Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tujuh Sumber Mata Air Blok Jemberen, Petilasan Syekh Maulana Ishaq

Jawanto Arifin • Sabtu, 17 Juni 2023 | 18:33 WIB
JERNIH: Kades Pakuniran Ahmad Fauzi (berkumis) membasuh tangannya di sumber mata air Blok Jemberen. Lokasi ini diyakini tempat pertemuan Syekh Maulana Ishak dengan Sri Tanjung. (Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
JERNIH: Kades Pakuniran Ahmad Fauzi (berkumis) membasuh tangannya di sumber mata air Blok Jemberen. Lokasi ini diyakini tempat pertemuan Syekh Maulana Ishak dengan Sri Tanjung. (Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
SYEKH Maulana Ishaq, salah satu anggota Walisongo dipercaya pernah singgah di Kabupaten Probolinggo. Petilasannya bahkan ada di sejumlah tempat. Salah satunya di Blok Jemberen, Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pakuniran.

Petilasan di Blok Jemberen itu berbentuk makam. Entah apakah benar ada yang dimakamkan di tempat itu atau hanya sebagai tanda bahwa di tempat itu Syekh Maulana Ishaq pernah singgah.

“Yang jelas, lokasi itu diyakini para sesepuh desa sebagai petilasan Syekh Maulana Ishaq,” kata Kades Pakuniran Ahmad Fauzi.

Lokasinya berada di ujung timur Desa Pakuniran, jauh dari permukiman. Tepatnya di perbukitan yang ada di bawah Gunung Argopuro. Petilasan itu berupa makam dengan batu nisan kuno. Tampak jelas, batu nisan itu tidak dibuat di zaman ini.

“Dulu masyarakat sering menemukan guci kuno, juga barang-barang kuno lainnya di petilasan ini. pertanda bahwa di sini ada peradaban,” ujarnya.

Selain itu, ada tetenger lain yang menandakan lokasi tersebut pernah jadi tempat tinggal. Yaitu, ada dataran yang rata dan bersih di perbukitan itu.

Tepat di barat daya lokasi tersebut, sekitar 100 meter menurun, ada aliran air yang mengalir dari sejumlah titik. Air tersebut muncul dari sumber mata air. Tidak hanya satu, namun tujuh sumber mata air yang terpisah-pisah.

“Belum ada bukti jelas apakah benar ini petilasan Syekh Maulana Ishaq. Hanya saja cerita dahulu, petilasan ini berkaitan dengan petilasan yang ada di Banyuglugur, Situbondo. Yaitu, di Pantai Tampora,” lanjut Fauzi.



Adanya sumber mata air, juga memperkuat dugaan bahwa lokasi itu sengaja dipilih sebagai tempat singgah. Sebab, dekat dengan sumber air.

Menurut cerita para sesepuh desa, tujuh sumber mata air itu merupakan tempat bertemunya Syekh Maulana Ishaq dengan Sri Tanjung. Seorang perempuan yang ada pada era Majapahit dan berasal dari Banyuwangi.

“Sri Tanjung dari Banyuwangi. Sementara, Syekh Maulana Ishaq hendak ke timur. Mereka bertemu di lokasi sumber mata air ini,” katanya.

Pertemuan keduanya ini menjadi asal muasal Dusun Krajan, Desa Pakuniran, yang disebut masyarakat setempat sebagai Blok Jemberen. Diambil dari bahasa Madura yang berarti bahagia.

“Jadi saat pertemuan itu, keduanya sama-sama bahagia. Sehingga penyebutan lokasi ini sejak dulu adalah Jemberen. Artinya, orang yang bahagia. Saking bahagianya, mereka meneteskan air mata yang kemudian menjadi sumber mata air,” ujarnya.

Sumber mata air tersebut, saat ini mengaliri lahan pertanian warga. Yang unik, saat musim kemarau sumber mata air di Blok Jemberen ini malah semakin besar debitnya. Sementara umumnya, sumber mata air lain akan menyusut debitnya selama musim kemarau.

“Jadi, saat musim kemarau airnya bukan tambah kecil, malah tambah besar. Aneh kan? Airnya biasa digunakan masyarakat mengairi lahan sawah dan kadang dipergunakan untuk mandi,” ujarnya.

Selain Jemberen, sejak dulu masyarakat juga sering menyebut lokasi ini sebagai Blok Muniran. Muniran sendiri diambil dari kata munir dalam bahasa Arab artinya cahaya yang menerangi.



“Sesepuh dulu, kalau dari desa bawah sering melihat cahaya yang berasal dari lokasi sini. Itu artinya, bahwa lokasi ini ada seseorang atau pernah ditempati orang yang bisa memberikan cahaya atau jalan yang terang. Yaitu, Waliyullah Syekh Maulana Ishaq,” ujarnya.

 

Tempatnya Indah, Juga Dikeramatkan

Petilasan Syekh Maulana Ishaq maupun tujuh sumber mata air di Blok Jemberen, dulunya sangat dikeramatkan warga. Lokasi itu juga sering dijadikan warga sebagai tempat tirakat saat malam hari.

Di luar itu, Blok Jemberen memiliki alam yang cukup indah. Selain pemandangan pegunungan, desiran air dari sumber mata air yang ada memberikan suasana alam yang sangat alami. Di tambah air yang jernih bak kaca, membuat orang yang berkunjung betah dengan suasananya.

“Tempatnya keramat, tapi juga indah. Karena itu, dulu ada saja yang tirakat di sini. Cari kesaktian mungkin. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi,” kata Kades Pakuniran Ahmad Fauzi.

Sejumlah warga yang pernah tirakat di tempat itu, mengaku banyak bertemu dengan hal-hal aneh. Misalnya, bertemu ular berukuran besar yang hendak memakan orang yang tirakat. Juga diganggu hal-hal yang tak tampak saat tirakat.

“Bahkan, pada tahun 1990-an, ada orang yang tirakat di sini sampai ketiduran. Saat bangun, posisi orang ini pindah ke lokasi lain yang cukup jauh dari tempat tirakat,” kata Sukari, salah satu sesepuh di Blok Jemberen.

Photo
Photo
KRAMAT: Kades Pakuniran Ahmad Fauzi di makam yang dipercaya merupakan pertilasan Syekh Maulana Ishaq. (Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)



Tidak hanya itu, lokasi petilasan yang berada di atas bukit juga sering dijadikan tempat mencari kayu bakar. Pada saat melakukan aktivitas tersebut, hal mistis juga terjadi.

“Pernah ada orang cari kayu bakar di dekat petilasan ini malah tersesat. Katanya karena tidak minta izin. Setelah ingat dan minta izin, orang ini bisa kembali pulang,” lanjut Sukari. (agus faiz musleh/hn) Editor : Jawanto Arifin
#petilasan syekh maulana ishaq