Pusaka yang dibuat dari besi aji itu dipercaya membawa keselamatan bagi si pembawa. Sebab, pembuatannya tak sembarangan. Ada ritual khusus yang harus dilakukan oleh pembuatnya.
Abdul Majid, asal Desa Kepuh, Kecamatan Kejayan, menceritakan tuah dari pusaka itu. Dia mengaku tak sengaja membawa pusaka Penganti berbentuk pisau ke acara resmi. Saat itu, petugas melakukan pengecekan dengan metal detector. Baik orang maupun barang bawaan.
Beberapa temannya lolos dari pengecekan. Giliran tas miliknya diperiksa, metal detector berbunyi. Majid pun gugup dan pasrah. Tas yang di dalamnya berisi pusaka Penganti pun digeledah. Anehnya, pisau tak terlihat oleh petugas. Bahkan, sampai tiga kali pemeriksaan, tapi tak ditemukan juga.
"Saya saat itu berdiri saja di belakang. Memang nyata itu. Padahal, jelas ada, tapi nggak terlihat," ungkapnya.
Muhammad Jufri, 57, pandai besi yang membuat pusaka tersebut mengatakan, sudah banyak yang memakai pusaka buatannya. Ada yang berbentuk pisau, celurit, dan pedang. Meski demikian, pusaka itu tidak digunakan untuk memotong. Hanya digunakan sebagai pegangan.
"Ada juga yang berbentuk liontin dan cincin. Kalau bentuknya memang kayak sajam. Tapi, tidak digunakan untuk memotong. Karena ini pusaka," katanya.
Pembuatan pusaka itu sendiri dilakukan turun temurun sejak sekitar 200 tahun lalu. Dan Jufri merupakan generasi kelima.
Pembuatan pusaka itu tak sembarangan. Dalam sebulan, hanya tiga hari saja dia boleh membuat pusaka itu. Dan itu, tidak selalu berhasil. Tergantung jodoh si pemesan.
"Senin Pahing, Jumat Kliwon, dan Jumat Pon. Hanya itu waktu untuk membuat dalam sebulan. Dan itu ada ritual khusus sebelum pembuatan. Salah satunya puasa dan patigeni," terangnya.
Selain itu, ada pantangannya juga. Misalnya, saat membuat tidak boleh bernafsu, tidak berbicara, dan merapalkan salawat. Jika itu dilanggar, maka dipastikan pembuatan pusaka tidak akan jadi.
"Nggak jadi kalau dilanggar. Pasti rusak atau patah ketika ditempa, " katanya. (Mukhamad Rosyidi/hn)
Jamasan Setiap Satu Sura
Selain pembuatannya yang butuh ritual khusus, pusaka Penganti harus dicuci setahun sekali. Yaitu pada 1 Sura.
Karena itu, para pemegang pusaka Penganti dipastikan berkumpul di rumah Muhammad Jufri, 57, pada 1 Sura untuk menyuci pusaka itu. Mereka bukan hanya dari Pasuruan, tapi hampir dari pelosok negeri.
"Namanya jamasan pusaka Penganti. Ini dilakukan setiap 1 Sura. Kalau yang nggak bisa dating, biasanya dipaketkan," kata Junaedi, 37, anak dari Jufri.
Junaedi sendiri merupakan penerus pandai besi Penganti. Ia selalu membantu bapaknya ketika sedang membuat pusaka. Tak heran, ia mengerti seluruh rangkaian prosesnya.
"Yang punya kan ada yang dari luar negeri. Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi. Ya, pusakanya dipaketkan ketika jamasan," tandasnya.
Menurutnya, kegiatan jamasan adalah sebuah ritual pengisian pusaka. Pusaka yang telah dipakai setahun, disucikan kembali. Ini dilakukan sejak kakek buyutnya dulu.
"Sudah dari dulu seperti itu. Dan sampai sekarang tetap terlestari," terangnya. (Mukhamad Rosyidi/hn)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertahankan Pembuatan secara Tradisional
Meski sudah berusia 200 tahun, pembuatan pusaka Penganti tetap dilakukan secara tradisional. Bukannya tak mau menggunakan teknologi modern. Namun, karena memang tak bisa dimodernisasi.
Junaedi, 37, generasi keenam pembuat pusaka Penganti mengaku, sudah pernah memodernisasi pembuatan pusaka itu. Seperti peniup tungku menggunakan kompresor dan penghalus besi menggunakan mesin penghalus atau bubut. Namun, semuanya rusak dan tak bisa digunakan.
"Sudah kami coba. Tapi rusak terus. Baru beli gitu, dicoba langsung rusak," ungkapnya.
Dan hal itu bukan hanya sekali dicoba. Melainkan sudah beberapa kali. Akhirnya, dia pun kembali menggunakan alat peninggalan leluhurnya.
Muhammad Jufri, 57, menjelaskan, orang pertama yang membuat pusaka Penganti adalah buyutnya, Mbah Latip. Dia kala itu membuat keris. Tapi, tak sampai selesai. Keris itu kemudian dilanjutkan oleh Mbah Darhim, anaknya. Baru bisa selesai dengan total waktu pembuatan sekitar 7 tahun.
"Itu satu-satunya keris yang dibuat. Sampai sekarang tidak membuat keris lagi," terangnya.
Sepeninggal Mbah Darhim, pembuatan pusaka diteruskan oleh Mbah Suhena Marham. Lalu, dilanjutkan oleh anaknya, Mbah Nalem dan turun kepadanya.
"Kalau sampai ke saya, sudah lima turunan. Ini sampai sekarang saya masih buat," ungkapnya. (Mukhamat Rosyidi/hn) Editor : Ronald Fernando