Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Raci di Bangil yang Jadi Daratan setelah Memindah Kawasan Perairan

Iwan Andrik • Minggu, 3 September 2023 | 00:55 WIB
ZIARAH: Salah satu peziarah sedang berdoa di makam Raden Bagus Cilik.
ZIARAH: Salah satu peziarah sedang berdoa di makam Raden Bagus Cilik.

DESA Raci merupakan salah satu wilayah yang berada di ujung timur Kota Bangil, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Kawasan setempat dengan cepat berkembang. Selain karena menjadi pintu masuk kawasan PIER, juga karena menjadi pusat kantor pemerintahan.

Ada kompleks perkantoran Pasuruan di Raci. Bahkan, beberapa instansi lain, seperti Kejari Kabupaten Pasuruan dan Pengadilan Agama juga berdiri di kawasan setempat. Apalagi, ada salah satu ponpes terbesar di Kabupaten Pasuruan yakni Ponpes Dalwa. Menjadi pamor Desa Raci semakin meninggi.

Sebelum menjadi seperti sekarang, banyak cerita rakyat yang berkembang tentang Desa Raci. Konon, sebagian besar kawasan Raci dulunya bukanlah daratan. Melainkan kawasan perairan.

Seperti dikisahkan H. Maksum, tokoh masyarakat Desa Raci, Kecamatan Bangil. Lelaki 51 tahun itu mengaku, mendapatkan cerita tentang desa yang ditinggalinya turun temurun dari pendahulunya.

DIRENOVASI: Makam Raden Bagus Cilik setelah direnovasi oleh desa setempat. Beliau hidup di abad ke-14.
DIRENOVASI: Makam Raden Bagus Cilik setelah direnovasi oleh desa setempat. Beliau hidup di abad ke-14.

Nama Raci sendiri adalah akronim dari salah satu pembabat alasnya dulu yakni Mbah Raden Bagus Cilik. Sosok Raden Bagus Cilik merupakan musyafir dari Madura. Ia datang atas perintah gurunya untuk membuat Raci yang dulunya berupa perairan, diubah menjadi daratan.

“Menurut cerita turun temurun, beliau hidup di abad ke-14,” ungkap Maksum.

Raden Bagus Cilik merupakan seorang yang sakti. Saat datang ke Raci, ia bertemu dengan Mbah Mursyadah, yang tak kalah saktinya. Kepada Mbah Mursyadah, Raden Bagus Cilik menyampaikan maksudnya. Yakni, membuat daratan di kawasan Raci. Dan Mbah Mursyadah memahami.

“Sejak itulah, keduanya berusaha keras untuk menggeser perairan ke utara. Di mana, kawasan utara akhirnya menjadi tambak. Sementara di area Raci saat ini, menjadi daratan dan terbentuklah Desa Raci ini,” imbuhnya.

Maksum mengakui, keduanya bukanlah sosok yang membabat Raci sepenuhnya. Karena cerita di masyarakat, ada juga sosok lain yang merupakan pembabat alas Desa Raci. Seperti Ratu Mbah Ayu.

Singkat kata, tidak semua perairan di wilayah Raci bisa diubah menjadi kawasan daratan seluruhnya. Buktinya, ada salah satu sumber menyerupai danau yang tak surut hingga sekarang. Sumber tersebut berada di sisi timur PA Bangil.

Masyarakat Raci menyebutnya Sumber Manten. Penyebutan nama Sumber Manten, bukan tanpa alasan.

SUMBER MANTEN: Sumber Manten, sebuah danau yang telah ada sejak abad ke-14. Airnya tak pernah surut. Sumber ini ada di sisi timur Pengadilan Agama Bangil.
SUMBER MANTEN: Sumber Manten, sebuah danau yang telah ada sejak abad ke-14. Airnya tak pernah surut. Sumber ini ada di sisi timur Pengadilan Agama Bangil.

Konon saat masa kerajaan dulu, ada rombongan pasukan kerajaan yang sedang mengawal pengantin. Pengantin ini adalah seorang putri raja. Sampai di lokasi, mereka kemudian berhenti sejenak. Tepat di sumber tersebut.

Mereka lantas membersihkan diri, mencuci tangan dan kaki. Ternyata, putri raja tersedot. Hal itu memicu kepanikan dari pasukan. Pencarian dilakukan siang dan malam. Namun, tidak kunjung ditemukan.

Hingga suatu hari, sosok putri tersebut ditemukan. Tapi tidak di lokasi. Melainkan, di perairan laut utara. Hal ini yang membuat masyarakat percaya bahwa Sumber Manten terhubung dengan laut utara.

“Kenapa dinamakan Sumber Manten, ya karena cerita manten yang tersedot air tersebut. Masyarakat juga percaya bahwa Sumber Manten ini nyambung dengan laut utara. Ketika laut surut, air sumber manten ikut surut. Begitu juga sebaliknya,” kisah dia.


Sumber Manten Dikenal Mistis

Sumber Manten di Desa Raci, Kecamatan Bangil, dikenal dengan hal-hal mistis. Masyarakat sekitar percaya, sumber setempat nyambung dengan laut. Bukan hanya itu, Sumber Manten juga dikait-kaitkan dengan hal gaib.

Konon, sumber setempat dulunya dijaga orang sakit. Yakni, Mbah Malik. Makamnya dulu berada di lahan yang kini dijadikan Pengadilan Agama (PA) Bangil. “Sumber tersebut tidak bisa asat (habis, Red), karena dipercaya dijaga oleh makhluk gaib,” ungkap H. Maksum, tokoh masyarakat Desa Raci, Kecamatan Bangil.

Bahkan, area tersebut dulunya dikenal angker. Banyak dilewati makhluk halus. Hawa mistis itu pun terbawa hingga sekarang. Buktinya, tidak sedikit kejadian kecelakaan yang terjadi di jalur setempat.

Pernah ada sopir bus yang mencari penumpang. Jam lima pagi, menuju PIER. Tapi, di dekat Sumber Manten, seperti melihat sosok orang berjubah. Akhirnya, sopir hilang konsentrasi dan bus pun nyungsep.

Yang terkenal yaitu cerita warga Puspo pada tahun 1999. Saat itu, warga Puspo tersebut membawa barang antik. Dia menjualnya ke Malaysia. Saat melintas, ternyata hadam dari barang antik itu hilang. Akhirnya, barang antik yang rencana dijual mahal itu pun malah tidak laku.

“Banyak cerita memang berkaitan dengan Sumber Manten. Rata-rata memang cerita mistis,” jelasnya.

Meski banyak cerita mistis, Sumber Manten sebenarnya memiliki panorama yang unik. Khususnya ketika kawasan setempat bersih. Tidak kotor. Panoramanya tampak indah.

Namun, menurut Maksum, Sumber Manten sulit dijadikan tempat wisata. Karena banyak makhluk gaib yang mengitarinya. Begitu juga untuk dijadikan tempat budi daya perikanan.

“Pernah ada yang menabur benih ikan. Disewa. Tapi, saat dijala, ikan yang didapatkan tidak seperti yang diharapkan. Hampir tidak ada ikannya,” ulasnya.


Jadi Jujukan Peziarah

Mbah Raden Bagus Cilik menjadi sosok yang dikenang oleh masyarakat Raci, Kecamatan Bangil. Maklum, ia merupakan salah satu yang dikenal sebagai pembabat alas kawasan Raci. Sebagai bentuk penghormatan itu, warga setempat lantas merenovasi makam Raden Bagus Cilik.

Makam yang berada di kawasan Raci itu, kerap menjadi jujukan warga untuk berziarah. Pengunjung yang datang pun tidak hanya dari Raci. Namun, juga dari sejumlah wilayah lain.

Terlebih ketika bulan Sura tiba. Ratusan orang berdatangan. “Mereka yang datang tidak hanya dari Bangil. Ada pula dari Madura hingga Banten dan daerah lainnya,” kata H. Maksum, tokoh masyarakat Desa Raci.

Tidak sekadar berziarah. Ada pula yang datang untuk berbagai hal. Seperti tirakat untuk mendapatkan gaman ataupun hal lainnya.

Menurut Maksum, makam Raden Bagus Cilik memang telah dibangun dengan baik. Namun, tidak demikian dengan kondisi makam Mbah Mursyadah. Bukan dibeda-bedakan. Namun, karena memang makam Mbah Mursyadah sulit untuk dibangun “megah”.

“Ada hal-hal aneh yang terjadi, ketika makan dibangun (direnovasi, Red). Memang ada yang menyebut, kalau makam tersebut tidak bisa dibangun,” sampainya.

Pernah, pembangunan makam Mbah Mursyadah dilakukan. Tapi, mendadak ambruk. Lantaran kayunya dimakan rayap. “Pernah juga dibangun, ternyata ada bagian yang terbakar. Seolah menjadi pertanda, kalau Mbah Mursyadah tidak ingin makamnya dibangun,” jelasnya. (one/hn)

Editor : Jawanto Arifin
#desa raci #sejarah desa #kecamatan bangil