SEBAGAI bupati kesembilan Probolinggo, nama Wirowijoyo mungkin kurang dikenal. Jasanya cukup besar bagi masyarakat Probolinggo. Dia yang memanfaatkan danau Ronggojalu pertama kali. Dan hingga kini, airnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kota dan Kabupaten Probolinggo.
Masa kecil Wirowijoyo belum diketahui secara pasti karena minimnya literasi yang menulis tentang dirinya. Namun, sebelum menjadi Bupati Probolinggo, Wirowijoyo adalah pegawai pemerintahan di Probolinggo.
Prestasinya moncer, sehingga ia diangkat sebagai ronggo di wilayah Kraksaan. Ronggo memiliki fungsi seperti patih dalam kerajaan. Seorang ronggo bertanggung jawab langsung pada seorang bupati.
“Tidak diketahui pasti silsilah keluarga Wirowijoyo. Namun, sebelum diangkat menjadi bupati, Wirowijoyo ini seorang ronggo di Kraksaan sekitar tahun 1830-an,” ungkap pemerhati sejarah Probolinggo, Edi Sumanto.
Selama menjadi ronggo, Wirowijoyo kerap berseberangan dengan Raden Tumenggung Panji Notonegoro, bupati saat itu yang merupakan bupati kedelapan. Wirowijoyo menilai, banyak program bupati saat itu gagal.
Buktinya, perekonomian masyarakat terpuruk. Sehingga, kejahatan merajalela saat itu. Sawah masyarakat juga kurang mendapat pasokan air. Akibatnya, mereka sering gagal panen.
Tidak tahan dengan penderitaan masyarakat, Wirowijoyo berupaya menyelesaikan masalah ini. Dia membentuk tim untuk mendeteksi kriminalitas. Dan hasilnya, banyak bandit dan pencuri yang dilucuti.
Ia juga dikenal ahli dalam irigasi. Dengan keahliannya, dia lantas membuat saluran air untuk mengairi pertanian dengan teknik baru. Dalam waktu singkat, hasil panen meningkat pesat. Perekonomian masyarakat pun kembali pulih.
“Saat masa perselisihan ini, rupanya Wirowijoyo bisa menyelesaikan masalah. Sehingga, perselisihan keduanya semakin meruncing. Dia bisa merebut hati masyarakat,” terang Edi.
Rupanya, perselisihan Wirowijo dan Notonegoro didengar oleh Belanda. Karena prestasinya yang bisa memulihkan perekonomian rakyat, Wirowijoyo diangkat menjadi bupati. Ia dilantik pada 1837 di pendapa alun-alun.
“Rakyat tidak ada yang suka pada Notonegoro karena banyak masalah yang muncul selama pemerintahannya. Sehingga, Notonegoro diganti oleh Wirowijoyo. Dan pergantian itu, didukung oleh masyarakat,” tuturnya.
Dipecat Tidak Hormat karena Banjir
Di awal pemerintahan Wirowijoyo, keamanan dan perekonomian masyarakat Probolinggo terjamin. Tim bentukannya bisa mendeteksi kejahatan. Teknik pengairan terbaru berhasil dikenalkan ke seluruh wilayah Probolinggo.
Pada tahun 1840, ia membuat proyek besar. Ia membangun bendungan di Desa Banjarsawah, Tegalsiwalan, dengan mengambil air dari sumber air Ronggojalu. Sebab, sumber air di sini sangat besar. Proyek ini dibiayai penuh oleh kas kabupaten.
Namun, rupanya proyek ini kurang disetujui masyarakat. Sebab, banyak pekerja yang direkrut secara paksa. Perlakuan pada pekerja juga tidak manuasiawi. Mereka diperlakukan kasar, hingga terjadi penganiyaan bagi yang membangkang.
“Pekerjanya dari warga Probolinggo sendiri. Karena upah minim dan sering dikasari, akhirnya mereka memilih mogok kerja. Sehingga, proyek bendungan ini tidak terselesaikan,” katanya.
Tidak lama setelah aksi mogok kerja, wilayah Probolinggo dilanda hujan lebat dalam durasi lama. Aliran air yang besar di sekitar proyek bendungan ini meluap dan membuat bendungan jebol sehingga menyebabkan banjir besar.
Banjir ini melanda wilayah Tegalsiwalan, Dringu, hingga Kraksaan. Banyak rumah penduduk rusak. Juga banyak warga meninggal akibat luapan banjir ini. Bahkan, banjir ini disebut sebagai banjir terbesar yang pernah terjadi di Probolinggo.
Kejadian ini dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat Probolinggo untuk menyatakan ketidaksenangannya pada Wirowijoyo. Mereka melapor pada Belanda. Belanda lantas menurunkan tim teknisnya ke lokasi.
Temuannya, penyebab banjir karena konstruksi bendungan tidak sempurna. Karena peristiwa itu, pada 1840, Wirowijoyo dipecat dengan tidak hormat. Ia dianggap bersalah dalam peristiwa banjir itu. Dia dihukum dengan diasingkan di luar Probolinggo.
Selama masa pengasingan, kemudian ada tim teknisi lain dari Belanda yang meneliti. Mereka malah menilai, bendungan ini sangat bermanfaat bagi penduduk. Akhirnya, proyek bendungan ini dilanjutkan dan pengasingan Wirowijoyo dicabut.
Untuk menghormati jasanya, sumber air besar di Desa Banjarsawah lantas dinamakan Ronggojalu. Nama ini terinsipirasi dari Wirowijoyo yang dulunya seorang ronggo. Sementara Jalu memiliki makna pemberani, seperti watak Wirowijoyo.
“Jadi sumber air besar itu belum ada namanya di zaman itu. Lalu diberi nama Ronggojalu. Artinya, ronggo yang pemberani,” tutur Edi. (fahrizal firmani/hn)
Editor : Ronald Fernando