Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Gua Betas di Kepulungan yang Jadi Tempat Persembunyian Para Pejuang

Ronald Fernando • Sabtu, 10 Juni 2023 | 15:49 WIB
HARUS MERUNDUK: Langit-langit Gua Betas yang tidak terlalu tinggi membuat warga yang masuk harus berjalan agak merunduk. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
HARUS MERUNDUK: Langit-langit Gua Betas yang tidak terlalu tinggi membuat warga yang masuk harus berjalan agak merunduk. (Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo)
Sejumlah lokasi bersejarah ditemui di Kabupaten Pasuruan. Salah satunya Gua Betas yang berada di Dusun Betas, Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol. Berlokasi di bawah areal persawahan padi, gua ini dipercaya merupakan tempat persembunyian para pejuang Pasuruan saat melawan penjajah.

Photo
Photo
TAK TERAWAT: Warga Dusun Betas Agus Muslimin (kaus hitam) dan Kasun Betas Ellyas Bayu (kaus putih) menunjukkan lokasi mulut Gua Betas. Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo

Kepala Dusun Betas Ellyas Bayu, 58, menjelaskan, gua ini sudah lama ada. Warga setempat pun sudah lama mengetahui keberadaan gua ini. Karena lokasinya berada di Dusun Betas, gua ini pun diberi nama Gua Betas.

“Gua ini sudah lama ada. Tapi, kapan tepatnya gua ini dibuat, kami tidak mengetahui pasti,” tuturnya.

Di sisi lain, tetenger atau catatan khusus tentang gua ini juga tidak ditemukan. Misalnya, kapan dibangun atau sejak kapan gua ini ada.

Kondisi gua sendiri saat ini tidak terawat. Sebab, memang gua ini bukan lokasi wisata. Sehingga, tidak ada perawatan khusus di gua itu.

Selain itu, lokasi gua agak jauh dari permukiman warga sekitar. Bahkan, akses jalan menuju gua hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki. Melewati pematang sawah. Sehingga, tidak banyak orang yang ke tempat itu.

“Gua itu sendiri berupa lorong. Di sekelilingnya tanah padat dan batu cadas. Memiliki panjang sekitar 50 sampai 70 meter,” tuturnya.

Sementara itu, bentuk gua lebih mirip bungker. Dengan atap gua yang pendek. Sehingga, gua hanya bisa dimasuki dengan jalan kaki dan merunduk.

Berdasarkan cerita orang-orang tua di Dusun Betas, gua itu dulu tempat persembunyian para pejuang dalam melawan penjajah. Baik penjajang Jepang, juga Belanda.

Di sepanjang gua, mengalir air cukup jernih. Dari mana asalnya air tersebut, juga tidak diketahui. Hanya diketahui, air itu mengalir keluar lewat pintu atau mulut gua.

Oleh warga, pada ujungnya dipasang pipa. Sehingga mengalir pancuran yang bisa dipakai untuk cuci muka. Bahkan, ada yang meminum langsung airnya dari pancuran.

“Kami menduga air yang mengalir di dalam gua dari sumber air dalam tanah. Juga kuat kemungkinan dari rembesan air sawah,” cetusnya.

Saat dirinya masih remaja, menurut Ellyas, banyak anak di dusunnya yang masuk ke gua. Bahkan, masuk hingga ke tengah gua.

Namun, sekitar 15 tahun terakhir, tidak ada lagi warna yang berani masuk ke dalam gua. Warga takut ada binatang di sana. Misalnya, ular atau kelelawar.

“Di tengah gua itu ada ruangan kecil. Di ruangan itu ada meja dan kursi dari tatanan tanah,” lanjutnya.

Meski demikian, gua itu dipertahankan keberadaannya. Walaupun tidak terawat. Sebab, memang tanah tempat gua itu berdiri milik warga setempat. Dan pemilknya membiarkan keberadaan gua itu.

“Memang gua itu dipertahankan ada. Tapi, belum ada pembahasan yang mengarah pada pengelolaan gua sebagai tempat wisata,” pungkasnya. (rizal fahmi syatori/hn)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak Banyak yang Berani Datang

Kondisi gua yang tidak terawat dan tempatnya yang jauh dari permukiman, membuat keberadaan gua ini makin terlupakan. Bahkan, nyaris hanya jadi sekadar bukti tentang cerita para pejuang di masa penjajah.

Photo
Photo
JAUH DARI PERMUKIMAN: Gua Betas jauh dari permukiman. Akses jalan menuju mulut gua yang berupa gumuk bambu dan perengan sawah, hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Foto: Rizal F Syatori/Jawa Pos Radar Bromo



Juga hanya cerita dari para orang tua di Dusun Betas yang jadi referensi tentang eksistensi gua ini. Sementara bukti lain, nyaris tidak ada.

Karena makin terlupakan, membuat gua ini tak banyak dikunjungi. Warga setempat bahkan tidak berani masuk ke Gua Betas. Selain khawatir akan keberadaan ular, juga kelelawar.

Tidak hanya itu. Gua ini juga dikenal wingit atau angker. Seringkali warga sekitar menjumpai kejadian mistis di sekitar gua.

“Dulu pernah ada orang cari burung. Saat berada di sawah, tepat di atas mulut gua malah kesurupan,” terang Agus Muslimin, 34, pemuda dusun setempat.

Kejadian mistis lainnya, pernah ada warga dari dusun tetangga lewat di sekitar gua. Dia mendadak berhenti karena mengaku melihat seekor ular berukuran besar lewat. Bentuknya tidak wajar, sehingga dianggap ular gaib.

“Ularnya berukuran besar, keluar dari gua. Lalu naik  dan melata di sawah. Tapi, tanaman padinya tidak rusak. Jalannya seperti melayang,” bebernya.

Bukan hanya satu atau dua orang. Beberapa warga pernah lewat di jalan paving, dekat dengan gua saat malam hari. Tiba-tiba mereka terdengar suara gamelan.

“Salah satu dari warga itu lantas menelusuri asal suara gamelan itu. Ternyata suaranya berasal dari dalam gua. Padahal kan tidak ada apa-apa di gua. Akhirnya semua warga cepat-cepat pergi,” tuturnya.

Semua cerita itu membuat warga sekitar tidak ada yang berani masuk ke Gua Betas. Warga juga menduga, semua cerita itu ada kaitannya dengan sejarah Gua Betas di masa lalu. Namun, apa itu tidak ada warga yang tahun.

“Bahasa umumnya, dikenal angkerlah. Tapi, warga dusun ini sudah menganggap biasa. Namanya gua kuno. Wajar kalau wingit,” katanya. (rizal fahmi syatori/hn) Editor : Ronald Fernando
#hikayat gua betas #gua betas kepulungan #desa kepulungan