunakan sebagai bagian fondasi. Namun, kini tersisa sedikit, imbas terdampak urukan tanah.
"Dulu kawasan di sini cukup dalam. Batu yang kami percaya sebagai Batu Tumpeng sangat besar. Tapi, karena diuruk, akhirnya tersisa sedikit. Dari situlah, kami gunakan sebagai bagian fondasi rumah di belakang musala," timpal dia.
Haji Samsuri meyakinkan nama Watu Kucing lebih dipakai ketimbang nama Watu Tumpeng karena ada alasan lain. Ada makna terpendam dalam kata Watu Kucing. Hal itulah yang akhirnya dipakai sejak bertahun-tahun lamanya. Bahkan, sebelum dirinya lahir.
"Waru Kucing itu memiliki arti baik. Wanita ayu uripe tentrem. Jadi itulah alasan nama itu dipakai, ketimbang Watu Tumpeng," beber dia. (iwan andrik/hn)
Jadi Jujukan Cari Gaman Pusaka
KISAH misteri tentang Watu Tumpeng dan Watu Kucing, sudah ada sejak lama. Warga percaya, batu yang kini tersisa hanya Watu Tumpeng itu, dijaga oleh makhluk gaib.
Samsuri, tokoh masyarakat Badong, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, yang juga sesepuh desa setempat menjabarkan, dirinya memang tidak pernah melihat makhluk kasat mata yang menunggui Batu Tumpeng di belakang rumahnya itu. Namun, keluarganya ada yang pernah melihat.
"Ada sosok perempuan tua dengan rambut panjang dan hitam yang menjaga Batu Tumpeng ini. Saya memang tidak melihatnya. Tapi keluarga yang pernah sekilas melihat sosok kasat mata itu," kata dia.
Ia menambahkan, dulu sebelum dimanfaatkan sebagai bagian fondasi rumah, banyak warga yang datang. Sambil membawa dupa dan kembang, mereka datang untuk mencari gaman.
"Sebelum seperti sekarang ini, Batu Tumpeng besar ini jadi jujukan orang untuk mencari gaman. Seperti keris atau senjata pusaka lainnya," akunya.
Namun, sejak 1969, sebagian batu besar tersebut dijadikan fondasi. Apalagi, banyak dari mereka yang menyerah. Karena tidak berhasil untuk mendapatkan pusaka yang diharapkan. "Banyak yang mencari pusaka. Tapi, tidak berhasil mendapatkannya," ungkap Haji Samsuri. (iwan andrik/hn)
Coba Dibelah, Malah Picu Celaka
BUKAN tanpa alasan, Watu Tumpeng dijadikan bagian fondasi rumah atau musala oleh H. Samsuri. Karena upaya untuk memindahkan maupun membongkar, tidaklah mudah.
Ia mengaku, pernah berusaha untuk memindahkan. Bahkan, alat berat pernah didatangkannya. Namun, batu itu tidak bisa terangkat.
Selain menggunakan alat berat, batu itu kemudian dipahat agar terbelah. Maksudnya agar bisa dimanfaatkan untuk dijual.
Tapi, hal itu tidak bisa dilakukan. Karena orang yang memahat dan berusaha membelahnya, malah sakit. Bahkan akhirnya meninggal dunia. Bukan hanya satu orang. Tapi, ada tiga orang yang sakit. "Sejak itulah, tidak ada yang berani coba-coba membelahnya," tutur H. Samsuri.
Ia pun kemudian memilih untuk menguruk batu tersebut. Hingga akhirnya, menyisakan seonggok saja. Onggokan itulah yang akhirnya dijadikan bagian rumahnya. (iwan andrik/hn)
Editor : Ronald Fernando