Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

RA Djojonegoro, Bupati Probolinggo Terlama yang Juga Pendiri Masjid Agung

Ronald Fernando • Sabtu, 1 Juli 2023 | 16:10 WIB
SEPI: Kompleks pemakaman di sebelah barat Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo, tempat Bupati Kedua Probolinggo Raden Tumenggung Djojonegoro dimakamkan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Rada
SEPI: Kompleks pemakaman di sebelah barat Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo, tempat Bupati Kedua Probolinggo Raden Tumenggung Djojonegoro dimakamkan. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Rada

Namanya mungkin tidak seterkenal Kiai Djojolelono, Bupati Probolinggo pertama. Namun, Raden Tumenggung Djojonegoro memiliki peran tak kalah penting dengan Djojolelono. Dia merupakan bupati terlama. Di masanya juga, Masjid Agung Raudlatul Jannah Kota Probolinggo dibangun.

 --------------------------------------------------------------------------------------------------

DJOJONEGORO sendiri merupakan Bupati Probolinggo kedua. Melanjutkan pemerintahan Bupati Djojolelono. Ia diangkat menjadi bupati setelah Kiai Djojolelono wafat dieksekusi VOC.

Djojonegoro sendiri memerintah dua periode. Sejak tahun 1768 sampai 1808. Praktis Ia memerintah Kadipaten Probolinggo selama 40 tahun. Sehingga, menjadi bupati yang memerintah dalam waktu paling lama.

Pemerhati Sejarah, Ino Imam mengungkapkan, saat pemerintahan Kiai Djojolelono, Kadipaten Banger (Probolinggo) tidak tenteram. Terjadi adu domba oleh VOC yang ingin menguasai tanah Tengger. Sementara warga Tengger saat itu tidak mau menjadi bagian dari Kadipaten Banger.

VOC dengan licik menghasut Kiai Djojolelono untuk berunding dengan Bupati Tengger Mbah Meru. Dalam perundingan itu, Mbah Meru terbunuh oleh Kiai Djojolelono.

Setelah peristiwa berdarah itu, Kiai Djojolelono diburu VOC. Dalam pelariannya, Kiai Djojolelono akhirnya tertangkap dan dieksekusi oleh VOC.

"Setelah eksekusi Kiai Djojolelono, VOC mengangkat Raden Djojonegoro menjadi bupati. Dia dari kasepuhan Surabaya. Nama kecilnya Ki Ageng Brondong," ungkap Ino.

Pada masa pemerintahan Djojonegoro, nama Banger diubah menjadi Probolinggo. Selama ia memerintah, Probolinggo pun menjadi tenteram dan makmur. Kesenjangan ekonomi pribumi dengan VOC tidak terlalu jauh.

Pembangunan pun berjalan pesat. Dua tahun usai menjabat, ia mendirikan Masjid Agung Raudlatul Jannah. Tepatnya pada tahun 1770.

Pembangunan itu disambut suka cita masyarakat kala itu. Sebab, memang belum ada masjid besar di Probolinggo. Pada akhirnya, masjid itu digunakan sebagai jujukan masyarakat Kota Probolinggo beribadah sampai sekarang.

Djojonegoro sendiri dikenal sakti. Karena kesaktiannya, dia mendapat julukan Kanjeng Djimat. Keahliannya dalam memimpin Probolinggo membuat ia menjadi bupati terlama.

"Tidak hanya dikenal adil dan pandai dalam memimpin. Djojonegoro seorang tokoh agama. Karena itu, ia membangun Masjid Agung," sebut Ino.

Semasa hidupnya, dia menikah tiga perempuan dan dianugerahi 22 anak. Ketiga istrinya yaitu Raden Ajeng Rukminah, Raden Ajeng Wangsangsri, dan Raden Ayu Rame. (fahrizal firmani/hn)

 

Banyak Yang Datang untuk Bertawasul

 

SEBAGAI tokoh agama sekaligus pendiri Masjid Agung Raudlatul Jannah, Raden Tumenggung Djojonegoro dimakamkan di sisi barat masjid saat wafat. Dulunya, makam ini tidak pernah sepi didatangi masyarakat yang ingin berziarah.

TOKOH: Makam Bupati Kedua Probolinggo Raden Tumenggung Djojonegoro. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
TOKOH: Makam Bupati Kedua Probolinggo Raden Tumenggung Djojonegoro. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

Makam itu sendiri berada di bawah pohon beringin. Berbeda dengan makam bupati lainnya di kompleks ini yang menggunakan batu nisan kuno. Makamnya menggunakan keramik. Namun, makam ini sudah retak karena akar pohon.

Salah satu tokoh masyarakat Kota Probolinggo, Imam Soemantri menyebut, saat dia masih kecil, makam Djojonegoro ini selalu ramai didatangi warga. Warga tidak hanya datang untuk berziarah, paling banyak datang untuk bertawasul.

Mereka biasanya datang karena ada hajat yang ingin dipenuhi. Seperti ingin punya anak, jodoh, hingga lancar dalam bisnis. Mereka berzikir, hingga membaca surah Yasin di makam ini.

Namun, tidak sedikit pula yang datang untuk melakukan hal di luar nalar. Seperti penarikan batu akik atau permata. Hal ini dilakukan oleh masyarakat hingga masa sebelum kemerdekaan.

"Saya lahir tahun 1941. Menurut cerita ayah saya, makam ini dulu selalu ramai didatangi warga. Kalau penuturan ayah saya, itu terjadi sekitar tahun 1900-an. Waktu saya kecil, ada yang dating, tapi tidak banyak," kata Imam.

Pemerhati sejarah Ino Imam menambahkan, memang dulu banyak warga yang datang untuk bertawasul. Sebab, Djojonegoro dianggap orang alim dan merupakan tokoh agama. Ilmu agamanya juga luas. Dia adalah murid ulama terkenal yang merupakan Patih Bondowoso Raden Asrah.

Saat ini, memang jarang yang datang mengkhususkan diri bertawasul atau berziarah di makam Djojonegoro. Sebab, kemungkinan sekarang tidak banyak masyarakat yang mengenal Djojonegoro.

"Tentu sangat disayangkan, karena banyak yang tidak mengetahui Djojonegoro. Padahal, dia punya peran penting dalam perkembangan Probolinggo," tuturnya. (fahrizal firmani/hn)

Editor : Ronald Fernando
#masjid agung raudlatul jannah #bupati kedua probolinggo raden tumenggung djojonegoro #hikayat Bupati Kedua Probolinggo Raden Tumenggung Djojonegoro